AS: Kami Belum Siap Kawal Kapal-kapal Tanker Minyak Melewati Selat Hormuz

Jum'at, 13 Maret 2026 - 08:17 WIB
loading...
AS: Kami Belum Siap...
AS akui militernya belum siap untuk mengawal kapal-kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz dengan alasan sedang fokus menyerang Iran. Foto/Fox News
A A A
WASHINGTON - Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright mengakui bahwa militer Amerika saat ini belum siap untuk mengawal kapal-kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz yang kritis. Alasannya, karena semua aset tempurnya sedang difokuskan untuk menyerang Iran.

Komentar Wright muncul setelah serangan terhadap dua kapal tanker minyak di lepas pantai Irak menewaskan sedikitnya satu orang, dan harga minyak sempat melonjak melewati USD100 per barel.

Baca Juga: Iran Sebut Pesawat KC-135 Amerika Ditembak Jatuh Sistem Rudal, Tepis Klaim AS

Sejak melancarkan perang terhadap Iran, Presiden AS Donald Trump telah berupaya menenangkan pasar dengan menawarkan pengawalan Angkatan Laut AS untuk kapal tanker minyak dan fasilitas reasuransi untuk perusahaan pelayaran—tetapi belum ada pengawalan yang dilakukan hingga saat ini.

"Itu akan terjadi relatif segera, tetapi tidak bisa terjadi sekarang. Kami sama sekali belum siap," kata Wright kepada CNBC, yang dilansir Jumat (13/3/2026).

"Semua aset militer kami saat ini difokuskan untuk menghancurkan kemampuan ofensif Iran dan industri manufaktur yang memasok kemampuan ofensif mereka," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa sangat mungkin pengawalan semacam itu akan dilakukan pada akhir bulan ini.

Saat Iran melancarkan gelombang serangan baru terhadap target energi di Teluk, Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan perang tersebut menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

Negara-negara anggota IEA pada hari Rabu sepakat untuk melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan mereka—pelepasan terbesar yang pernah ada.

Wright mengatakan Amerika Serikat akan melepaskan 172 juta barel, berdasarkan pengaturan pertukaran yang akan membuat 200 juta barel mengalir kembali ke Cadangan Minyak Strategis (SPR) dalam waktu satu tahun.

Namun, langkah tersebut tidak mampu mengatasi kekhawatiran tentang terhambatnya pasokan energi, dengan Selat Hormuz— yang dilalui seperlima minyak mentah global—secara efektif ditutup.

Wright mengatakan dia mengadakan pertemuan di Pentagon pada hari Kamis untuk membahas kemungkinan pengawalan Angkatan Laut AS untuk kapal-kapal tanker minyak.

Wright mengatakan kepada CNN pada hari Kamis bahwa dia percaya pasar saat ini memiliki pasokan minyak yang sangat baik dan bahwa penetapan harga jangka pendek lebih didasarkan pada psikologi daripada aliran minyak.

Amerika Serikat juga telah berupaya melonggarkan sanksi terhadap beberapa minyak Rusia di laut, terutama memberikan India pengecualian sementara untuk membeli minyak tersebut guna mengatasi masalah pasokan yang disebabkan oleh perang.

Wright mengatakan kepada CNN bahwa pengecualian tersebut bukan merupakan "pengurangan sanksi" bagi Rusia, dengan alasan minyak tersebut sudah akan dikirim ke China.

"Rusia tidak mendapatkan pengurangan sanksi. Semua minyak itu adalah minyak di laut yang menunggu untuk dibongkar ke China," katanya, menyebut pengecualian tersebut sebagai "solusi pragmatis" dalam krisis saat ini.

Komentar Wright muncul satu hari setelah utusan Presiden Rusia Vladimir Putin, Kirill Dmitriev, bertemu dengan negosiator AS di Florida, dalam pembicaraan pertama antara Moskow dan Washington sejak awal perang Iran.

Dmitriev menyebut pertemuan itu "produktif" dan mengatakan Washington "mulai lebih memahami" pentingnya minyak Rusia.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Usai Tewaskan 1.300...
Usai Tewaskan 1.300 Orang di Eropa, Gelombang Panas Ekstrem Kini Melanda AS
Ini Detail Cekcok Trump...
Ini Detail Cekcok Trump dan Mohammed bin Salman Gara-gara Perang Iran
Eks Jenderal Zionis:...
Eks Jenderal Zionis: Netanyahu Mengarang Iran Miliki Bom Nuklir untuk Menakuti Publik Israel
Demi Cinta Bertaruh...
Demi Cinta Bertaruh Nyawa, Pasangan Ini Lamaran di Puncak Gedung Empire State 443 Meter
AS Pertimbangkan Tarik...
AS Pertimbangkan Tarik Pasukan dari Arab Saudi, Berseteru Gara-gara Perang Iran
Israel Ancam Serang...
Israel Ancam Serang Iran Ketiga Kalinya Meski Sedang Negosiasi dengan AS
AS Menguji Pertempuran...
AS Menguji Pertempuran Udara Jarak Jauh dengan Dukungan AI F-16
Gempa Venezuela: Korban...
Gempa Venezuela: Korban Tewas Meningkat Menjadi 1.943 Orang, 10.571 Terluka
Parlemen Israel Setujui...
Parlemen Israel Setujui RUU Larang Kumandang Azan di Masjid-Masjid
Rekomendasi
Para Legenda Bola Kecam...
Para Legenda Bola Kecam Penalti Belgia di Piala Dunia 2026: Senegal Dirampok Wasit
Profil Christina Endarwati...
Profil Christina Endarwati Ketua Majelis Hakim Sidang Dokter Tifa terkait Ijazah Jokowi
Siapkan Generasi Unggul,...
Siapkan Generasi Unggul, Yayasan Pendidikan Islam RUS Kudus Hadirkan SMP Internasional
Berita Terkini
Usai Tewaskan 1.300...
Usai Tewaskan 1.300 Orang di Eropa, Gelombang Panas Ekstrem Kini Melanda AS
Gempa Kembar Venezuela...
Gempa Kembar Venezuela Tewaskan 2.295 Orang: Mirip Zona Perang, Bau Mayat Menyengat
Ini Detail Cekcok Trump...
Ini Detail Cekcok Trump dan Mohammed bin Salman Gara-gara Perang Iran
Eks Jenderal Zionis:...
Eks Jenderal Zionis: Netanyahu Mengarang Iran Miliki Bom Nuklir untuk Menakuti Publik Israel
Demi Cinta Bertaruh...
Demi Cinta Bertaruh Nyawa, Pasangan Ini Lamaran di Puncak Gedung Empire State 443 Meter
AS Pertimbangkan Tarik...
AS Pertimbangkan Tarik Pasukan dari Arab Saudi, Berseteru Gara-gara Perang Iran
Infografis
9 Keunggulan Kapal Selam...
9 Keunggulan Kapal Selam Mini Iran yang Membuat Kapal Induk AS Menjauh
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved