Indonesia Iuran untuk Dewan Perdamaian Bentukan Trump, Apa Manfaatnya bagi RI?

Kamis, 29 Januari 2026 - 07:11 WIB
loading...
Indonesia Iuran untuk...
Indonesia ikut iuran untuk Dewan Perdamaian yang dibentuk Presiden AS Donald Trump. Foto/Instagram @tedskyfriendsofficial
A A A
JAKARTA - Pemerintah Indonesia memutuskan ikut iuran untuk Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BOP) yang dibentuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Menteri Luar Negeri Indonesia (Menlu) Sugiono tidak mengungkap besaran iuran, dan menyatakan itu bersifat sukarela.

“Presiden memutuskan untuk ikut berpartisipasi,” ujar Sugiono dalam konferensi pers usai rapat tertutup bersama Komisi I DPR RI, Selasa lalu.

Baca Juga: Indonesia Gabung Dewan Perdamaian Bentukan Trump, Harus Bayar Rp16,7 Triliun?

Diplomat top Indonesia itu mengatakan iuran yang diikuti oleh Indonesia bukan iuran yang menjadi syarat menjadi anggota tetap Dewan Perdamaian senilai USD1 miliar (lebih dari Rp16,7 triliun).

Menurutnya, negara-negara yang diundang Trump akan menjadi anggota selama tiga tahun tanpa biaya. Iuran yang diikuti Indonesai, katanya, berutujan untuk menyelesaikan persoalan di Jalur Gaza, Palestina.

“Ini bukan membership fee, tapi kalau kita lihat kronologinya bahwa pembentukan Board of Peace ini merupakan suatu upaya untuk bisa menyelesaikan situasi di Gaza pada khususnya dan Palestina termasuk upaya rekonstruksi. Terus rekonstruksi siapa yang bayar? Kan seperti itu. Uangnya dari mana? Dananya dari mana? Kan seperti itu,” paparnya.

"Anggota-anggota yang diundang itu diajak untuk berpartisipasi di situ yang tentu saja ada keuntungan lain yaitu merupakan anggota tetap,” lanjut Sugiono.

Dia menegaskan iuran yang diikuti Indonesia bukan kewajiban yang dibebankan, melainkan bersifat sukarela. “Itu semua negara yang diundang, itu entitled untuk menjadi member selama tiga tahun. Itu bunyi charter-nya. Tapi kalau misalnya ikut berpartisipasi 1USD itu artinya dia permanen,” imbuh dia.

Selain tak diungkap besaran iuran Indonesia, mekanisme pengelolaan dan penyaluran dana oleh Dewan Perdamaian tersebut belum jelas. Lalu, apa sebenarnya manfaat bagi Indonesia bergabung dengan Dewan Perdamaian tersebut?

Manfaat Indonesia Gabung Dewan Perdamaian Trump versi Pemerintah

1. Akses Langsung dalam Pengambilan Keputusan Rekonstruksi Gaza

Pemerintah menyatakan dengan menjadi bagian dari Dewan Perdamaian, Indonesia memperoleh posisi strategis untuk terlibat langsung dalam perencanaan dan pengawasan rekonstruksi Gaza. Hal ini memberi Indonesia ruang untuk memastikan bantuan benar-benar sampai ke warga sipil Palestina.

2. Memperkuat Peran Indonesia sebagai Pemain Diplomasi Global

Keikutsertaan ini memperkuat citra Indonesia sebagai negara Muslim terbesar yang aktif dalam isu Palestina dan konflik Timur Tengah. Pemerintah menilai ini sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif dan peran Indonesia sebagai mediator.

3. Memperluas Jalur Bantuan Kemanusiaan ke Palestina

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyebut, keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian mempermudah akses logistik, koordinasi bantuan, dan perlindungan warga sipil di Gaza melalui mekanisme internasional yang lebih terstruktur.

4. Simbol “National Pride” Indonesia

Menlu Sugiono sebelumnya menyebut diundangnya Indonesia oleh Trump untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian merupakan bukti peran Indonesia semakin diakui dunia internasional. Ini menjadi "national pride" atau "kebanggaan nasional".

5. Posisi Strategis dalam Penyelesaian Konflik Global

Piagam Dewan Perdamaian menunjukkan mandatnya tidak hanya untuk Gaza, tetapi juga konflik lain. Artinya, Indonesia berpeluang terlibat dalam penyelesaian konflik internasional lain dan memperluas jejaring diplomasi keamanan global.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
AS Serang Iran 2 Hari...
AS Serang Iran 2 Hari Beruntun, Trump Umbar Ancaman Mengerikan
Eks Menteri Zionis:...
Eks Menteri Zionis: Trump Permalukan Netanyahu dan Israel dengan Penghinaan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
6 Fakta NATO Jelang...
6 Fakta NATO Jelang KTT Ankara, Memiliki 3,3 Juta Prajurit dan Anggaran Militer Terbesar di Dunia
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
AS Sesumbar Siap Fasilitasi...
AS Sesumbar Siap Fasilitasi Iran jika Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026
Kemlu Pastikan 3 WNI...
Kemlu Pastikan 3 WNI di Venezuela Aman Pascagempa Dahsyat M7,1
Ngeri! Suhu Paris Lebih...
Ngeri! Suhu Paris Lebih Panas daripada Makkah
Rekomendasi
Iran Tak Punya Keberuntungan,...
Iran Tak Punya Keberuntungan, Apa yang Terjadi dengan Sepak Bola Teheran?
AS Sesumbar Siap Fasilitasi...
AS Sesumbar Siap Fasilitasi Iran jika Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026
Bangun Integrasi Hukum...
Bangun Integrasi Hukum dan Seni Lewat Pustaka Nada
Berita Terkini
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
AS Serang Iran 2 Hari...
AS Serang Iran 2 Hari Beruntun, Trump Umbar Ancaman Mengerikan
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
Eks Menteri Zionis:...
Eks Menteri Zionis: Trump Permalukan Netanyahu dan Israel dengan Penghinaan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
3 Alasan Denmark Larang...
3 Alasan Denmark Larang Mengumandangkan Azan, Tidak Ingin Seperti Islamabad
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved