Xi Jinping Sudah Singkirkan 30 Jenderal dan Laksamana China dalam 3 Tahun
Kamis, 05 Februari 2026 - 14:05 WIB
loading...
Presiden Xi Jinping sudah menyikirkan sekitar 30 jenderal dan laksamana China hanya dalam tiga tahun. Foto/via New York Times
A
A
A
BEIJING - Militer China telah mengalami perombakan yang belum pernah terjadi sebelumnya selama tiga tahun terakhir, di mana Presiden Xi Jinping memecat atau memberhentikan sekitar 30 jenderal dan laksamana.
Komisi Militer Pusat (CMC) Partai Komunis China (CCP) yang dibentuk oleh Xi Jinping pada tahun 2023 kini hanya memiliki beberapa jenderal yang masih aktif.
Para jenderal yang telah disingkirkan termasuk komandan senior Zhang Youxia, yang mengawasi persiapan perang, dan Jenderal Liu Zhenli. Banyak perwira menghadapi tuduhan korupsi, meskipun para pakar mengatakan "pembersihan" ini juga bertujuan untuk menguji loyalitas kepada Xi Jinping.
Baca Juga: Terungkap, Jenderal Top China Diselidiki karena Bocorkan Rahasia Senjata Nuklir ke AS
Mengutip laporan dari New York Times, Kamis (5/2/2026) China memiliki lebih dari 30 jenderal dan laksamana yang memimpin departemen-departemen kunci dan komando teater pada awal tahun 2023. Sekarang, hanya tujuh yang diyakini masih aktif.
Laporan itu menunjukkan bagan di militer China yang sekarang banyak posisi senior yang kosong.
CMC saat ini hanya memiliki satu jenderal, yakni Zhang Shengmin. Dialah mengawasi pembersihan militer oleh Presiden Xi Jinping, yang menyoroti meningkatnya kendali sang presiden atas angkatan bersenjata China.
Zhang Shengmin telah menghabiskan sebagian besar kariernya menangani anti-korupsi dan disiplin politik di Angkatan Roket, yang mengendalikan program rudal nuklir dan konvensional China. Xi Jinping menunjuknya sebagai wakil ketua CMC tahun lalu.
Jenderal Zhang Youxia dan Jenderal Liu Zhenli disingkirkan meski keduanya secara langsung bertanggung jawab untuk mempersiapkan tentara China untuk perang.
Hal ini telah menciptakan kekosongan kepemimpinan besar di puncak militer terkuat kedua di dunia. Para pakar mengatakan ini mungkin mencerminkan kurangnya kepercayaan Xi Jinping pada Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) untuk saat ini.
Investigasi telah diluncurkan terhadap Jenderal Zhang Youxia, yang sebelumnya merupakan Wakil Ketua CMC. Menurut laporan Wall Street Journal, dia dituduh membocorkan informasi sensitif tentang senjata nuklir China kepada kepada Amerika Serikat (AS).
Zhang dicopot dari jabatannya pada 24 Januari. Kementerian Pertahanan China menuduhnya melakukan pelanggaran disiplin dan hukum yang serius, serta membentuk faksi di dalam CMC dan menciptakan perpecahan di dalam Partai Komunis China.
Setelah pencopotan Zhang, muncul pertanyaan mengapa Presiden Xi Jinping bertindak melawan sekutu yang begitu dekat. Di luar klaim membocorkan rahasia nuklir, beberapa pakar percaya Zhang telah menjadi terlalu kuat. Yang lain mengatakan Xi Jinping merasa korupsi di militer telah begitu dalam sehingga tindakan besar-besaran tidak dapat dihindari.
Dari tahun 2012 hingga 2017, Zhang memimpin departemen pengadaan senjata China, yang oleh para pakar digambarkan sebagai area militer yang paling rawan korupsi. Banyak pejabat yang terkait dengan departemen ini kemudian didakwa dengan korupsi, tetapi Zhang tetap tidak tersentuh hingga akhirnya disingirkan pada 24 Januari.
Jika dakwaan resmi diajukan, Jenderal Zhang dapat diadili di pengadilan militer tertutup, di mana vonis biasanya mengingkat.
Para pakar mengatakan kasus ini akan menciptakan ketakutan di kalangan kekuasaan Beijing. Pesannya adalah bahwa bahkan sekutu terdekat Xi Jinping pun tidak aman. Sebelum Kongres Partai Komunis China 2027, Xi Jinping perlu membangun kembali kepemimpinan militer yang terpercaya, sebuah tugas yang menurut para analis akan sulit.
