Jenderal Tertinggi Israel: AS Akan Serang Iran dalam 2 Minggu hingga 2 Bulan!
Senin, 02 Februari 2026 - 08:34 WIB
loading...
Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir percaya bahwa AS akan lancarkan serangan militer terhadap Iran dalam waktu dua minggu hingga dua bulan ke depan. Foto/IDF
A
A
A
TEL AVIV - Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Letnan Jenderal Eyal Zamir percaya bahwa Amerika Serikat (AS) akan melancarkan serangan militer terhadap Iran dalam waktu dua minggu hingga dua bulan ke depan.
“Ini adalah periode ketidakpastian,” bunyi siaran Army Radio, mengutip pernyataan Zamir selama pertemuan penilaian situasi.
Jenderal Tertinggi Israel tersebut, lanjut Army Radio, mengatakan dia yakin serangan AS terhadap Teheran akan terjadi "dalam dua minggu hingga dua bulan.”
Baca Juga: Khamenei Sebut Perang Timur Tengah Pecah Jika AS Menginvasi Iran, Ini Respons Trump
Siran Army Radio menyebutkan bahwa serangan AS terhadap Teheran tidak diperkirakan akan terjadi dalam beberapa hari mendatang.
“AS tidak berbagi segalanya dengan Israel dan mengecualikannya dari proses pengambilan keputusannya,” lanjut siaran tersebut.
Media militer Zionis itu melaporkan bahwa Israel khawatir Presiden AS Donald Trump dapat mencapai kesepakatan dengan Iran tentang program nuklirnya “tanpa memasukkan rudal balistik Iran.”
Laporan lain dari The Times of Israel, Senin (2/2/2026), menyebutkan bahwa Zamir mengadakan serangkaian pembicaraan selama akhir pekan dengan para pejabat Amerika mengenai kemungkinan serangan terhadap Iran.
Pekan lalu, kepala militer Israel bertemu dengan kepala Komando Pusat AS Laksamana Brad Cooper di Israel, sebagai bagian dari upaya antara militer untuk berkoordinasi menjelang serangan apa pun terhadap Iran.
Trump telah mengancam tindakan militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan menyusul protes anti-pemerintah di Iran pada akhir Desember.
Para pejabat Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan memicu respons yang “cepat dan komprehensif”.
Surat kabar keuangan Israel, The Calcalist, memperkirakan bahwa biaya kemungkinan perang terhadap Iran dapat mencapai USD10 miliar.
Menurut surat kabar tersebut, para pejabat senior di lembaga keamanan Israel khawatir bahwa putaran pertempuran lain dengan Iran dapat menelan biaya puluhan miliar shekel, “tergantung pada durasi dan sifat konflik.”
“Skenario yang relatif paling murah adalah jika Israel tidak melancarkan serangan sama sekali,” kata Ram Aminach, mantan penasihat ekonomi untuk kepala staf IDF.
“Bahkan jika Israel tidak melancarkan serangan, bukan berarti tidak akan ada biaya,” katanya.
“Pertahanan udara saja menelan biaya miliaran shekel, dan dalam skenario seperti itu, biaya militer saja dapat mencapai antara 7 dan 10 miliar shekel (USD2,23 hingga USD3,18 miliar).”
Sasson Hadad, mantan penasihat kepala Angkatan Darat Israel, mengatakan bahwa jika terjadi perang baru, biayanya bisa mencapai antara 15 miliar hingga 25 miliar shekel (USD4,78 miliar hingga US8 miliar).
The Calcalist memperkirakan biayanya bisa mencapai 30 miliar shekel (sekitar USD9,8 miliar). “Ini hanya biaya militer, belum termasuk biaya sipil," lanjut laporan tersebut.
Juni lalu, Israel, dengan dukungan AS, melancarkan perang 12 hari melawan Iran, yang memicu serangan balasan drone dan rudal dari Teheran sebelum Washington mengumumkan gencatan senjata.
“Ini adalah periode ketidakpastian,” bunyi siaran Army Radio, mengutip pernyataan Zamir selama pertemuan penilaian situasi.
Jenderal Tertinggi Israel tersebut, lanjut Army Radio, mengatakan dia yakin serangan AS terhadap Teheran akan terjadi "dalam dua minggu hingga dua bulan.”
Baca Juga: Khamenei Sebut Perang Timur Tengah Pecah Jika AS Menginvasi Iran, Ini Respons Trump
Siran Army Radio menyebutkan bahwa serangan AS terhadap Teheran tidak diperkirakan akan terjadi dalam beberapa hari mendatang.
“AS tidak berbagi segalanya dengan Israel dan mengecualikannya dari proses pengambilan keputusannya,” lanjut siaran tersebut.
Media militer Zionis itu melaporkan bahwa Israel khawatir Presiden AS Donald Trump dapat mencapai kesepakatan dengan Iran tentang program nuklirnya “tanpa memasukkan rudal balistik Iran.”
Laporan lain dari The Times of Israel, Senin (2/2/2026), menyebutkan bahwa Zamir mengadakan serangkaian pembicaraan selama akhir pekan dengan para pejabat Amerika mengenai kemungkinan serangan terhadap Iran.
Pekan lalu, kepala militer Israel bertemu dengan kepala Komando Pusat AS Laksamana Brad Cooper di Israel, sebagai bagian dari upaya antara militer untuk berkoordinasi menjelang serangan apa pun terhadap Iran.
Trump telah mengancam tindakan militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan menyusul protes anti-pemerintah di Iran pada akhir Desember.
Para pejabat Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan memicu respons yang “cepat dan komprehensif”.
Surat kabar keuangan Israel, The Calcalist, memperkirakan bahwa biaya kemungkinan perang terhadap Iran dapat mencapai USD10 miliar.
Menurut surat kabar tersebut, para pejabat senior di lembaga keamanan Israel khawatir bahwa putaran pertempuran lain dengan Iran dapat menelan biaya puluhan miliar shekel, “tergantung pada durasi dan sifat konflik.”
“Skenario yang relatif paling murah adalah jika Israel tidak melancarkan serangan sama sekali,” kata Ram Aminach, mantan penasihat ekonomi untuk kepala staf IDF.
“Bahkan jika Israel tidak melancarkan serangan, bukan berarti tidak akan ada biaya,” katanya.
“Pertahanan udara saja menelan biaya miliaran shekel, dan dalam skenario seperti itu, biaya militer saja dapat mencapai antara 7 dan 10 miliar shekel (USD2,23 hingga USD3,18 miliar).”
Sasson Hadad, mantan penasihat kepala Angkatan Darat Israel, mengatakan bahwa jika terjadi perang baru, biayanya bisa mencapai antara 15 miliar hingga 25 miliar shekel (USD4,78 miliar hingga US8 miliar).
The Calcalist memperkirakan biayanya bisa mencapai 30 miliar shekel (sekitar USD9,8 miliar). “Ini hanya biaya militer, belum termasuk biaya sipil," lanjut laporan tersebut.
Juni lalu, Israel, dengan dukungan AS, melancarkan perang 12 hari melawan Iran, yang memicu serangan balasan drone dan rudal dari Teheran sebelum Washington mengumumkan gencatan senjata.
(mas)
Lihat Juga :