4 Fakta Pembunuhan Saif Al-Islam Gaddafi yang Disebut sebagai Calon Pemimpin Libya
Kamis, 05 Februari 2026 - 01:10 WIB
loading...
A
A
A
2. Pesan Terakhirnya Mengkritik Politik Libya
Beberapa hari sebelum kematiannya, sebuah rekaman beredar secara daring yang digambarkan oleh para pendukungnya sebagai "pesan terakhir" Saif al-Islam.Dalam audio tersebut, ia dilaporkan mengkritik tatanan politik Libya pasca-2011, menuduh utusan asing melakukan kontrol yang menentukan atas negara tersebut dan mempertanyakan apa yang telah dicapai oleh tahun-tahun pertumpahan darah dan pengorbanan.
Ia berbicara tentang miliaran dolar yang hilang, ribuan orang tewas, dan Libya yang tidak mampu bertindak tanpa persetujuan kekuatan asing.
The New Arab tidak dapat memverifikasi secara independen rekaman tersebut, yang dibagikan secara luas di media berbahasa Arab dan memicu spekulasi tentang motif dan waktu pembunuhannya.
Baca Juga: Meski Ditembak F-35, Mengapa Iran Klaim Misi Drone Intai Kapal Induk AS Berjalan Sukses?
3. Wajah Modern Rezim Gaddafi
Sebelum pemberontakan tahun 2011, Saif al-Islam secara luas dipandang sebagai wajah modern rezim ayahnya. Berpendidikan Barat dan fasih berbahasa Inggris, ia menampilkan dirinya sebagai seorang reformis, membantu memimpin rekonsiliasi Libya dengan pemerintah Barat, dan memainkan peran sentral dalam negosiasi tentang perlucutan senjata nuklir dan kompensasi bagi korban pemboman Lockerbie.Citra itu runtuh selama pemberontakan, ketika ia menjadi salah satu pembela paling gigih pemerintahan ayahnya, mengancam para demonstran dan memperingatkan akan terjadinya perang saudara.
Lihat Juga :