Trump Marahi New York Times yang Anggap Iran Menang Perang

Selasa, 14 April 2026 - 08:47 WIB
loading...
Trump Marahi New York...
Presiden AS Donald Trump marah dan kecam keras surat kabar New York Times karena editorialnya menarasikan Iran bekinerja baik atau menang perang. Foto/White House
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump marah dan mengecam keras The New York Times (NYT) karena editorialnya menarasikan Iran bekinerja baik atau menang perang. Menurut Trump, media Amerika itu telah menyebarkan “berita palsu” tentang perang AS melawan Iran dan salah menggambarkan perkembangan terkini.

Dia bersikeras bahwa Iran telah dihancurkan sepenuhnya secara militer.

Baca Juga: AS Blokade Selat Hormuz, 15 Kapal Perang hingga Jet Tempur Siluman F-35 Dekati Iran

Dalam sebuah unggahan di Truth Social pada hari Senin, Trump mengeklaim liputan surat kabar tersebut menciptakan kesan yang menyesatkan bahwa Iran berkinerja baik atau mendapatkan kemajuan.

“Bagi orang-orang yang masih membaca New York Times yang Gagal...Anda akan berpikir bahwa Iran sebenarnya menang, atau setidaknya, berkinerja cukup baik,” tulisnya.

Menolak narasi tersebut, Trump menuduh publikasi tersebut sengaja memutarbalikkan fakta dan menuntut pertanggungjawaban.

“Itu tidak benar, dan The New York Times tahu bahwa itu berita palsu,” paparnya.

“Kapan media korup ini meminta maaf atas kebohongan dan tindakan mengerikan mereka terhadap saya, pendukung saya, dan negara kita sendiri? Apakah mereka tidak punya rasa malu? Apakah mereka tidak punya rasa sopan santun?” lanjut Trump.

Pernyataan Trump muncul setelah dewan redaksi New York Times mengkritik penanganannya terhadap perang Iran, menyebutnya gegabah dan memperingatkan bahwa hal itu berisiko mendorong Washington menuju kemunduran strategis.

Editorial tersebut berpendapat bahwa Trump mengabaikan persetujuan Kongres dan dukungan sekutu dalam melancarkan serangan 28 Februari, gagal mengantisipasi kemungkinan respons Iran, dan merusak aliansi AS dan kedudukan globalnya.

Editorial itu juga menunjuk pada langkah Iran untuk membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz sebagai konsekuensi yang dapat diprediksi, sambil mengutuk retorika perang Trump sebagai hal yang merugikan otoritas moral Amerika.

Meskipun mengakui penindasan internal dan kerugian militer Iran, editorial tersebut mengatakan bahwa hal-hal tersebut tidak lebih besar daripada biaya strategis dan kemanusiaan yang lebih luas, termasuk kematian setidaknya 13 anggota militer AS.

Sementara itu, Trump mengatakan AS telah memulai blokade pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, yang mendorong Teheran untuk mengancam pelabuhan di seluruh Teluk Persia dan Teluk Oman. Sebelumnya dia telah berjanji untuk menutup Selat Hormuz sepenuhnya.

Meskipun terjadi eskalasi, Trump kemudian mengisyaratkan keterbukaan untuk berunding, mengatakan bahwa dia telah berkomunikasi dengan "pihak lain", bahkan ketika dia memperingatkan bahwa kapal perang Iran mana pun yang mendekati blokade akan dihancurkan.

Perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan pada hari Minggu, meningkatkan ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi ketika gencatan senjata dua minggu saat ini berakhir pada 22 April.

Pada saat yang sama, pasukan Israel mengintensifkan operasi di Lebanon selatan, bentrok dengan milisi Hizbullah ketika kelompok tersebut meluncurkan roket dan drone ke arah Israel utara.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
Iran Menang Banyak!...
Iran Menang Banyak! Sanksi Dicabut dan Diizinkan Ekspor Minyak
Iran dan AS Sepakati...
Iran dan AS Sepakati Peta Jalan untuk Mengakhiri Perang
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Ledakan Dahsyat Guncang...
Ledakan Dahsyat Guncang Situs LNG Qatar, 54 Orang Terluka, 18 Hilang
Perjalanan Berliku Iran...
Perjalanan Berliku Iran Tulis Sejarah di Piala Dunia 2026
Australia Beri Peringatan:...
Australia Beri Peringatan: El Nino Kali Ini Akan Jadi yang Terkuat dalam Tujuh Dekade
PM Belanda Rob Jetten...
PM Belanda Rob Jetten Minta Maaf kepada Tentara Maluku
Rekomendasi
Mengapa Anak Yatim Begitu...
Mengapa Anak Yatim Begitu Istimewa di Mata Allah? Ini Penjelasannya
Tak Punya Izin, DPRD...
Tak Punya Izin, DPRD Kota Bogor Desak Pembangunan Hotel Prima Katulampa Dihentikan
Penerbangan Umrah Dipindah...
Penerbangan Umrah Dipindah Mulai 1 Juli 2026, Terpusat di Terminal 2F Bandara Soetta
Berita Terkini
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Mundur, Krisis Politik Berlanjut
Iran Menang Banyak!...
Iran Menang Banyak! Sanksi Dicabut dan Diizinkan Ekspor Minyak
Profil Abelardo De La...
Profil Abelardo De La Espriella, Pengacara Berjam Tangan Mewah yang Jadi Presiden Baru Kolombia
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved