Ketika 'Armada Nyamuk' Iran yang Lincah dan Cepat Jadi Momok Kuat di Selat Hormuz

Minggu, 19 April 2026 - 09:51 WIB
loading...
Ketika Armada Nyamuk...
Kapal-kapal Angkatan Laut IRGC, yang kerap disebut sebagai armada nyamuk Iran yang lincah dan cepat telah menjadi ancaman kuat di Selat Hormuz. Foto/Mehr News Agency
A A A
TEHERAN - Kapal-kapal perang Iran yang ditenggelamkan oleh serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel memenuhi pelabuhan Angkatan Laut di sepanjang pantai Teluk Persia, tetapi apa yang kadang-kadang disebut "armada nyamuk" mengintai di balik bayangan.

"Armada nyamuk" itu adalah armada kapal kecil, cepat, dan lincah Iran yang dirancang untuk mengganggu pelayaran, dan membentuk inti dari kekuatan Angkatan Laut yang dikerahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sebuah kekuatan yang terpisah dari Angkatan Laut reguler Iran.

Baca Juga: Dua Kapalnya Ditembaki di Selat Hormuz, India Panggil Dubes Iran

Kapal-kapal ini, dan terutama rudal dan drone yang dapat diluncurkan oleh Angkatan Laut Garda Revolusi dari kapal-kapal tersebut, atau dari lokasi yang disamarkan di darat, telah menjadi ancaman utama yang menghambat pelayaran melalui Selat Hormuz.

Iran telah berjanji untuk menjaga selat itu tetap tertutup sampai gencatan senjata tercapai di Lebanon. Pada hari Jumat, para pejabat senior Iran membuat pernyataan yang saling bertentangan tentang apakah gencatan senjata tersebut telah mendorong Iran untuk membuka Selat Hormuz. Pada hari Sabtu, militer Iran mengatakan bahwa jalur air tersebut telah "kembali ke keadaan semula" dan "berada di bawah manajemen dan kendali ketat angkatan bersenjata."

Menyambut pengumuman awal Iran tentang pembukaan tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan situasi Hormuz "sudah berakhir", sambil menekankan di media sosial bahwa blokade AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku sampai kesepakatan damai tercapai.

Tugas menjaga selat tetap tertutup akan menjadi tanggung jawab Angkatan Laut Garda Revolusi.

“Angkatan Laut Garda Revolusi Islam lebih mirip pasukan gerilya di laut,” kata Saeid Golkar, seorang pakar tentang Garda Revolusi dan profesor ilmu politik di Universitas Tennessee di Chattanooga, seperti dikutip dari The New York Times, Minggu (19/4/2026).

“Fokusnya adalah pada peperangan asimetris, terutama di Teluk Persia dan Selat Hormuz,” ujarnya. “Jadi, alih-alih mengandalkan kapal perang besar dan pertempuran laut klasik, mereka bergantung pada serangan cepat dan mendadak.”

Selama perang, setidaknya 20 kapal diserang, menurut Badan Maritim Internasional, sebuah badan PBB. Angkatan Laut Garda Revolusi jarang mengeklaim serangan tersebut, yang menurut para analis kemungkinan besar dilakukan oleh drone yang ditembakkan dari peluncur bergerak di darat, yang menghasilkan jejak samar, sulit dilacak.

Pada 8 April, setelah gencatan senjata selama dua minggu diumumkan, Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengatakan lebih dari 90 persen armada Angkatan Laut reguler, termasuk kapal perang utama Iran, sudah berada di dasar laut.

Diperkirakan separuh dari kapal serang cepat Angkatan Laut Garda Revolusi juga tenggelam, kata Jenderal Caine, tetapi tidak menyebutkan berapa banyak. Perkiraan jumlah keseluruhan berkisar dari ratusan hingga ribuan—sulit untuk menghitungnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
Minyak Mentah Brent...
Minyak Mentah Brent Tembus USD100 setelah Kapal Tanker Diserang di Laut Merah
PBB Murka Masjid Al-Aqsa...
PBB Murka Masjid Al-Aqsa Diserbu Menteri Israel dan 4.000 Massa Yahudi
AS Rugi Besar akibat...
AS Rugi Besar akibat Serangan Iran di Seluruh Negara Arab
Pasar Cemas Tarif Baru...
Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
Ledakan Dahsyat Runtuhkan...
Ledakan Dahsyat Runtuhkan Terowongan di India, Tewaskan 12 Pekerja
Terungkap! AS Beri Syarat...
Terungkap! AS Beri Syarat Saudi Berdamai dengan Israel untuk Lanjutkan Perjanjian Nuklir
Rekomendasi
Dukung Pendidikan Wilayah...
Dukung Pendidikan Wilayah Pesisir, PHE Gelar Pemeriksaan Mata Gratis di Kepulauan Seribu
Gempa Magnitudo 5,5...
Gempa Magnitudo 5,5 Guncang Sarmi Papua Sore Ini
Eksplorasi Menyeluruh...
Eksplorasi Menyeluruh Thailand: Keseruan Berwisata di Bangkok dan Pattaya
Berita Terkini
Wali Kota Sadiq Khan...
Wali Kota Sadiq Khan Sebut Netanyahu Pelaku Genosida dan Tidak Diterima di London
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
Minyak Mentah Brent...
Minyak Mentah Brent Tembus USD100 setelah Kapal Tanker Diserang di Laut Merah
PBB Murka Masjid Al-Aqsa...
PBB Murka Masjid Al-Aqsa Diserbu Menteri Israel dan 4.000 Massa Yahudi
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved