Maduro Mendekam di Penjara AS, Bodyguard-nya Malah Diangkat Jadi Menteri Venezuela
Selasa, 13 Januari 2026 - 15:40 WIB
loading...
Kapten Juan Escalona, bodyguard Nicolas Maduro yang diangkat jadi menteri di kabinet baru Venezuela. Foto/via NDTV
A
A
A
CARACAS - Presiden Venezuela yang digulingkan, Nicolas Maduro, saat ini mendekam di penjara Amerika Serikat (AS) setelah diculik pasukan khusus Delta Force dalam operasi militer Amerika di Caracas pada 3 Januari lalu. Beda nasib, bodyguard atau pengawal pribadi Maduro; Kapten Juan Escalona, justru diangkat menjadi menteri di kabinet baru Venezuela.
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, pada hari Senin menunjuk Escalona sebagai menteri kantor kepresidenan. Tugas menteri tersebut mengelola agenda pemimpin dan berkoordinasi dengan lembaga-lembaga negara.
Baca Juga: AS Gunakan Senjata Misterius saat Culik Maduro, Bikin Tentara Venezuela Muntah Darah
Escalona bukan bodyguard sembarangan. Dia dulunya adalah ajudan Hugo Chavez, pemimpin Venezuela sebelum Maduro. Setelah kematian Chavez, Escalona menjadi bagian dari tim keamanan Maduro hingga Maduro diculik pasukan khusus AS bersama istrinya; Cilia Flores.
Operasi militer AS di Caracas telah menewaskan sekitar 55 anggota tim keamanan Maduro, termasuk 32 warga Kuba yang melindunginya berdasarkan kesepakatan dengan sekutu Venezuela di Havana.
Kehadiran Escalona pada rapat kabinet pertama Rodriguez pekan lalu membantah rumor bahwa dia telah meninggal dalam serangan AS.
Beberapa pendukung Maduro menuduh bahwa pemimpin sosialis itu telah dikhianati oleh sekutu dekatnya.
Pengangkatan Escalona sebagai menteri termasuk di antara perubahan awal dalam pemerintahan Rodriguez yang berada di bawah tekanan Washington untuk menegosiasikan akses AS ke minyak Venezuela.
Rodriguez juga mengganti kepala pengawal presiden, yang memimpin unit kontra intelijen yang ditakuti, dan menunjuk seorang menteri ekonomi baru.
Perwira militer lainnya, Anibal Coronado, diangkat sebagai menteri lingkungan hidup.
Melalui Telegram, Rodriguez mengumumkan pengangkatan Escalona sebagai menteri. Dia memuji kesetiaan dan pengalaman Escalona.
Maduro dan Flores saat ini berada di penjara New York. Pasangan tersebut menghadapi persidangan atas tuduhan perdagangan narkoba yang telah mereka bantah.
Presiden AS Donald Trump mengeklaim dirinya "bertanggung jawab" atas Venezuela dan akan bekerja sama dengan Rodriguez, serta mengisyaratkan kemungkinan pertemuan dengannya.
Para pakar mengatakan penculikan Maduro dan pembunuhan 32 warga Kuba yang ditugaskan untuk melindunginya dalam operasi militer AS merupakan pukulan besar bagi dinas intelijen Kuba yang dihormati.
Karena takut dikhianati oleh para pembangkang di dalam jajaran Venezuela, Maduro yang berhaluan kiri—seperti mendiang mentornya Hugo Chavez—menempatkan pengawal keamanannya di Kuba yang dikuasai komunis.
Namun, pasukan Kuba terbukti tidak mampu menandingi pasukan khusus AS yang dikirim dengan helikopter untuk menculik Maduro dari kompleks militer setelah jet-jet tempur AS membombardir pertahanan udara Venezuela.
Para pejabat Caracas mengatakan dari 32 warga Kuba yang tewas—bersama dengan 23 tentara Venezuela—21 di antaranya berasal dari Kementerian Dalam Negeri Kuba yang mengawasi dinas intelijen. Sebelas sisanya berasal dari militer Kuba.
Para pakar sepakat bahwa kunci keberhasilan operasi AS yang berjalan mulus—yang dipersiapkan dengan cermat selama berbulan-bulan, secara rahasia—adalah unsur kejutan.
Namun, mantan perwira militer Venezuela, Jose Gustavo Arocha dari Center for a Secure Free Society, sebuah lembaga think tank AS yang mengkhususkan diri dalam isu-isu pertahanan, juga menyatakan bahwa intelijen Kuba telah salah menilai ancaman tersebut.
"Intelijen Kuba meyakinkan rezim Maduro dan badan-badan keamanannya bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah menyerang wilayah Venezuela," kata Arocha.
Mantan perwira intelijen AS, Fulton Armstrong, yang sekarang menjadi peneliti Amerika Latin di American University di Washington, juga menunjuk pada kegagalan intelijen.
Yang utama di antaranya, katanya, adalah kegagalan untuk mengantisipasi serangan dan kemudian mendeteksi helikopter yang memasuki wilayah udara Venezuela.
