Kontroversi Uji Nuklir China 2020: Tuduhan AS dan Bantahan Beijing

Sabtu, 07 Maret 2026 - 14:17 WIB
loading...
A A A
CTBT sendiri melarang seluruh bentuk ledakan nuklir yang menghasilkan reaksi berantai nuklir yang berkelanjutan, baik untuk tujuan militer maupun sipil.

Pemerintah China membantah keras tuduhan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyebut tuduhan Washington “sepenuhnya tidak berdasar”.

Dia menilai pernyataan tersebut merupakan upaya Amerika Serikat untuk mencari alasan guna melanjutkan kembali uji coba nuklirnya sendiri.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan pada 30 Oktober bahwa AS siap melanjutkan uji coba senjata nuklir “secara setara” jika negara lain juga melakukannya. Amerika Serikat sendiri telah menjalankan moratorium uji coba nuklir secara sukarela sejak 1992.

Uji Coba Nuklir atau Gempa Alami?


Menurut pejabat Departemen Luar Negeri AS Christopher Yeaw, peristiwa yang dicurigai sebagai uji coba tersebut terjadi pada pukul 09.18 GMT pada 22 Juni 2020 dengan magnitudo sekitar 2,75.

Namun data dari Sistem Pemantauan Internasional yang dioperasikan oleh Organisasi CTBT hanya mendeteksi dua peristiwa seismik kecil yang terjadi dalam selang waktu 12 detik.

Kepala organisasi tersebut, Robert Floyd, menyatakan kekuatan dua peristiwa tersebut jauh di bawah ambang deteksi yang biasanya digunakan untuk mengidentifikasi uji coba nuklir.

Sistem pemantauan global itu umumnya mampu mendeteksi ledakan nuklir dengan kekuatan setara sekitar 500 ton TNT atau lebih.

Karena kekuatannya jauh lebih kecil dari ambang tersebut, Floyd mengatakan penyebab dua peristiwa seismik tersebut tidak dapat dipastikan hanya dari data yang tersedia.

Dia menegaskan bahwa mekanisme investigasi yang lebih rinci sebenarnya telah diatur dalam perjanjian CTBT, tetapi hanya dapat digunakan jika perjanjian tersebut telah resmi berlaku.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
Pesona China yang Berbeda:...
Pesona China yang Berbeda: Eksplor Keunikan Infrastruktur Chongqing dan Alam Zhangjiajie
Ledakan di China Selatan...
Ledakan di China Selatan tewaskan Setidaknya 7 Orang
Sebelum Meninggal Dunia,...
Sebelum Meninggal Dunia, Putri Thailand Bajrakitiyabha Alami Gangguan Jantung Serius
Rekomendasi
Perkuat Penetrasi Pasar,...
Perkuat Penetrasi Pasar, EVO Group Perbarui Kemasan Life Cat dan Ori Cat
Roy Suryo Titip Pesan...
Roy Suryo Titip Pesan ke Massa Aksi Demo: Jangan Disusupi, Aparat Harus Humanis
Hidayat Batubara Daftar...
Hidayat Batubara Daftar Balon Ketua POBSI Sumut
Berita Terkini
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved