Mengapa Negara-negara Arab Tak Bersimpati atas Kematian Pemimpin Iran Ayatollah Khamenei?
Senin, 02 Maret 2026 - 11:16 WIB
loading...
Negara-negara Arab tidak bersimpati atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan AS dan Israel. Foto/khamenei.ir
A
A
A
TEHERAN - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah meninggal dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu pekan lalu. Tak ada simpati maupun ucapan belasungkawa dari negara-negara Arab, justru permusuhan berkobar.
Negara-negara Arab diam atas kematian Khamenei. Respons kemarahan justru bermunculan karena negara-negara tersebut menjadi target serangan balas dendam Iran, dengan alasan negara-negara itu menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Baca Juga: AS Hancurkan dan Tenggelamkan 9 Kapal Angkatan Laut Iran
Liga Arab yang beranggotakan 22 negara menyebut serangan Iran terhadap tetangga Arab-nya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara-negara yang mengadvokasi perdamaian dan berupaya mencapai stabilitas.
Maroko, Yordania, Suriah, dan Uni Emirat Arab mengecam serangan Iran yang menargetkan pangkalan militer AS, termasuk di Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Di bawah mantan Presiden Bashar Assad, Suriah termasuk di antara sekutu regional terdekat Iran dan pengkritik Israel, namun pernyataan dari Kementerian Luar Negerinya secara khusus mengutuk Iran, mencerminkan upaya pemerintah baru untuk membangun kembali hubungan dengan kekuatan ekonomi regional dan Amerika Serikat.
Arab Saudi mengatakan,"Kerajaan mengutuk dan mengecam dengan sekeras-kerasnya agresi Iran yang khianat dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan.”
Respons solidaritas justru muncul dari Rusia, China, Korea Utara, Turki, dan kelompok-kelompok milisi pro-Iran.
Presiden Rusia Vladimir Putin, misalnya, menggambarkan pembunuhan Khamenei sebagai “pembunuhan sinis” yang melanggar semua standar moralitas manusia dan hukum internasional.
“Mohon terima belasungkawa mendalam saya sehubungan dengan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Seyed Ali Khamenei, dan anggota keluarganya,” bunyi pesan Putin untuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang diterbitkan di situs web Kremlin.
Putin menambahkan, "Di Rusia, Khamenei akan dikenang sebagai negarawan luar biasa yang memberikan kontribusi pribadi yang besar bagi pengembangan hubungan persahabatan Rusia-Iran dan membawanya ke tingkat kemitraan strategis yang komprehensif”.
Pemerintah China mengatakan pihaknya mengutuk keras pembunuhan Khamenei.
Mereka menggambarkan serangan itu sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan keamanan Iran, menginjak-injak tujuan dan prinsip Piagam PBB dan norma-norma dasar hubungan internasional.
“China dengan tegas menentang dan mengutuk keras hal ini,” kata Kementerian Luar Negeri China dalam sebuah pernyataan, sambil menyerukan “penghentian segera operasi militer”.
Pemerintah Korea Utara mengatakan tindakan AS dan Israel membunuh Khamenei seperti aksi gangster.
"Serangan tersebut merupakan tindakan agresi yang sepenuhnya ilegal dan bentuk pelanggaran kedaulatan yang paling keji," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, menurut media pemerintah, KCNA.
Pyongyang menuduh Washington dan sekutunya melakukan “perilaku tak tahu malu dan seperti gangster” serta menyalahgunakan kekuatan militer untuk memenuhi “ambisi egois dan hegemonik”.
Sedangkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dia sedih atas kematian Khamenei.
"Saya sedih mengetahui meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan yang terjadi kemarin," tulisnya di X, menyampaikan simpati kepada rakyat Iran.
Kelompok Hamas di Gaza mengatakan pihaknya berduka atas kematian Khamenei, menggambarkan serangan yang menewaskannya sebagai serangan AS-Israel yang keji.
“Dia memberikan semua bentuk dukungan politik, diplomatik, dan militer kepada rakyat kami, perjuangan kami, dan perlawanan kami,” kata kelompok perlawanan Palestina itu dalam sebuah pernyataan.
"AS dan Israel bertanggung jawab penuh atas agresi terang-terangan dan kejahatan keji terhadap kedaulatan Republik Islam Iran, dan atas dampaknya yang serius terhadap keamanan dan stabilitas kawasan," imbuh Hamas.
Hamas juga mengatakan negara-negara Arab dan Muslim memikul tanggung jawab politik, hukum, dan sejarah untuk mengambil tindakan segera dan tegas.
Kepemimpinan politik Houthi juga menyampaikan belasungkawa tulus dan simpati terdalam kepada rakyat Iran.
