Media Iran Rayakan Kerusuhan Minneapolis AS, Sebut Karma Instan
Selasa, 27 Januari 2026 - 09:23 WIB
loading...
Media pemerintah Iran merayakan kerusuhan yang melanda Minneapolis, Amerika Serikat, menyebutnya sebagai karma instan. Foto/David Guttenfelder/The New York Times/Redux
A
A
A
TEHERAN - Media pemerintah Iran, Press TV, merayakan kerusuhan yang melanda Minneapolis yang dipicu oleh penembakan dua warga sipil Amerika Serikat (AS) oleh agen Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE).
Media itu mengecam pemerintahan Presiden Donald Trump sebagai munafik, dengan membandingkan kerusuhan di Minneapolis dengan protes nasional baru-baru ini di Republik Islam Iran.
Baca Juga: Ironi Penembakan Minneapolis, AS yang Klaim Negara Demokratis tapi Faktanya Otoriter
Iran memanfaatkan penembakan fatal terbaru terhadap pria AS bernama Alex Pretti oleh agen ICE, dengan alasan bahwa Presiden Trump tidak memiliki kedudukan moral untuk mengutuk bagaimana otoritas Iran menangani demonstrasi nasional mereka sendiri, yang dipicu oleh tekanan ekonomi dan mata uang yang runtuh setelah bertahun-tahun sanksi yang diberlakukan AS.
Press TV menunjuk pada seruan publik Trump sebelumnya kepada warga Iran untuk bangkit dan turun ke jalan, sementara demonstrasi Minneapolis saat ini disebut sebagai "karma instan".
Saluran berita pemerintah Iran itu bahkan mendedikasikan sebuah segmen di mana mereka menyajikannya sebagai iterasi terbaru dari kemarahan atas tindakan para agen ICE.
Pembawa acara di Press TV, Roya Pour Bagher, merujuk pada unggahan media sosial oleh warga Amerika yang menyatakan kemarahan atas pembunuhan Pretti, dan menggambarkan "meningkatnya kekhawatiran akan konflik sipil yang akan segera terjadi—ya, perang sipil di Amerika Serikat."
Dalam klip terpisah, Bagher mengatakan bahwa rekaman pembunuhan Pretti jelas menunjukkan bahwa dia tidak menimbulkan ancaman bagi siapa pun, menambahkan bahwa lebih banyak protes dapat membantu menghentikan pembunuhan tersebut.
"Seruan di media sosial yang menuntut pemecatan Trump sebelum AS terdorong ke dalam ketidakpastian semakin lantang, seiring dengan meningkatnya kejahatan ICE terhadap warga sipil," bunyi siaran Press TV.
"Karma instan?," lanjut siaran tersebut, dengan mengutip komentar Trump sebelumnya yang menyerukan rakyat Iran untuk terus demo: "Patriot Iran, TERUS BERPROTES—AMBIL ALIH LEMBAGA-LEMBAGA ANDA!!!"
Dalam sebuah wawancara dengan situs web Press TV, Nury Vittachi, seorang jurnalis, penulis, dan komentator politik yang berbasis di Hong Kong, mengatakan bahwa kerusuhan mematikan dan tindakan terorisme di Iran dalam beberapa minggu terakhir menunjukkan tanda-tanda yang jelas dari kampanye terkoordinasi yang diatur oleh Amerika Serikat dan Israel.
“Tidak diragukan lagi bahwa ada keterlibatan besar dari kekuatan asing selama kerusuhan. Saya telah melihat prosedur yang sama di banyak lokasi,” katanya.
Surat kabar konservatif Iran, Hamshahri, juga menyerang Trump atas apa yang digambarkan sebagai kemunafikan Amerika dalam membandingkan protes di Iran dengan protes di Minneapolis, menurut saluran The Middle Eastern di X.
"Presiden AS dan pejabat senior Amerika, sambil mendukung para perusuh di Iran, mengancam para demonstran Amerika dengan tindakan keras dan menindas mereka," tulis surat kabar tersebut, sebagaimana dikutip dari Newsweek, Selasa (27/1/2026).