Pada Oktober 2024, Partai Komunis China memecat Jenderal He Weidong, wakil ketua kedua CMC. Pada tahun yang sama, dua mantan menteri pertahanan juga dipecat dalam kasus korupsi.
He Weidong adalah wakil ketua peringkat kedua CMC, badan komando tertinggi PLA di bawah Xi Jinping. Dia belum terlihat di depan umum sejak Maret 2025.
Dia dianggap sebagai rekan dekat Xi Jinping. Keduanya bekerja bersama di Fujian dan Zhejiang pada tahun 1990-an. Pada tahun 2022, dia diangkat langsung sebagai wakil ketua CMC, peran yang biasanya hanya dicapai setelah lama bertugas di komisi senior.
"Pembersihan" telah menyebar ke hampir semua cabang angkatan bersenjata, termasuk Angkatan Roket dan Angkatan Laut.
Lima komando teater militer di bawah Xi Jinping, yang dibentuk pada tahun 2016 untuk mengawasi operasi regional Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara, juga telah banyak terpengaruh.
Ini termasuk Komando Teater Timur, yang menangani operasi militer di sekitar Taiwan. Meskipun komandan baru diangkat tahun lalu, situasinya telah berubah lagi.
Surat kabar resmi militer China telah mendesak para perwira dan prajurit untuk mendukung keputusan Xi Jinping, dengan mengatakan bahwa tindakan-tindakan tersebut akan menghasilkan militer yang lebih kuat.
Seorang juru bicara Kedutaan Besar China di Washington mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa penyelidikan terhadap Jenderal Zhang menunjukkan pendekatan tanpa toleransi partai terhadap korupsi.
Para analis mengatakan langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari kampanye Xi Jinping untuk mereformasi militer dan memperketat loyalitas di antara para perwira.
Kementerian Pertahanan China juga telah mengonfirmasi bahwa Jenderal Liu Zhenli, Kepala Departemen Staf Gabungan, sedang dalam penyelidikan.
China terus memperkuat militernya dan telah meningkatkan anggaran pertahanannya sebesar 7,2% tahun ini menjadi 1,78 triliun yuan atau USD249 miliar.
Para pakar memperkirakan pengeluaran pertahanan China yang sebenarnya 40–50% lebih tinggi daripada yang dilaporkan secara resmi, karena beberapa biaya disembunyikan di bawah pos anggaran lainnya.
China memiliki anggaran militer terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, yang pengeluaran pertahanannya sekitar USD950 miliar—kira-kira empat kali lipat dari China.
Komisi Militer Pusat (CMC) Partai Komunis China (CCP) yang dibentuk oleh Xi Jinping pada tahun 2023 kini hanya memiliki beberapa jenderal yang masih aktif.
Para jenderal yang telah disingkirkan termasuk komandan senior Zhang Youxia, yang mengawasi persiapan perang, dan Jenderal Liu Zhenli. Banyak perwira menghadapi tuduhan korupsi, meskipun para pakar mengatakan "pembersihan" ini juga bertujuan untuk menguji loyalitas kepada Xi Jinping.
Baca Juga: Terungkap, Jenderal Top China Diselidiki karena Bocorkan Rahasia Senjata Nuklir ke AS
Mengutip laporan dari New York Times, Kamis (5/2/2026) China memiliki lebih dari 30 jenderal dan laksamana yang memimpin departemen-departemen kunci dan komando teater pada awal tahun 2023. Sekarang, hanya tujuh yang diyakini masih aktif.
Laporan itu menunjukkan bagan di militer China yang sekarang banyak posisi senior yang kosong.
CMC saat ini hanya memiliki satu jenderal, yakni Zhang Shengmin. Dialah mengawasi pembersihan militer oleh Presiden Xi Jinping, yang menyoroti meningkatnya kendali sang presiden atas angkatan bersenjata China.
Zhang Shengmin telah menghabiskan sebagian besar kariernya menangani anti-korupsi dan disiplin politik di Angkatan Roket, yang mengendalikan program rudal nuklir dan konvensional China. Xi Jinping menunjuknya sebagai wakil ketua CMC tahun lalu.
Jenderal Zhang Youxia dan Jenderal Liu Zhenli disingkirkan meski keduanya secara langsung bertanggung jawab untuk mempersiapkan tentara China untuk perang.
Hal ini telah menciptakan kekosongan kepemimpinan besar di puncak militer terkuat kedua di dunia. Para pakar mengatakan ini mungkin mencerminkan kurangnya kepercayaan Xi Jinping pada Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) untuk saat ini.
