Eks Bos MI6 Inggris: Iran Lebih Tangguh dalam Perang Lawan AS-Israel daripada yang Diperkirakan
Kamis, 26 Maret 2026 - 14:20 WIB
loading...
Mantan kepala MI6 Inggris Alex Younger akui Iran lebih tangguh dalam perang melawan AS-Israel daripada yang dipekirakan siapa pun. Foto/PA
A
A
A
TEL AVIV - Mantan kepala badan intelijen asing Inggris; MI6, Alex Younger, mengakui rezim Iran lebih tangguh dalam perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel daripada yang diperkirakan siapa pun. Menurutnya, itu membawa pilihan "cukup terbatas dan tidak bagus" bagi Washington dan Tel Aviv.
“Kenyataannya adalah AS meremehkan tugas tersebut, dan saya pikir sekitar dua minggu lalu, AS kehilangan inisiatif pada Iran,” kata Younger kepada The Economist pada hari Rabu, seraya menyebutkan bahwa Iran memiliki keunggulan dalam perang saat ini.
Baca Juga: Iran Ungkap 6 Negara Sahabat Bebas Lewat Selat Hormuz, Indonesia Tak Disebut
Mantan bos MI6 tersebut mengatakan bahwa Iran mengambil beberapa keputusan yang baik sejak Juni lalu tentang penyebaran kemampuan militer mereka dan mendelegasikan wewenang penggunaan senjata-senjatanya. Dia menambahkan bahwa langkah Teheran itu telah memberi mereka ketahanan ekstra yang signifikan terhadap pengeboman udara yang sangat kuat.
“Dalam praktiknya, rezim Iran lebih tangguh daripada yang diperkirakan siapa pun,” kata Younger.
Dia mengatakan bahwa Iran telah memulai apa yang disebutnya “eskalasi horizontal", menyebutkan bahwa menembakkan roket ke siapa pun dalam jangkauan telah menjadi cara yang sangat baik untuk memberikan harga langsung kepada AS.
“Mereka telah memahami pentingnya perang energi dan mempertahankan Selat [Hormuz] dalam ancaman dan hanya mengglobalisasikan konflik,” kata mantan kepala intelijen tersebut, menambahkan bahwa Iran “memainkan kartu lemah dengan cukup baik".
Mengutip pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang perang tersebut, Younger mengatakan bahwa Iran berada dalam perang eksistensial, sedangkan Amerika telah memulai perang pilihan.
Menyinggung serangan drone Iran, dia mengatakan ini telah menjadi “kampanye militer yang hampir sempurna” dari udara. “Anda tidak dapat mengurangi ancaman menjadi nol," ujarnya.
“Saya pikir pilihan bagi AS dan Israel cukup terbatas dan tidak bagus,” imbuh dia.
Sementara itu, laporan New York Times mengungkap bahwa pengeboman pangkalan-pangkalan AS di kawasan Timur Tengah oleh Iran sebagai balasan atas perang AS-Israel telah memaksa banyak pasukan Amerika untuk lari berpindah ke hotel dan ruang kantor di seluruh wilayah tersebut. Laporan tersebut mengutip personel militer dan pejabat Amerika.
Menurut laporan New York Times, Kamis (26/3/2026), sebagian besar pasukan militer darat berperang sambil bekerja dari jarak jauh. Pengecualiannya adalah pilot dan awak pesawat tempur yang mengoperasikan dan memelihara pesawat tempur serta melakukan serangan.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah mendesak masyarakat Timur Tengah untuk melaporkan lokasi-lokasi baru tempat pasukan AS berlindung karena mereka sedang memburu pasukan yang tersebar tersebut.
Para pejabat militer AS mengatakan bahwa ancaman IRGC itu tidak menghentikan Pentagon untuk melanjutkan perang melawan Iran, yang dimulai pada akhir Februari ketika serangan udara gabungan AS-Israel membunuh pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei.
"Semoga setiap peluru mengenai sasarannya terhadap musuh-musuh kebenaran dan bangsa kita yang agung," kata Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam doanya saat kebaktian Kristen pada hari Rabu. Ini merupakan kebaktian bulanan pertamanya di Pentagon sejak perang Iran dimulai.
"Aku mengejar musuh-musuhku dan menyusul mereka, dan tidak berbalik sampai mereka binasa," lanjut Hegseth membacakan kutipan dari Mazmur, selama kebaktian yang disiarkan langsung.
Namun, relokasi pasukan ke lokasi sementara—seorang pejabat menyebutnya "alternatif"—menimbulkan pertanyaan tentang persiapan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk perang tersebut, menurut laporan New York Times.
"Meskipun telah dilancarkan serangan udara yang hebat, Iran masih memiliki beberapa kemampuan," kata Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine dalam konferensi pers Pentagon pekan lalu.
Para pejabat Iran menuduh militer AS menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia dengan menempatkan pasukan Amerika di hotel-hotel.
"Kami terpaksa mengidentifikasi dan menargetkan Amerika," kata sayap intelijen Korps Garda Revolusi Islam dalam sebuah pesan kepada masyarakat di wilayah Timur Tengah, seperti diberitakan Tasnim News Agency. "Oleh karena itu, lebih baik tidak melindungi mereka di hotel dan menjauhi lokasi mereka."
Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya Iran, yang bersama-sama memimpin militer reguler Iran dan IRGC, telah mengeluarkan peringatan. "Mengingat bahwa semua pangkalan Amerika di wilayah tersebut telah dilenyapkan, komandan dan tentara Amerika telah melarikan diri dan berlindung di tempat persembunyian di luar pangkalan dan kami sedang mencari mereka. Kami meminta masyarakat negara-negara di wilayah tersebut untuk waspada," katanya.