"Kejahatan keji ini merupakan pelanggaran mencolok terhadap semua hukum dan norma internasional dan mewujudkan kelanjutan serangan tidak adil terhadap bangsa Islam," katanya.
Negara-negara Arab diam atas kematian Khamenei. Respons kemarahan justru bermunculan karena negara-negara tersebut menjadi target serangan balas dendam Iran, dengan alasan negara-negara itu menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Baca Juga: AS Hancurkan dan Tenggelamkan 9 Kapal Angkatan Laut Iran
Liga Arab yang beranggotakan 22 negara menyebut serangan Iran terhadap tetangga Arab-nya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara-negara yang mengadvokasi perdamaian dan berupaya mencapai stabilitas.
Maroko, Yordania, Suriah, dan Uni Emirat Arab mengecam serangan Iran yang menargetkan pangkalan militer AS, termasuk di Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Di bawah mantan Presiden Bashar Assad, Suriah termasuk di antara sekutu regional terdekat Iran dan pengkritik Israel, namun pernyataan dari Kementerian Luar Negerinya secara khusus mengutuk Iran, mencerminkan upaya pemerintah baru untuk membangun kembali hubungan dengan kekuatan ekonomi regional dan Amerika Serikat.
Arab Saudi mengatakan,"Kerajaan mengutuk dan mengecam dengan sekeras-kerasnya agresi Iran yang khianat dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan.”
Respons solidaritas justru muncul dari Rusia, China, Korea Utara, Turki, dan kelompok-kelompok milisi pro-Iran.
Presiden Rusia Vladimir Putin, misalnya, menggambarkan pembunuhan Khamenei sebagai “pembunuhan sinis” yang melanggar semua standar moralitas manusia dan hukum internasional.
“Mohon terima belasungkawa mendalam saya sehubungan dengan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Seyed Ali Khamenei, dan anggota keluarganya,” bunyi pesan Putin untuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang diterbitkan di situs web Kremlin.
Putin menambahkan, "Di Rusia, Khamenei akan dikenang sebagai negarawan luar biasa yang memberikan kontribusi pribadi yang besar bagi pengembangan hubungan persahabatan Rusia-Iran dan membawanya ke tingkat kemitraan strategis yang komprehensif”.
Pemerintah China mengatakan pihaknya mengutuk keras pembunuhan Khamenei.
Mereka menggambarkan serangan itu sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan keamanan Iran, menginjak-injak tujuan dan prinsip Piagam PBB dan norma-norma dasar hubungan internasional.
“China dengan tegas menentang dan mengutuk keras hal ini,” kata Kementerian Luar Negeri China dalam sebuah pernyataan, sambil menyerukan “penghentian segera operasi militer”.
Pemerintah Korea Utara mengatakan tindakan AS dan Israel membunuh Khamenei seperti aksi gangster.
"Serangan tersebut merupakan tindakan agresi yang sepenuhnya ilegal dan bentuk pelanggaran kedaulatan yang paling keji," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, menurut media pemerintah, KCNA.
Pyongyang menuduh Washington dan sekutunya melakukan “perilaku tak tahu malu dan seperti gangster” serta menyalahgunakan kekuatan militer untuk memenuhi “ambisi egois dan hegemonik”.
Sedangkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dia sedih atas kematian Khamenei.
"Saya sedih mengetahui meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan yang terjadi kemarin," tulisnya di X, menyampaikan simpati kepada rakyat Iran.
Kelompok Hamas di Gaza mengatakan pihaknya berduka atas kematian Khamenei, menggambarkan serangan yang menewaskannya sebagai serangan AS-Israel yang keji.
“Dia memberikan semua bentuk dukungan politik, diplomatik, dan militer kepada rakyat kami, perjuangan kami, dan perlawanan kami,” kata kelompok perlawanan Palestina itu dalam sebuah pernyataan.
"AS dan Israel bertanggung jawab penuh atas agresi terang-terangan dan kejahatan keji terhadap kedaulatan Republik Islam Iran, dan atas dampaknya yang serius terhadap keamanan dan stabilitas kawasan," imbuh Hamas.
Hamas juga mengatakan negara-negara Arab dan Muslim memikul tanggung jawab politik, hukum, dan sejarah untuk mengambil tindakan segera dan tegas.
Kepemimpinan politik Houthi juga menyampaikan belasungkawa tulus dan simpati terdalam kepada rakyat Iran.
"Kejahatan keji ini merupakan pelanggaran mencolok terhadap semua hukum dan norma internasional dan mewujudkan kelanjutan serangan tidak adil terhadap bangsa Islam," katanya.
(mas)
Lihat Juga :