Jenderal Iran Tantang Trump Kirim Kapal Perang AS ke Selat Hormuz
Senin, 16 Maret 2026 - 10:45 WIB
loading...
Jubir IRGC Iran Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naini tantang Presiden Donald Trump kirim kapal perang AS ke Selat Hormuz. Foto/US Navy/Mass Communication Specialist 3rd Class Maxwell Orlosky
A
A
A
TEHERAN - Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naini, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, telah menantang Presiden Donald Trump untuk mengirim kapal perang Amerika Serikat (AS) ke Selat Hormuz. Tantangan dilontarkan setelah Trump mengeklaim Angkatan Laut Iran sudah dihancurkan.
“Bukankah Trump mengatakan bahwa Angkatan Laut Iran telah dihancurkan? Jika demikian, biarkan dia mengirim kapal-kapalnya ke Teluk Persia jika dia berani,” kata Naini dalam sebuah pernyataan yang diterbikan kantor berita Tasnim, Senin (16/3/2026).
Baca Juga: Kapal Induk USS Gerald R Ford Terbakar, AS Klaim Bukan akibat Serangan Iran
“Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh Iran, dan setiap agresi akan ditanggapi dengan tegas," ujarnya.
Trump, dalam wawancara telepon dengan CBS News pekan lalu, mengeklaim bahwa perang segera berakhir karena Angkatan Laut Iran sudah dihancurkan.
"[Iran] tidak memiliki Angkatan Laut, tidak ada komunikasi, mereka tidak memiliki Angkatan Udara. Rudal mereka tinggal sedikit. Drone mereka diledakkan di mana-mana, termasuk pabrik pembuatan drone mereka," kata Trump.
Meski mengeklaim AS sudah menghancurkan Angkatan Laut Iran, Trump telah memohon kepada banyak negara, termasuk anggota NATO Eropa, untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz untuk mengamankan pelayaran kapal-kapal tanker minyak.
Menurutnya, negara-negara NATO Eropa akan memiliki masa depan yang sangat buruk jika mereka menolak permohonannya untuk membantu mengamankan Selat Hormuz.
Teheran bersikeras bahwa jalur energi maritim yang penting tersebut tetap terbuka untuk semua orang–kecuali negara-negara yang bermusuhan dengan Iran, khususnya AS dan Israel.
Trump mengatakan negara-negara yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga pengamanannya. Dia kemudian memohon kepada Inggris, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan bahkan China untuk mengirim kapal perang dan bergabung dalam "upaya tim"-nya mengamankan jalur perairan tersebut.
"Jika tidak ada tanggapan atau jika tanggapannya negatif, saya pikir itu akan sangat buruk bagi masa depan NATO," kata Trump kepada Financial Times.
Dalam kesempatan terpisah, Trump mengatakan kepada para wartawan di atas Air Force One: “Jadi, apakah kami mendapatkan dukungan atau tidak, saya dapat mengatakan ini, dan saya mengatakannya kepada mereka: Kami akan mengingatnya."
“Bukankah Trump mengatakan bahwa Angkatan Laut Iran telah dihancurkan? Jika demikian, biarkan dia mengirim kapal-kapalnya ke Teluk Persia jika dia berani,” kata Naini dalam sebuah pernyataan yang diterbikan kantor berita Tasnim, Senin (16/3/2026).
Baca Juga: Kapal Induk USS Gerald R Ford Terbakar, AS Klaim Bukan akibat Serangan Iran
“Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh Iran, dan setiap agresi akan ditanggapi dengan tegas," ujarnya.
Trump, dalam wawancara telepon dengan CBS News pekan lalu, mengeklaim bahwa perang segera berakhir karena Angkatan Laut Iran sudah dihancurkan.
"[Iran] tidak memiliki Angkatan Laut, tidak ada komunikasi, mereka tidak memiliki Angkatan Udara. Rudal mereka tinggal sedikit. Drone mereka diledakkan di mana-mana, termasuk pabrik pembuatan drone mereka," kata Trump.
Meski mengeklaim AS sudah menghancurkan Angkatan Laut Iran, Trump telah memohon kepada banyak negara, termasuk anggota NATO Eropa, untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz untuk mengamankan pelayaran kapal-kapal tanker minyak.
Menurutnya, negara-negara NATO Eropa akan memiliki masa depan yang sangat buruk jika mereka menolak permohonannya untuk membantu mengamankan Selat Hormuz.
Teheran bersikeras bahwa jalur energi maritim yang penting tersebut tetap terbuka untuk semua orang–kecuali negara-negara yang bermusuhan dengan Iran, khususnya AS dan Israel.
Trump mengatakan negara-negara yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga pengamanannya. Dia kemudian memohon kepada Inggris, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan bahkan China untuk mengirim kapal perang dan bergabung dalam "upaya tim"-nya mengamankan jalur perairan tersebut.
"Jika tidak ada tanggapan atau jika tanggapannya negatif, saya pikir itu akan sangat buruk bagi masa depan NATO," kata Trump kepada Financial Times.
Dalam kesempatan terpisah, Trump mengatakan kepada para wartawan di atas Air Force One: “Jadi, apakah kami mendapatkan dukungan atau tidak, saya dapat mengatakan ini, dan saya mengatakannya kepada mereka: Kami akan mengingatnya."
(mas)
Lihat Juga :