"Bahkan peringatan lima atau sepuluh menit saja akan membuat perbedaan besar bagi para penjaga dan bagi Maduro," kata mantan agen CIA itu.
Namun, pasukan AS memiliki keunggulan besar berupa drone siluman, yang digunakan untuk memantau pergerakan pemimpin Venezuela secara real-time, serta senjata dan perlengkapan tempur yang lebih canggih.
Paul Hare, mantan duta besar Inggris untuk Kuba dan Venezuela, berpendapat bahwa intelijen Kuba meremehkan akses AS terhadap "kerja sama orang dalam di Venezuela"—seorang informan di kubu Maduro.
Mengutip sumber yang dekat dengan operasi tersebut, The New York Times melaporkan bahwa sumber CIA di dalam pemerintahan Venezuela mengungkapkan lokasi Maduro.
Amerika Serikat telah menawarkan hadiah sebesar USD50 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya.
Selama beberapa dekade, dinas rahasia Kuba, yang dilatih selama era Soviet oleh KGB, menikmati reputasi tak terkalahkan.
Selain menggagalkan sekitar 600 upaya pembunuhan terhadap mendiang pemimpin Fidel Castro, Kuba terkenal karena kemampuannya untuk menyusup ke dinas intelijen asing dan merekrut informan berpangkat tinggi, khususnya warga Amerika.
Kasus terbaru yang terungkap adalah kasus Victor Manuel Rocha, mantan diplomat AS yang dijatuhi hukuman 15 tahun penjara pada tahun 2024 setelah bekerja selama lebih dari empat dekade untuk negara Kuba.
"Namun Kuba tidak cukup memahami pemerintahan Trump," kata Arocha, seraya mencatat bahwa Strategi Keamanan Nasional pemerintahan yang diumumkan pada bulan Desember dengan jelas mengartikulasikan tujuan Trump untuk menegaskan dominasi AS atas Amerika Latin.
Washington secara teratur mengecam peran Kuba, sejak tahun 2000-an, dalam aparat keamanan Venezuela.
Tanggapan rutin dari Caracas dan Havana adalah bahwa Kuba, sebagai imbalan atas pasokan minyak Venezuela, menyediakan dokter dan pekerja kemanusiaan kepada sekutunya.
Arocha berpendapat bahwa bertahun-tahun melakukan hal yang sama dengan sukses membutakan Kuba terhadap kesediaan Trump untuk menentang diplomasi dan hukum internasional, sehingga mereka tidak menyadari kedatangannya.
Presiden AS dari Partai Republik itu mengejutkan dunia dengan memerintahkan penangkapan presiden Venezuela dalam apa yang dikatakan pemerintahannya sebagai operasi penegakan hukum yang tidak memerlukan otorisasi dari Kongres.
"Semua kemampuan intelijen Kuba diblokir untuk pertama kalinya di kawasan ini...karena metode tradisional mereka menjadi tidak relevan melawan gaya pengambilan keputusan baru ini," kata Arocha.
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, pada hari Senin menunjuk Escalona sebagai menteri kantor kepresidenan. Tugas menteri tersebut mengelola agenda pemimpin dan berkoordinasi dengan lembaga-lembaga negara.
Baca Juga: AS Gunakan Senjata Misterius saat Culik Maduro, Bikin Tentara Venezuela Muntah Darah
Escalona bukan bodyguard sembarangan. Dia dulunya adalah ajudan Hugo Chavez, pemimpin Venezuela sebelum Maduro. Setelah kematian Chavez, Escalona menjadi bagian dari tim keamanan Maduro hingga Maduro diculik pasukan khusus AS bersama istrinya; Cilia Flores.
Operasi militer AS di Caracas telah menewaskan sekitar 55 anggota tim keamanan Maduro, termasuk 32 warga Kuba yang melindunginya berdasarkan kesepakatan dengan sekutu Venezuela di Havana.
Kehadiran Escalona pada rapat kabinet pertama Rodriguez pekan lalu membantah rumor bahwa dia telah meninggal dalam serangan AS.
Beberapa pendukung Maduro menuduh bahwa pemimpin sosialis itu telah dikhianati oleh sekutu dekatnya.
Pengangkatan Escalona sebagai menteri termasuk di antara perubahan awal dalam pemerintahan Rodriguez yang berada di bawah tekanan Washington untuk menegosiasikan akses AS ke minyak Venezuela.
Rodriguez juga mengganti kepala pengawal presiden, yang memimpin unit kontra intelijen yang ditakuti, dan menunjuk seorang menteri ekonomi baru.
Perwira militer lainnya, Anibal Coronado, diangkat sebagai menteri lingkungan hidup.
Melalui Telegram, Rodriguez mengumumkan pengangkatan Escalona sebagai menteri. Dia memuji kesetiaan dan pengalaman Escalona.
Maduro dan Flores saat ini berada di penjara New York. Pasangan tersebut menghadapi persidangan atas tuduhan perdagangan narkoba yang telah mereka bantah.
Presiden AS Donald Trump mengeklaim dirinya "bertanggung jawab" atas Venezuela dan akan bekerja sama dengan Rodriguez, serta mengisyaratkan kemungkinan pertemuan dengannya.
