Inilah Product 358, Rudal Murah Iran yang Menembak Jet Tempur Siluman F-35 AS
Jum'at, 10 April 2026 - 09:09 WIB
loading...
A
A
A
Angkatan Laut AS juga berulang kali menyita rudal Produc 358 di Laut Merah saat mencegat pengiriman senjata Iran ke Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon.
Rudal tersebut pertama kali disita oleh Angkatan Laut AS pada tahun 2019. Pengiriman lebih lanjut disita pada tahun 2020 dan 2022. Pada tahun 2021, sebuah rudal 358 ditemukan di dekat pangkalan Amerika di Irak. Pada Juni 2021, sebuah rudal 358 dilaporkan menembak jatuh UAV Scan Eagle Amerika di atas Yaman.
Pada November 2023, mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengunjungi kompleks industri senjata di mana dia diperlihatkan versi 358 yang lebih besar dan lebih canggih dengan jangkauan 150 kilometer.
Pada tahun 2024, Product 358 menjadi berita karena mencegat drone Turki Aksungur di wilayah udara Suriah.
Pada Maret tahun ini, ketika AS dan Israel meluncurkan Operasi Epic Fury terhadap Iran, Defense Security Asia melaporkan bagaimana Product 358 menjadi masalah konstan bagi drone AS dan Israel, seperti MQ-9 Reaper dan Hermes-900.
“Sistem ini merupakan penyimpangan dari doktrin rudal permukaan-ke-udara tradisional karena fungsinya bukan sebagai pencegat reaktif yang menunggu isyarat radar, tetapi sebagai pemburu udara yang gigih yang mampu secara otonom mencari zona patroli yang ditentukan untuk target seperti platform MQ-9 Reaper dan Hermes-900,” tulis media pertahanan itu dalam analisisnya.
AS dilaporkan telah kehilangan lebih dari 15 drone MQ-9 Reaper dalam perang melaan Iran, dan rudal Product 358 mungkin memainkan peran penting dalam pencegatan tersebut.
Namun, terlepas dari penggunaan rudal ini secara luas oleh Iran dalam perang tersebut, Angkatan Udara AS gagal mengantisipasi bahwa rudal itu juga efektif melawan jet tempur siluman F-35.
Bahaya yang ditimbulkan rudal tersebut terhadap drone yang bergerak lambat telah diketahui setidaknya selama lima tahun; namun, para pakar keamanan terkejut dengan keberhasilan rudal tersebut, bahkan terhadap jet tempur siluman F-35.
Meskipun F-35 berhasil melakukan pendaratan darurat, Iran telah mengungkap kerentanan pesawat tempur tersebut, yang akan menelan biaya lebih dari USD2 triliun bagi pembayar pajak AS dalam biaya siklus hidupnya, menjadikannya salah satu program pengembangan senjata termahal yang pernah ada.
Biaya rudal Product 358 tidak diungkapkan secara resmi, tetapi menurut laporan EurAsian Times, Jumat (10/4/2026), harganya kurang dari USD90.000, menjadikannya "pertarungan David melawan Goliath" yang sesungguhnya.
Rudal ini kompak dan dapat diluncurkan dari truk bergerak, sehingga penggunaannya oleh aktor non-negara menjadi mudah.
Keberhasilannya melawan F-35, pesawat tempur garis depan NATO, akan bergema tidak hanya di Timur Tengah tetapi juga di Pasifik.
Rudal tersebut pertama kali disita oleh Angkatan Laut AS pada tahun 2019. Pengiriman lebih lanjut disita pada tahun 2020 dan 2022. Pada tahun 2021, sebuah rudal 358 ditemukan di dekat pangkalan Amerika di Irak. Pada Juni 2021, sebuah rudal 358 dilaporkan menembak jatuh UAV Scan Eagle Amerika di atas Yaman.
Pada November 2023, mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengunjungi kompleks industri senjata di mana dia diperlihatkan versi 358 yang lebih besar dan lebih canggih dengan jangkauan 150 kilometer.
Pada tahun 2024, Product 358 menjadi berita karena mencegat drone Turki Aksungur di wilayah udara Suriah.
Pada Maret tahun ini, ketika AS dan Israel meluncurkan Operasi Epic Fury terhadap Iran, Defense Security Asia melaporkan bagaimana Product 358 menjadi masalah konstan bagi drone AS dan Israel, seperti MQ-9 Reaper dan Hermes-900.
“Sistem ini merupakan penyimpangan dari doktrin rudal permukaan-ke-udara tradisional karena fungsinya bukan sebagai pencegat reaktif yang menunggu isyarat radar, tetapi sebagai pemburu udara yang gigih yang mampu secara otonom mencari zona patroli yang ditentukan untuk target seperti platform MQ-9 Reaper dan Hermes-900,” tulis media pertahanan itu dalam analisisnya.
AS dilaporkan telah kehilangan lebih dari 15 drone MQ-9 Reaper dalam perang melaan Iran, dan rudal Product 358 mungkin memainkan peran penting dalam pencegatan tersebut.
Namun, terlepas dari penggunaan rudal ini secara luas oleh Iran dalam perang tersebut, Angkatan Udara AS gagal mengantisipasi bahwa rudal itu juga efektif melawan jet tempur siluman F-35.
Bahaya yang ditimbulkan rudal tersebut terhadap drone yang bergerak lambat telah diketahui setidaknya selama lima tahun; namun, para pakar keamanan terkejut dengan keberhasilan rudal tersebut, bahkan terhadap jet tempur siluman F-35.
Meskipun F-35 berhasil melakukan pendaratan darurat, Iran telah mengungkap kerentanan pesawat tempur tersebut, yang akan menelan biaya lebih dari USD2 triliun bagi pembayar pajak AS dalam biaya siklus hidupnya, menjadikannya salah satu program pengembangan senjata termahal yang pernah ada.
Biaya rudal Product 358 tidak diungkapkan secara resmi, tetapi menurut laporan EurAsian Times, Jumat (10/4/2026), harganya kurang dari USD90.000, menjadikannya "pertarungan David melawan Goliath" yang sesungguhnya.
Rudal ini kompak dan dapat diluncurkan dari truk bergerak, sehingga penggunaannya oleh aktor non-negara menjadi mudah.
Keberhasilannya melawan F-35, pesawat tempur garis depan NATO, akan bergema tidak hanya di Timur Tengah tetapi juga di Pasifik.
(mas)
Lihat Juga :