Netanyahu Gertak Iran: Israel Akan Bertindak dengan Kekuatan yang Belum Pernah Dilihat!

Selasa, 20 Januari 2026 - 15:28 WIB
loading...
Netanyahu Gertak Iran:...
PM Benjamin Netanyahu menyatakan Israel akan bertindak dengan kekuatan yang belum pernah dilihat jika diserang Iran. Foto/GPO Israel
A A A
TEL AVIV - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah melontarkan gertakan keras terhadap Iran. Dia mengatakan Israel akan bertindak dengan kekuatan yang belum pernah dilihat sebelumnya jika diserang oleh Teheran di tengah ketegangan regional.

Netanyahu, dalam pidatonya di Knesset (Parlemen Israel) mengatakan Tel Aviv dengan saksama memantau Iran saat negara itu kembali tenang setelah gelombang protes yang memicu penindakan berdarah.

"Jika mereka melakukan kesalahan dan menyerang kita, kita akan bertindak dengan kekuatan yang belum pernah mereka alami," kata Netanyahu, seperti dikutip dari kantor berita Xinhua, Selasa (20/1/2026).

Baca Juga: Langka, PM Israel Netanyahu Minta Trump Tunda Serangan ASterhadap Iran

Pemimpin rezim Zionis itu memperingatkan bahwa tidak ada yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan bagi Iran. "Tetapi negara itu tidak akan kembali seperti dulu," ujarnya, menyiratkan konsekuensi yang tidak dapat diubah bagi Teheran dalam konflik apa pun.

Gertakan itu muncul di tengah laporan yang menunjukkan Amerika Serikat (AS) sedang memindahkan Gugus Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln yang bertenaga nuklir menuju Timur Tengah setelah kebuntuan dengan rezim teokratis Iran atas penindakan berdarah terhadap para demonstran anti-pemerintah.

Situasi di Iran dan Kapal Induk AS


Penindakan terhadap para demonstran yang ikut serta dalam protes nasional di Iran menewaskan sedikitnya 4.029 orang, kata para aktivis pada hari Selasa. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS mengatakan lebih dari 26.000 orang juga telah ditahan dalam penindakan tersebut.

Disebutkan bahwa dari korban tewas, 3.786 adalah demonstran, 180 adalah pasukan keamanan, 28 adalah anak-anak, dan 35 adalah orang-orang yang tidak berdemonstrasi.

Mereka khawatir lebih banyak lagi yang mungkin telah tewas. Kantor berita tersebut menyatakan datanya telah akurat dan bergantung pada jaringan aktivis di lapangan untuk mengonfirmasi setiap kematian.

Sementara itu, ketegangan tetap tinggi antara Amerika Serikat dan Iran atas penindakan protes tersebut setelah Presiden AS Donald Trump menetapkan dua garis merah untuk Republik Islam Iran—pembunuhan demonstran damai dan Teheran melakukan eksekusi massal setelah demonstrasi.

Ketika ketegangan tetap tinggi antara Teheran dan Washington, data pelacakan kapal yang dianalisis oleh AP pada hari Senin menunjukkan kapal induk USS Abraham Lincoln, serta kapal-kapal militer Amerika lainnya, berada di Selat Malaka setelah melewati Singapura pada rute yang dapat membawa mereka ke Timur Tengah.

Sebelumnya, USS Abraham Lincoln berada di Laut China Selatan dengan kelompok serangnya sebagai pencegahan terhadap China atas ketegangan dengan Taiwan. Data pelacakan menunjukkan bahwa USS Frank E. Petersen Jr., USS Michael Murphy, dan USS Spruance, semuanya kapal perusak rudal berpemandu kelas Arleigh Burke, sedang berlayar bersama USS Abraham Lincoln melintasi Selat Malaka.

Beberapa laporan media AS yang mengutip pejabat anonim mengatakan bahwa USS Abraham Lincoln, yang memiliki pelabuhan asal di San Diego, sedang dalam perjalanan ke Timur Tengah. Kemungkinan besar masih membutuhkan beberapa hari perjalanan sebelum pesawat-pesawat di kapal itu berada dalam jangkauan wilayah tersebut.

Timur Tengah belum memiliki kelompok kapal induk atau kelompok amfibi yang siap tempur, yang kemungkinan akan mempersulit diskusi tentang operasi militer yang menargetkan Iran, mengingat penentangan luas negara-negara Teluk Arab terhadap serangan semacam itu.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Protes Serangan Mematikan...
Protes Serangan Mematikan Israel di Lebanon, Iran Tutup Selat Hormuz
Swiss: Perundingan AS...
Swiss: Perundingan AS dan Iran Berlanjut di Burgenstock
Israel Terus Serang...
Israel Terus Serang Lebanon, Utusan AS Kirim Negosiator ke Jenewa
3 Penyebab Batalnya...
3 Penyebab Batalnya Penandatanganan Perjanjian Damai AS dan Iran
Wapres Vance Batalkan...
Wapres Vance Batalkan Kunjungan ke Jenewa, Swiss: Perundingan AS-Iran Ditunda
Tanpa Bantuan AS, Trump:...
Tanpa Bantuan AS, Trump: Israel Akan Hancur
FIFA Gencar Berantas...
FIFA Gencar Berantas Ujaran Kebencian di Piala Dunia 2026
Serangan Rusia Tewaskan...
Serangan Rusia Tewaskan 9 Orang di Ukraina, Katedral Bersejarah Kyiv Terbakar
Siap-Siap, Apple bakal...
Siap-Siap, Apple bakal Naikkan Harga iPhone Dkk Imbas Biaya Chip Melonjak
Rekomendasi
Kritik Pemadaman Listrik,...
Kritik Pemadaman Listrik, Komisi VI DPR: Tidak Boleh Lagi Terjadi
Kukuhkan Kepengurusan...
Kukuhkan Kepengurusan Nasional, GPIM Komitmen Sukseskan Program Prabowo
Tembus Pasar Global,...
Tembus Pasar Global, Brand Lokal Queensi Sukses Cetak Rekor 1 Juta Penjualan
Berita Terkini
Protes Serangan Mematikan...
Protes Serangan Mematikan Israel di Lebanon, Iran Tutup Selat Hormuz
Swiss: Perundingan AS...
Swiss: Perundingan AS dan Iran Berlanjut di Burgenstock
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Israel Terus Serang...
Israel Terus Serang Lebanon, Utusan AS Kirim Negosiator ke Jenewa
3 Penyebab Batalnya...
3 Penyebab Batalnya Penandatanganan Perjanjian Damai AS dan Iran
Wapres Vance Batalkan...
Wapres Vance Batalkan Kunjungan ke Jenewa, Swiss: Perundingan AS-Iran Ditunda
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved