Trump Berharap Iran Akan Buat Kesepakatan, AS Takut Ancaman Khamenei?

Senin, 02 Februari 2026 - 19:30 WIB
loading...
Trump Berharap Iran...
Presiden AS Donald Trump berharap Iran akan buat kesepakatan. Foto/X/@DeptofWar
A A A
WASHINGTON - Presiden AS Donald Trump mengatakan dia "berharap" bahwa Iran akan "membuat kesepakatan" dengan Washington. Pernyataan itu hanya beberapa jam setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan bahwa konflik apa pun yang diprakarsai oleh Amerika Serikat akan berubah menjadi "perang regional".

Trump menambahkan bahwa jika kesepakatan itu tidak terwujud, akan menjadi jelas apakah peringatan Khamenei benar.

Berbicara di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Trump mengatakan AS telah mengerahkan aset militer yang signifikan di wilayah tersebut tetapi lebih memilih hasil diplomatik di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.

"Kita memiliki kapal-kapal terbesar dan terkuat di dunia di sana, sangat dekat, dan dalam beberapa hari, mudah-mudahan, kita akan mencapai kesepakatan. Jika kita tidak mencapai kesepakatan, maka kita akan mengetahui apakah dia benar atau tidak," kata Trump, dilansir Gulf News.

Pernyataan Trump tersebut merupakan tanggapan terhadap serangkaian pernyataan keras dari Pemimpin Tertinggi Iran dalam serangkaian unggahan di X, yang memperingatkan Washington terhadap tindakan militer, dengan menyatakan bahwa Washington harus memahami bahwa perang apa pun tidak akan terbatas.

"Amerika harus tahu jika mereka memulai perang, kali ini akan menjadi perang regional," tulis unggahan Khamenei, menambahkan bahwa Iran tidak akan terintimidasi oleh ancaman yang melibatkan kapal perang atau pesawat terbang.

"Bahwa Amerika terkadang berbicara tentang perang - mengatakan bahwa kami akan datang dengan kapal perang dan pesawat terbang - bukanlah hal baru. Bangsa Iran tidak terpengaruh oleh pembicaraan seperti itu. Mereka seharusnya tidak mencoba mengintimidasi bangsa Iran dengan hal-hal seperti itu," tambahnya dalam unggahan tersebut.

Sementara itu, Khamenei mengatakan Iran tidak mencari konflik tetapi akan menanggapi dengan keras setiap agresi dan lebih lanjut menuduh Amerika Serikat mencoba mendominasi Iran karena sumber daya dan lokasinya yang strategis.

"Kami bukanlah inisiator perang. Kami tidak berusaha menindas siapa pun. Kami tidak berusaha menyerang negara mana pun. Namun, siapa pun yang berusaha menyerang atau menyebabkan kerugian akan menghadapi pukulan telak dari bangsa Iran," bunyi unggahan lainnya.



"Apa masalah antara Amerika Serikat dan Iran? Masalah ini dapat diringkas dalam dua kata: Amerika Serikat ingin melahap Iran; bangsa Iran dan Republik Islam mencegah hal ini," tambah unggahan lain.

Merujuk pada pengaruh historis AS di Iran, Pemimpin Tertinggi mengklaim Washington mencoba merebut kembali kendali setelah kehilangan cengkeramannya beberapa dekade lalu.

"Iran memiliki banyak daya tarik: Minyak, gas, mineral yang kaya, dan lokasi geografisnya menarik. AS ingin merebut kendali negara ini seperti yang mereka lakukan sebelumnya."

"Selama lebih dari 30 tahun, Amerika hadir di Iran. Sumber daya Iran, minyak, politik, dan keamanan berada di tangan mereka. Semuanya ada di tangan mereka. Sekarang cengkeraman mereka telah putus, mereka mencoba mencari jalan kembali. Bangsa Iran berdiri teguh, mencegahnya," kata Khamenei dalam unggahan lain.

Khamenei menegaskan bahwa Iran akan terus menolak tekanan AS, menyatakan bahwa negara itu "berdiri teguh dan akan terus berdiri teguh" melawan apa yang ia gambarkan sebagai "ulah dan pelecehan" Amerika.

Sebelumnya pada hari Sabtu, Trump, di atas Air Force One, menyatakan bahwa AS telah mengerahkan aset angkatan laut yang sangat kuat di wilayah tersebut, dekat Iran, tetapi ia berharap bahwa negosiasi akan menghasilkan hasil yang dapat diterima.

Baca Juga: AS Belum Siap Menyerang Iran, Ini 3 Pertimbangannya

"Kami memang memiliki kapal-kapal yang sangat besar dan kuat yang menuju ke arah itu, seperti yang Anda ketahui. Tetapi saya berharap mereka menegosiasikan sesuatu yang dapat diterima," kata Trump.

Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, dalam sebuah unggahan di X, mengatakan bahwa persiapan untuk negosiasi dengan AS sedang berjalan maju, menepis apa yang ia gambarkan sebagai sensasi yang didorong oleh media.

"Bertentangan dengan gembar-gembor perang media yang dibuat-buat, pengaturan struktural untuk negosiasi sedang berjalan," kata Larijani dalam unggahannya.

Namun, Menteri tersebut tidak menyebutkan detail apa pun tentang kerangka kerja masalah tersebut.

Saat ini, "Armada besar", yang dipimpin oleh USS Abraham Lincoln, sedang menuju Iran seiring meningkatnya ketegangan antara kedua belah pihak.

Pada hari Jumat, Presiden AS mengindikasikan bahwa Iran siap untuk memasuki negosiasi untuk mencegah potensi aksi militer Amerika, meskipun Teheran tetap berpendapat bahwa pembicaraan tidak dapat dilanjutkan di bawah tekanan.

"Mereka memang ingin membuat kesepakatan," kata Trump.

Ia juga mengungkapkan bahwa tenggat waktu telah ditetapkan bagi Iran untuk memulai diskusi tentang senjata nuklir, meskipun ia tidak menyebutkan jangka waktunya.

"Semoga kita akan mencapai kesepakatan. Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan lihat apa yang terjadi," tambah Trump, merujuk pada pengerahan kelompok kapal induk angkatan laut AS di dekat Iran.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
Iran Menang Banyak!...
Iran Menang Banyak! Sanksi Dicabut dan Diizinkan Ekspor Minyak
Iran dan AS Sepakati...
Iran dan AS Sepakati Peta Jalan untuk Mengakhiri Perang
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
Ledakan Dahsyat Guncang...
Ledakan Dahsyat Guncang Situs LNG Qatar, 54 Orang Terluka, 18 Hilang
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Perjalanan Berliku Iran...
Perjalanan Berliku Iran Tulis Sejarah di Piala Dunia 2026
Kematian Akibat Wabah...
Kematian Akibat Wabah Ebola di RD Kongo Tembus 200 Orang
Momen PM Inggris Keir...
Momen PM Inggris Keir Starmer Tak Kuasa Menahan Tangis saat Umumkan Mundur
Rekomendasi
Gelontorkan Diskon Tiket...
Gelontorkan Diskon Tiket Transportasi hingga 30%, Pemerintah Siapkan Anggaran Rp1,54 Triliun
Rupiah Tergerus Sentimen...
Rupiah Tergerus Sentimen Eksternal, Hari Ini Berakhir Tembus Rp17.843 per USD
Stimulus Jumbo Lintas...
Stimulus Jumbo Lintas Sektor Rp26,34 Triliun Resmi Meluncur, Berikut Rincian Alokasinya
Berita Terkini
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved