Para Penasihat Trump Menyesal AS Perang Melawan Iran, Terlalu Remehkan Rezim Teheran
Selasa, 17 Maret 2026 - 06:00 WIB
loading...
A
A
A
Dalam jadwal awalnya, pemerintah AS memperkirakan operasi militer akan berlangsung selama empat hingga enam minggu.
Namun, para pejabat di Washington dan ibu kota negara-negara sekutu kini bersiap menghadapi krisis yang lebih panjang, dengan tiga sumber mengatakan kepada media-media Amerika bahwa keterlibatan AS dapat berlanjut hingga September, bahkan jika konflik bergeser ke fase intensitas yang lebih rendah.
Serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari dan dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei. Sebanyak 14 anggota militer AS telah tewas sejak awal perang.
Sementara itu, Trump mengaku sangat terkejut karena Iran berani menyerang negara-negara Timur Tengah sekutu Washington setelah perang pecah 28 Februari. Teheran menegaskan, militernya bukan bermaksud menyerang negara-negara tetangga, melainkan membalas agresi dengan menargetkan pangkalan militer dan kepentingan Amerika di kawasan tersebut.
Target-target serangan balasan Iran antara lain Pangkalan Udara Al-Dhafra di Uni Emirat Arab (UEA), Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, Markas Armada Kelima AS di Manama, Bahrain, Pangkalan Udara Al-Salem di Kuwait, Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi, dan Pangkalan Al-Harir di Erbil, Irak. Sedangkan target serangan balasan langsung Iran yang terus berlangsung adalah wilayah Israel.
Trump menngatakan sekutu AS di Timur Tengah "sangat hebat". "Mereka ditembak secara tidak perlu. Saya sangat terkejut," katanya, seperti dikutip dari NBC News.
"Itu adalah kejutan terbesar yang saya alami dari keseluruhan hal ini," paparnya.
Namun, para pejabat di Washington dan ibu kota negara-negara sekutu kini bersiap menghadapi krisis yang lebih panjang, dengan tiga sumber mengatakan kepada media-media Amerika bahwa keterlibatan AS dapat berlanjut hingga September, bahkan jika konflik bergeser ke fase intensitas yang lebih rendah.
Serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari dan dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei. Sebanyak 14 anggota militer AS telah tewas sejak awal perang.
Sementara itu, Trump mengaku sangat terkejut karena Iran berani menyerang negara-negara Timur Tengah sekutu Washington setelah perang pecah 28 Februari. Teheran menegaskan, militernya bukan bermaksud menyerang negara-negara tetangga, melainkan membalas agresi dengan menargetkan pangkalan militer dan kepentingan Amerika di kawasan tersebut.
Target-target serangan balasan Iran antara lain Pangkalan Udara Al-Dhafra di Uni Emirat Arab (UEA), Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, Markas Armada Kelima AS di Manama, Bahrain, Pangkalan Udara Al-Salem di Kuwait, Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi, dan Pangkalan Al-Harir di Erbil, Irak. Sedangkan target serangan balasan langsung Iran yang terus berlangsung adalah wilayah Israel.
Trump menngatakan sekutu AS di Timur Tengah "sangat hebat". "Mereka ditembak secara tidak perlu. Saya sangat terkejut," katanya, seperti dikutip dari NBC News.
"Itu adalah kejutan terbesar yang saya alami dari keseluruhan hal ini," paparnya.
Lihat Juga :