Iran Balas Dendam, Tetapkan Tentara Seluruh Uni Eropa sebagai Kelompok Teroris
Senin, 02 Februari 2026 - 08:05 WIB
loading...
Parlemen Iran kompak kenakan seragam IRGC saat menetapkan tentara seluruh Uni Eropa sebagai kelompok teroris. Foto/Tehran Times
A
A
A
TEHERAN - Iran telah menetapkan tentara dari seluruh negara Uni Eropa (UE) sebagai kelompok teroris. Ini sebagai pembalasan setelah blok Eropa itu memasukkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ke dalam daftar organisasi teroris.
Uni Eropa menandai pergeseran simbolis dalam pendekatannya terhadap kepemimpinan Iran pada hari Kamis dengan menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris, menyusul penindakan paling berdarah terhadap protes anti-pemerintah Iran baru-baru ini.
Baca Juga: Uni Eropa Tetapkan IRGC Iran sebagai Teroris, Teheran Siap Balas Dendam
Namun, langkah Uni Eropa itu membuat Iran marah. "Dengan mencoba menyerang Garda Revolusi...orang Eropa sebenarnya menembak kaki mereka sendiri dan sekali lagi membuat keputusan yang bertentangan dengan kepentingan rakyat mereka dengan secara membabi buta menuruti Amerika," kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf dalam pidatonya di depan rekan-rekan Parlemen-nya yang semuanya mengenakan seragam IRGC pada hari Minggu.
"Menurut Pasal 7 undang-undang tentang tindakan balasan terhadap penetapan Garda Revolusi sebagai organisasi teroris, tentara negara-negara Eropa dianggap sebagai kelompok teroris," lanjut Qalibaf, seperti dikutip dari Reuters, Senin (2/2/2026).
Qalibaf mengatakan Komisi Keamanan Nasional Parlemen akan membahas pengusiran atase militer negara-negara Uni Eropa dan menindaklanjuti masalah ini dengan Kementerian Luar Negeri.
Para anggota parlemen meneriakkan "Matilah Amerika, Malulah Eropa" setelah ketua Parlemen menyelesaikan pidatonya.
IRGC juga mengeluarkan pernyataan pada hari Minggu yang mengatakan bahwa keputusan Uni Eropa mempersulit jalan menuju interaksi dan kerja sama yang konstruktif sekaligus memperkuat pendekatan konfrontatif.
Dibentuk setelah Revolusi Islam Iran tahun 1979 untuk melindungi sistem pemerintahan ulama Syiah, IRGC memiliki pengaruh besar di negara itu, mengendalikan sebagian besar ekonomi dan angkatan bersenjata.
Langkah Uni Eropa ini terjadi ketika Amerika Serikat meningkatkan kehadiran angkatan lautnya di Timur Tengah setelah Presiden Donald Trump berulang kali mengancam Iran jika tidak menyetujui kesepakatan nuklir atau gagal menghentikan pembunuhan para demonstran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan pada hari Minggu bahwa jika AS menyerang Iran, hal itu akan menjadi konflik regional.
Uni Eropa menandai pergeseran simbolis dalam pendekatannya terhadap kepemimpinan Iran pada hari Kamis dengan menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris, menyusul penindakan paling berdarah terhadap protes anti-pemerintah Iran baru-baru ini.
Baca Juga: Uni Eropa Tetapkan IRGC Iran sebagai Teroris, Teheran Siap Balas Dendam
Namun, langkah Uni Eropa itu membuat Iran marah. "Dengan mencoba menyerang Garda Revolusi...orang Eropa sebenarnya menembak kaki mereka sendiri dan sekali lagi membuat keputusan yang bertentangan dengan kepentingan rakyat mereka dengan secara membabi buta menuruti Amerika," kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf dalam pidatonya di depan rekan-rekan Parlemen-nya yang semuanya mengenakan seragam IRGC pada hari Minggu.
"Menurut Pasal 7 undang-undang tentang tindakan balasan terhadap penetapan Garda Revolusi sebagai organisasi teroris, tentara negara-negara Eropa dianggap sebagai kelompok teroris," lanjut Qalibaf, seperti dikutip dari Reuters, Senin (2/2/2026).
Qalibaf mengatakan Komisi Keamanan Nasional Parlemen akan membahas pengusiran atase militer negara-negara Uni Eropa dan menindaklanjuti masalah ini dengan Kementerian Luar Negeri.
Para anggota parlemen meneriakkan "Matilah Amerika, Malulah Eropa" setelah ketua Parlemen menyelesaikan pidatonya.
IRGC juga mengeluarkan pernyataan pada hari Minggu yang mengatakan bahwa keputusan Uni Eropa mempersulit jalan menuju interaksi dan kerja sama yang konstruktif sekaligus memperkuat pendekatan konfrontatif.
Dibentuk setelah Revolusi Islam Iran tahun 1979 untuk melindungi sistem pemerintahan ulama Syiah, IRGC memiliki pengaruh besar di negara itu, mengendalikan sebagian besar ekonomi dan angkatan bersenjata.
Langkah Uni Eropa ini terjadi ketika Amerika Serikat meningkatkan kehadiran angkatan lautnya di Timur Tengah setelah Presiden Donald Trump berulang kali mengancam Iran jika tidak menyetujui kesepakatan nuklir atau gagal menghentikan pembunuhan para demonstran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan pada hari Minggu bahwa jika AS menyerang Iran, hal itu akan menjadi konflik regional.
(mas)
Lihat Juga :