Ribuan orang tewas, di antaranya setidaknya puluhan atau bahkan mungkin ratusan polisi, personel keamanan, dan orang-orang pro-pemerintah. Tetapi mayoritas korban jelas berada di pihak anti-pemerintah, seperti yang diakui sumber-sumber Iran baru-baru ini.
Media itu mengecam pemerintahan Presiden Donald Trump sebagai munafik, dengan membandingkan kerusuhan di Minneapolis dengan protes nasional baru-baru ini di Republik Islam Iran.
Baca Juga: Ironi Penembakan Minneapolis, AS yang Klaim Negara Demokratis tapi Faktanya Otoriter
Iran memanfaatkan penembakan fatal terbaru terhadap pria AS bernama Alex Pretti oleh agen ICE, dengan alasan bahwa Presiden Trump tidak memiliki kedudukan moral untuk mengutuk bagaimana otoritas Iran menangani demonstrasi nasional mereka sendiri, yang dipicu oleh tekanan ekonomi dan mata uang yang runtuh setelah bertahun-tahun sanksi yang diberlakukan AS.
Press TV menunjuk pada seruan publik Trump sebelumnya kepada warga Iran untuk bangkit dan turun ke jalan, sementara demonstrasi Minneapolis saat ini disebut sebagai "karma instan".
Saluran berita pemerintah Iran itu bahkan mendedikasikan sebuah segmen di mana mereka menyajikannya sebagai iterasi terbaru dari kemarahan atas tindakan para agen ICE.
Pembawa acara di Press TV, Roya Pour Bagher, merujuk pada unggahan media sosial oleh warga Amerika yang menyatakan kemarahan atas pembunuhan Pretti, dan menggambarkan "meningkatnya kekhawatiran akan konflik sipil yang akan segera terjadi—ya, perang sipil di Amerika Serikat."
Dalam klip terpisah, Bagher mengatakan bahwa rekaman pembunuhan Pretti jelas menunjukkan bahwa dia tidak menimbulkan ancaman bagi siapa pun, menambahkan bahwa lebih banyak protes dapat membantu menghentikan pembunuhan tersebut.
"Seruan di media sosial yang menuntut pemecatan Trump sebelum AS terdorong ke dalam ketidakpastian semakin lantang, seiring dengan meningkatnya kejahatan ICE terhadap warga sipil," bunyi siaran Press TV.
"Karma instan?," lanjut siaran tersebut, dengan mengutip komentar Trump sebelumnya yang menyerukan rakyat Iran untuk terus demo: "Patriot Iran, TERUS BERPROTES—AMBIL ALIH LEMBAGA-LEMBAGA ANDA!!!"
Dalam sebuah wawancara dengan situs web Press TV, Nury Vittachi, seorang jurnalis, penulis, dan komentator politik yang berbasis di Hong Kong, mengatakan bahwa kerusuhan mematikan dan tindakan terorisme di Iran dalam beberapa minggu terakhir menunjukkan tanda-tanda yang jelas dari kampanye terkoordinasi yang diatur oleh Amerika Serikat dan Israel.
“Tidak diragukan lagi bahwa ada keterlibatan besar dari kekuatan asing selama kerusuhan. Saya telah melihat prosedur yang sama di banyak lokasi,” katanya.
Surat kabar konservatif Iran, Hamshahri, juga menyerang Trump atas apa yang digambarkan sebagai kemunafikan Amerika dalam membandingkan protes di Iran dengan protes di Minneapolis, menurut saluran The Middle Eastern di X.
"Presiden AS dan pejabat senior Amerika, sambil mendukung para perusuh di Iran, mengancam para demonstran Amerika dengan tindakan keras dan menindas mereka," tulis surat kabar tersebut, sebagaimana dikutip dari Newsweek, Selasa (27/1/2026).
Ribuan orang tewas, di antaranya setidaknya puluhan atau bahkan mungkin ratusan polisi, personel keamanan, dan orang-orang pro-pemerintah. Tetapi mayoritas korban jelas berada di pihak anti-pemerintah, seperti yang diakui sumber-sumber Iran baru-baru ini.
(mas)
Lihat Juga :