Jenderal Zhang Dituduh Jual Rahasia Senjata Nuklir ke AS
Investigasi telah diluncurkan terhadap Jenderal Zhang Youxia, yang sebelumnya merupakan Wakil Ketua CMC. Menurut laporan Wall Street Journal, dia dituduh membocorkan informasi sensitif tentang senjata nuklir China kepada kepada Amerika Serikat (AS).
Zhang dicopot dari jabatannya pada 24 Januari. Kementerian Pertahanan China menuduhnya melakukan pelanggaran disiplin dan hukum yang serius, serta membentuk faksi di dalam CMC dan menciptakan perpecahan di dalam Partai Komunis China.
Setelah pencopotan Zhang, muncul pertanyaan mengapa Presiden Xi Jinping bertindak melawan sekutu yang begitu dekat. Di luar klaim membocorkan rahasia nuklir, beberapa pakar percaya Zhang telah menjadi terlalu kuat. Yang lain mengatakan Xi Jinping merasa korupsi di militer telah begitu dalam sehingga tindakan besar-besaran tidak dapat dihindari.
Dari tahun 2012 hingga 2017, Zhang memimpin departemen pengadaan senjata China, yang oleh para pakar digambarkan sebagai area militer yang paling rawan korupsi. Banyak pejabat yang terkait dengan departemen ini kemudian didakwa dengan korupsi, tetapi Zhang tetap tidak tersentuh hingga akhirnya disingirkan pada 24 Januari.
Jika dakwaan resmi diajukan, Jenderal Zhang dapat diadili di pengadilan militer tertutup, di mana vonis biasanya mengingkat.
Para pakar mengatakan kasus ini akan menciptakan ketakutan di kalangan kekuasaan Beijing. Pesannya adalah bahwa bahkan sekutu terdekat Xi Jinping pun tidak aman. Sebelum Kongres Partai Komunis China 2027, Xi Jinping perlu membangun kembali kepemimpinan militer yang terpercaya, sebuah tugas yang menurut para analis akan sulit.
Pada Oktober 2024, Partai Komunis China memecat Jenderal He Weidong, wakil ketua kedua CMC. Pada tahun yang sama, dua mantan menteri pertahanan juga dipecat dalam kasus korupsi.
He Weidong adalah wakil ketua peringkat kedua CMC, badan komando tertinggi PLA di bawah Xi Jinping. Dia belum terlihat di depan umum sejak Maret 2025.
Dia dianggap sebagai rekan dekat Xi Jinping. Keduanya bekerja bersama di Fujian dan Zhejiang pada tahun 1990-an. Pada tahun 2022, dia diangkat langsung sebagai wakil ketua CMC, peran yang biasanya hanya dicapai setelah lama bertugas di komisi senior.
"Pembersihan" telah menyebar ke hampir semua cabang angkatan bersenjata, termasuk Angkatan Roket dan Angkatan Laut.
Lima komando teater militer di bawah Xi Jinping, yang dibentuk pada tahun 2016 untuk mengawasi operasi regional Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara, juga telah banyak terpengaruh.
Ini termasuk Komando Teater Timur, yang menangani operasi militer di sekitar Taiwan. Meskipun komandan baru diangkat tahun lalu, situasinya telah berubah lagi.
Surat kabar resmi militer China telah mendesak para perwira dan prajurit untuk mendukung keputusan Xi Jinping, dengan mengatakan bahwa tindakan-tindakan tersebut akan menghasilkan militer yang lebih kuat.
Seorang juru bicara Kedutaan Besar China di Washington mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa penyelidikan terhadap Jenderal Zhang menunjukkan pendekatan tanpa toleransi partai terhadap korupsi.
Para analis mengatakan langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari kampanye Xi Jinping untuk mereformasi militer dan memperketat loyalitas di antara para perwira.
Kementerian Pertahanan China juga telah mengonfirmasi bahwa Jenderal Liu Zhenli, Kepala Departemen Staf Gabungan, sedang dalam penyelidikan.
China terus memperkuat militernya dan telah meningkatkan anggaran pertahanannya sebesar 7,2% tahun ini menjadi 1,78 triliun yuan atau USD249 miliar.
Para pakar memperkirakan pengeluaran pertahanan China yang sebenarnya 40–50% lebih tinggi daripada yang dilaporkan secara resmi, karena beberapa biaya disembunyikan di bawah pos anggaran lainnya.
China memiliki anggaran militer terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, yang pengeluaran pertahanannya sekitar USD950 miliar—kira-kira empat kali lipat dari China.
(mas)
Lihat Juga :