"Mereka [masyarakat Timur Tengah] membongkar tempat persembunyian mereka [pasukan AS] dan pada saat yang sama menuntut pengusiran Amerika dari wilayah tersebut demi keamanan mereka sendiri," kata Zolfaghari.
“Kenyataannya adalah AS meremehkan tugas tersebut, dan saya pikir sekitar dua minggu lalu, AS kehilangan inisiatif pada Iran,” kata Younger kepada The Economist pada hari Rabu, seraya menyebutkan bahwa Iran memiliki keunggulan dalam perang saat ini.
Baca Juga: Iran Ungkap 6 Negara Sahabat Bebas Lewat Selat Hormuz, Indonesia Tak Disebut
Mantan bos MI6 tersebut mengatakan bahwa Iran mengambil beberapa keputusan yang baik sejak Juni lalu tentang penyebaran kemampuan militer mereka dan mendelegasikan wewenang penggunaan senjata-senjatanya. Dia menambahkan bahwa langkah Teheran itu telah memberi mereka ketahanan ekstra yang signifikan terhadap pengeboman udara yang sangat kuat.
“Dalam praktiknya, rezim Iran lebih tangguh daripada yang diperkirakan siapa pun,” kata Younger.
Dia mengatakan bahwa Iran telah memulai apa yang disebutnya “eskalasi horizontal", menyebutkan bahwa menembakkan roket ke siapa pun dalam jangkauan telah menjadi cara yang sangat baik untuk memberikan harga langsung kepada AS.
“Mereka telah memahami pentingnya perang energi dan mempertahankan Selat [Hormuz] dalam ancaman dan hanya mengglobalisasikan konflik,” kata mantan kepala intelijen tersebut, menambahkan bahwa Iran “memainkan kartu lemah dengan cukup baik".
Mengutip pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang perang tersebut, Younger mengatakan bahwa Iran berada dalam perang eksistensial, sedangkan Amerika telah memulai perang pilihan.
Menyinggung serangan drone Iran, dia mengatakan ini telah menjadi “kampanye militer yang hampir sempurna” dari udara. “Anda tidak dapat mengurangi ancaman menjadi nol," ujarnya.
“Saya pikir pilihan bagi AS dan Israel cukup terbatas dan tidak bagus,” imbuh dia.
Sementara itu, laporan New York Times mengungkap bahwa pengeboman pangkalan-pangkalan AS di kawasan Timur Tengah oleh Iran sebagai balasan atas perang AS-Israel telah memaksa banyak pasukan Amerika untuk lari berpindah ke hotel dan ruang kantor di seluruh wilayah tersebut. Laporan tersebut mengutip personel militer dan pejabat Amerika.
Menurut laporan New York Times, Kamis (26/3/2026), sebagian besar pasukan militer darat berperang sambil bekerja dari jarak jauh. Pengecualiannya adalah pilot dan awak pesawat tempur yang mengoperasikan dan memelihara pesawat tempur serta melakukan serangan.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah mendesak masyarakat Timur Tengah untuk melaporkan lokasi-lokasi baru tempat pasukan AS berlindung karena mereka sedang memburu pasukan yang tersebar tersebut.
Para pejabat militer AS mengatakan bahwa ancaman IRGC itu tidak menghentikan Pentagon untuk melanjutkan perang melawan Iran, yang dimulai pada akhir Februari ketika serangan udara gabungan AS-Israel membunuh pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei.
"Semoga setiap peluru mengenai sasarannya terhadap musuh-musuh kebenaran dan bangsa kita yang agung," kata Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam doanya saat kebaktian Kristen pada hari Rabu. Ini merupakan kebaktian bulanan pertamanya di Pentagon sejak perang Iran dimulai.
"Aku mengejar musuh-musuhku dan menyusul mereka, dan tidak berbalik sampai mereka binasa," lanjut Hegseth membacakan kutipan dari Mazmur, selama kebaktian yang disiarkan langsung.
Namun, relokasi pasukan ke lokasi sementara—seorang pejabat menyebutnya "alternatif"—menimbulkan pertanyaan tentang persiapan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk perang tersebut, menurut laporan New York Times.
"Meskipun telah dilancarkan serangan udara yang hebat, Iran masih memiliki beberapa kemampuan," kata Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine dalam konferensi pers Pentagon pekan lalu.
Para pejabat Iran menuduh militer AS menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia dengan menempatkan pasukan Amerika di hotel-hotel.
"Kami terpaksa mengidentifikasi dan menargetkan Amerika," kata sayap intelijen Korps Garda Revolusi Islam dalam sebuah pesan kepada masyarakat di wilayah Timur Tengah, seperti diberitakan Tasnim News Agency. "Oleh karena itu, lebih baik tidak melindungi mereka di hotel dan menjauhi lokasi mereka."
Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya Iran, yang bersama-sama memimpin militer reguler Iran dan IRGC, telah mengeluarkan peringatan. "Mengingat bahwa semua pangkalan Amerika di wilayah tersebut telah dilenyapkan, komandan dan tentara Amerika telah melarikan diri dan berlindung di tempat persembunyian di luar pangkalan dan kami sedang mencari mereka. Kami meminta masyarakat negara-negara di wilayah tersebut untuk waspada," katanya.
"Mereka [masyarakat Timur Tengah] membongkar tempat persembunyian mereka [pasukan AS] dan pada saat yang sama menuntut pengusiran Amerika dari wilayah tersebut demi keamanan mereka sendiri," kata Zolfaghari.
(mas)
Lihat Juga :