Trump Umumkan Kekuatan Besar AS Menuju Iran, Awas Perang Pecah Lagi!
Jum'at, 23 Januari 2026 - 09:08 WIB
loading...
Presiden Donald Trump umumkan kekuatan besar AS sedang menuju ke Iran, memicu kekhawatiran akan pecahnya perang baru. Foto/MCS3 Stephen Doyle/US Navy/UPI
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa armada Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), yang dia sebut "kekuatan besar" sedang menuju ke Iran. Pengumuman ini dikhawatirkan menjadi awal perang baru antara Washington dan Teheran setelah perang singkat pada Juni tahun lalu.
Pekan lalu, Trump membatakan rencana serangan baru AS terhadap Iran setelah Gedung Putih mengatakan Teheran telah menghentikan rencana eksekusi terhadap para demonstran anti-pemerintah.
Baca Juga: Trump Batal Serang Iran, Mengapa AS Tetap Kerahkan Kapal Induk ke Timur Tengah?
Namun presiden dari Partai Republik itu pada hari Kamis mengonfirmasi persiapan militer Amerika yang berkelanjutan. Media-media AS telah melaporkan dalam pekan lalu bahwa Kelompok Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln diperintahkan bergerak dari Laut China Selatan ke Timur Tengah.
"Kami mengawasi Iran," kata Trump kepada wartawan di Air Force One saat dia terbang pulang dari Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, seperti dikutip AFP, Jumat (23/1/2026).
"Anda tahu kami memiliki banyak kapal yang menuju ke arah itu, untuk berjaga-jaga...Kami memiliki kekuatan besar yang menuju ke Iran," lanjut Trump.
"Saya lebih suka tidak melihat apa pun terjadi tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat cermat," imbuh Trump.
Dia menggambarkan pasukan tersebut sebagai "armada" dan "armada besar", tetapi menambahkan, "Mungkin kita tidak perlu menggunakannya."
Trump menegaskan kembali bahwa ancamannya untuk menggunakan kekerasan terhadap Teheran telah menghentikan 837 eksekusi gantung terhadap para demonstran anti-pemerintah. Dia juga menyatakan bahwa dirinya terbuka untuk berdialog dengan Iran.
Otoritas Iran pada hari Rabu menyampaikan jumlah korban resmi pertama dari gelombang protes—yang tampaknya telah mereda dalam beberapa hari terakhir—dengan mengatakan 3.117 orang tewas. Kelompok hak asasi manusia mengatakan jumlah korban tewas sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.
Trump telah berulang kali membuka opsi tindakan militer baru terhadap Iran setelah Washington mendukung dan bergabung dengan perang 12 hari Israel pada bulan Juni 2025 yang bertujuan untuk melemahkan program nuklir dan rudal balistik republik Islam tersebut.
Pekan lalu, Trump membatakan rencana serangan baru AS terhadap Iran setelah Gedung Putih mengatakan Teheran telah menghentikan rencana eksekusi terhadap para demonstran anti-pemerintah.
Baca Juga: Trump Batal Serang Iran, Mengapa AS Tetap Kerahkan Kapal Induk ke Timur Tengah?
Namun presiden dari Partai Republik itu pada hari Kamis mengonfirmasi persiapan militer Amerika yang berkelanjutan. Media-media AS telah melaporkan dalam pekan lalu bahwa Kelompok Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln diperintahkan bergerak dari Laut China Selatan ke Timur Tengah.
"Kami mengawasi Iran," kata Trump kepada wartawan di Air Force One saat dia terbang pulang dari Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, seperti dikutip AFP, Jumat (23/1/2026).
"Anda tahu kami memiliki banyak kapal yang menuju ke arah itu, untuk berjaga-jaga...Kami memiliki kekuatan besar yang menuju ke Iran," lanjut Trump.
"Saya lebih suka tidak melihat apa pun terjadi tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat cermat," imbuh Trump.
Dia menggambarkan pasukan tersebut sebagai "armada" dan "armada besar", tetapi menambahkan, "Mungkin kita tidak perlu menggunakannya."
Trump menegaskan kembali bahwa ancamannya untuk menggunakan kekerasan terhadap Teheran telah menghentikan 837 eksekusi gantung terhadap para demonstran anti-pemerintah. Dia juga menyatakan bahwa dirinya terbuka untuk berdialog dengan Iran.
Otoritas Iran pada hari Rabu menyampaikan jumlah korban resmi pertama dari gelombang protes—yang tampaknya telah mereda dalam beberapa hari terakhir—dengan mengatakan 3.117 orang tewas. Kelompok hak asasi manusia mengatakan jumlah korban tewas sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.
Trump telah berulang kali membuka opsi tindakan militer baru terhadap Iran setelah Washington mendukung dan bergabung dengan perang 12 hari Israel pada bulan Juni 2025 yang bertujuan untuk melemahkan program nuklir dan rudal balistik republik Islam tersebut.
(mas)
Lihat Juga :