Genap 1 Bulan Perang AS-Israel vs Iran, Siapa Paling Rugi? Ini Ulasannya
Sabtu, 28 Maret 2026 - 18:13 WIB
loading...
Pangkalan Ali al-Salem di Kuwait, salah pangkalan AS di Timur Tengah yang dibombardir Iran. Foto/Screenshot video Al Jazeera
A
A
A
TEHERAN - Amerika Serikat (AS) dan Israel mengira perang yang mereka luncurkan terhadap Iran pada 28 Februari lalu akan menjadi pengeboman udara jangka pendek untuk melenyapkan kepemimpinan tertinggi dan membuka jalan bagi pemerintahan yang lebih ramah terhadap Barat. Tapi pekiraan meleset, dan perang semakin bergejolak.
Meskipun Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan para pejabat militer dan intelijen tinggi lainnya telah tewas dalam serangan Washington dan Tel Aviv, Teheran masih tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah di bawah tekanan.
Baca Juga: Iran Bombardir Pangkalan Arab Saudi, 12 Tentara AS Terluka dan Pesawat Rusak
Pada 28 Februari, Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan udara ke Teheran, Minab, dan sejumlah kota Iran lainnya. Serangan terus berlanjut tanpa henti, menewaskan sekitar 1.900 orang, termasuk 175 siswi sekolah dasar (SD), dan menyebabkan 3,2 juta orang mengungsi.
Respons Iran cepat dan luas. Rudal dan drone diluncurkan ke Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi pangkalan militer AS, termasuk Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, dan Yordania.
Di UEA, rudal-rudal yang dicegat di Abu Dhabi menewaskan dua orang, sementara Pelabuhan Shuwaikh Kuwait terkena serangan.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dalam sebuah pengarahan baru-baru ini, mengeklaim bahwa Amerika telah menghancurkan lebih dari 10.000 target yang mencakup fasilitas bawah tanah dan bangunan yang penting bagi basis industri pertahanan Iran dan menenggelamkan lebih dari 150 kapal Angkatan Laut Iran.
Lebih dari 4.500 orang, termasuk 1.900 di Iran, telah tewas di lebih dari selusin negara yang terdampak perang pecah 28 Februari, menurut laporan The Independent, Sabtu (28/3/2026).
Dua pabrik baja utama di Iran rusak akibat serangan udara, menurut laporan media Iran. Dilaporkan juga bahwa situs-situs penting yang terkait dengan program nuklir Iran juga menjadi sasaran serangan AS dan Israel.
Mantan pejabat Pentagon, Elaine McCusker, memperkirakan bahwa kerusakan pertempuran dan penggantian kerugian dalam tiga minggu pertama saja dapat menelan biaya antara USD1,4 miliar hingga USD2,9 miliar bagi AS.
Di luar Iran, konflik tersebut telah memicu bentrokan antara Israel dan Hizbullah yang telah berdampak pada ribuan orang di Lebanon. Lebih dari 1.100 orang tewas di sana dan jutaan orang mengungsi, menurut laporan The Independent.
Meskipun berada di bawah bombardir hebat, Iran berhasil memberikan tekanan global melalui kendalinya atas Selat Hormuz, jalur yang membawa hampir 20 persen minyak dunia.
Dengan memblokir kapal-kapal yang terkait dengan saingannya, Iran telah mengganggu pasokan minyak global, yang telah mendorong harga minyak mentah lebih tinggi.
Presiden AS Donald Trump telah menunda serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari, dengan mengatakan pembicaraan damai "berjalan sangat baik."
Iran telah menolak, menyebut usulan AS sebagai "sepihak dan tidak adil" dan telah mengajukan tuntutannya sendiri yang tidak dapat dinegosiasikan, termasuk kedaulatan atas Selat Hormuz dan ganti rugi perang.
Pada saat yang sama, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, telah menegaskan bahwa tidak akan ada "pengurangan" serangan terhadap Iran.
Meskipun Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan para pejabat militer dan intelijen tinggi lainnya telah tewas dalam serangan Washington dan Tel Aviv, Teheran masih tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah di bawah tekanan.
Baca Juga: Iran Bombardir Pangkalan Arab Saudi, 12 Tentara AS Terluka dan Pesawat Rusak
Bagaimana Perang Ini Terjadi?
Pada 28 Februari, Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan udara ke Teheran, Minab, dan sejumlah kota Iran lainnya. Serangan terus berlanjut tanpa henti, menewaskan sekitar 1.900 orang, termasuk 175 siswi sekolah dasar (SD), dan menyebabkan 3,2 juta orang mengungsi.
Respons Iran cepat dan luas. Rudal dan drone diluncurkan ke Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi pangkalan militer AS, termasuk Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, dan Yordania.
Di UEA, rudal-rudal yang dicegat di Abu Dhabi menewaskan dua orang, sementara Pelabuhan Shuwaikh Kuwait terkena serangan.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dalam sebuah pengarahan baru-baru ini, mengeklaim bahwa Amerika telah menghancurkan lebih dari 10.000 target yang mencakup fasilitas bawah tanah dan bangunan yang penting bagi basis industri pertahanan Iran dan menenggelamkan lebih dari 150 kapal Angkatan Laut Iran.
Kerugian akibat Perang
Lebih dari 4.500 orang, termasuk 1.900 di Iran, telah tewas di lebih dari selusin negara yang terdampak perang pecah 28 Februari, menurut laporan The Independent, Sabtu (28/3/2026).
Dua pabrik baja utama di Iran rusak akibat serangan udara, menurut laporan media Iran. Dilaporkan juga bahwa situs-situs penting yang terkait dengan program nuklir Iran juga menjadi sasaran serangan AS dan Israel.
Mantan pejabat Pentagon, Elaine McCusker, memperkirakan bahwa kerusakan pertempuran dan penggantian kerugian dalam tiga minggu pertama saja dapat menelan biaya antara USD1,4 miliar hingga USD2,9 miliar bagi AS.
Di luar Iran, konflik tersebut telah memicu bentrokan antara Israel dan Hizbullah yang telah berdampak pada ribuan orang di Lebanon. Lebih dari 1.100 orang tewas di sana dan jutaan orang mengungsi, menurut laporan The Independent.
Titik Tekanan Ekonomi
Meskipun berada di bawah bombardir hebat, Iran berhasil memberikan tekanan global melalui kendalinya atas Selat Hormuz, jalur yang membawa hampir 20 persen minyak dunia.
Dengan memblokir kapal-kapal yang terkait dengan saingannya, Iran telah mengganggu pasokan minyak global, yang telah mendorong harga minyak mentah lebih tinggi.
Presiden AS Donald Trump telah menunda serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari, dengan mengatakan pembicaraan damai "berjalan sangat baik."
Iran telah menolak, menyebut usulan AS sebagai "sepihak dan tidak adil" dan telah mengajukan tuntutannya sendiri yang tidak dapat dinegosiasikan, termasuk kedaulatan atas Selat Hormuz dan ganti rugi perang.
Pada saat yang sama, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, telah menegaskan bahwa tidak akan ada "pengurangan" serangan terhadap Iran.
(mas)
Lihat Juga :