Intelijen Kuba Salah Perhitungan
Para pakar mengatakan penculikan Maduro dan pembunuhan 32 warga Kuba yang ditugaskan untuk melindunginya dalam operasi militer AS merupakan pukulan besar bagi dinas intelijen Kuba yang dihormati.
Karena takut dikhianati oleh para pembangkang di dalam jajaran Venezuela, Maduro yang berhaluan kiri—seperti mendiang mentornya Hugo Chavez—menempatkan pengawal keamanannya di Kuba yang dikuasai komunis.
Namun, pasukan Kuba terbukti tidak mampu menandingi pasukan khusus AS yang dikirim dengan helikopter untuk menculik Maduro dari kompleks militer setelah jet-jet tempur AS membombardir pertahanan udara Venezuela.
Para pejabat Caracas mengatakan dari 32 warga Kuba yang tewas—bersama dengan 23 tentara Venezuela—21 di antaranya berasal dari Kementerian Dalam Negeri Kuba yang mengawasi dinas intelijen. Sebelas sisanya berasal dari militer Kuba.
Para pakar sepakat bahwa kunci keberhasilan operasi AS yang berjalan mulus—yang dipersiapkan dengan cermat selama berbulan-bulan, secara rahasia—adalah unsur kejutan.
Namun, mantan perwira militer Venezuela, Jose Gustavo Arocha dari Center for a Secure Free Society, sebuah lembaga think tank AS yang mengkhususkan diri dalam isu-isu pertahanan, juga menyatakan bahwa intelijen Kuba telah salah menilai ancaman tersebut.
"Intelijen Kuba meyakinkan rezim Maduro dan badan-badan keamanannya bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah menyerang wilayah Venezuela," kata Arocha.
Mantan perwira intelijen AS, Fulton Armstrong, yang sekarang menjadi peneliti Amerika Latin di American University di Washington, juga menunjuk pada kegagalan intelijen.
Yang utama di antaranya, katanya, adalah kegagalan untuk mengantisipasi serangan dan kemudian mendeteksi helikopter yang memasuki wilayah udara Venezuela.
"Bahkan peringatan lima atau sepuluh menit saja akan membuat perbedaan besar bagi para penjaga dan bagi Maduro," kata mantan agen CIA itu.
Namun, pasukan AS memiliki keunggulan besar berupa drone siluman, yang digunakan untuk memantau pergerakan pemimpin Venezuela secara real-time, serta senjata dan perlengkapan tempur yang lebih canggih.
Paul Hare, mantan duta besar Inggris untuk Kuba dan Venezuela, berpendapat bahwa intelijen Kuba meremehkan akses AS terhadap "kerja sama orang dalam di Venezuela"—seorang informan di kubu Maduro.
Mengutip sumber yang dekat dengan operasi tersebut, The New York Times melaporkan bahwa sumber CIA di dalam pemerintahan Venezuela mengungkapkan lokasi Maduro.
Amerika Serikat telah menawarkan hadiah sebesar USD50 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya.
Selama beberapa dekade, dinas rahasia Kuba, yang dilatih selama era Soviet oleh KGB, menikmati reputasi tak terkalahkan.
Selain menggagalkan sekitar 600 upaya pembunuhan terhadap mendiang pemimpin Fidel Castro, Kuba terkenal karena kemampuannya untuk menyusup ke dinas intelijen asing dan merekrut informan berpangkat tinggi, khususnya warga Amerika.
Kasus terbaru yang terungkap adalah kasus Victor Manuel Rocha, mantan diplomat AS yang dijatuhi hukuman 15 tahun penjara pada tahun 2024 setelah bekerja selama lebih dari empat dekade untuk negara Kuba.
"Namun Kuba tidak cukup memahami pemerintahan Trump," kata Arocha, seraya mencatat bahwa Strategi Keamanan Nasional pemerintahan yang diumumkan pada bulan Desember dengan jelas mengartikulasikan tujuan Trump untuk menegaskan dominasi AS atas Amerika Latin.
Washington secara teratur mengecam peran Kuba, sejak tahun 2000-an, dalam aparat keamanan Venezuela.
Tanggapan rutin dari Caracas dan Havana adalah bahwa Kuba, sebagai imbalan atas pasokan minyak Venezuela, menyediakan dokter dan pekerja kemanusiaan kepada sekutunya.
Arocha berpendapat bahwa bertahun-tahun melakukan hal yang sama dengan sukses membutakan Kuba terhadap kesediaan Trump untuk menentang diplomasi dan hukum internasional, sehingga mereka tidak menyadari kedatangannya.
Presiden AS dari Partai Republik itu mengejutkan dunia dengan memerintahkan penangkapan presiden Venezuela dalam apa yang dikatakan pemerintahannya sebagai operasi penegakan hukum yang tidak memerlukan otorisasi dari Kongres.
"Semua kemampuan intelijen Kuba diblokir untuk pertama kalinya di kawasan ini...karena metode tradisional mereka menjadi tidak relevan melawan gaya pengambilan keputusan baru ini," kata Arocha.
(mas)
Lihat Juga :