Iran Anggap Demonstran Musuh Tuhan yang Akan Dihukum Mati
Minggu, 11 Januari 2026 - 06:30 WIB
loading...
Pihak berwenang Iran anggap para demonstran sebagai musuh Tuhan yang akan dihukum mati. Foto/X via Times of Israel
A
A
A
TEHERAN - Di tengah dua minggu protes massal, Jaksa Agung Iran Mohammad Movahedi Azad telah memperingatkan bahwa siapa pun yang berpartisipasi dalam demonstrasi akan dianggap sebagai "musuh Tuhan". Menurutnya, tuduhan sebagai "musuh Tuhan" berakibat padahukuman mati sesuai hukum Iran.
Pernyataan keras tersebut disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah Iran pada Sabtu malam. Azad mengatakan bahwa bahkan mereka yang membantu para perusuh akan menghadapi tuduhan serupa.
Baca Juga: AS Bersiap Ikut Campur Dalam Kekacauan Iran: 'Bantuan Sedang Dalam Perjalanan'
Pasal 186 hukum Iran menyatakan bahwa jika suatu kelompok atau organisasi terlibat dalam perlawanan bersenjata terhadap Republik Islam, semua anggota atau pendukung yang secara sadar membantu tujuan kelompok atau organisasi tersebut dapat dianggap sebagai "mohareb" atau "musuh Tuhan", bahkan jika mereka tidak secara pribadi berpartisipasi dalam kegiatan bersenjata.
Hukuman untuk "mohareb", yang diuraikan dalam Pasal 190 hukum tersebut, sangat berat dan termasuk hukuman mati, hukuman gantung, amputasi tangan kanan dan kaki kiri, atau pengasingan internal permanen.
"Jaksa penuntut harus dengan cermat dan tanpa penundaan, dengan mengeluarkan dakwaan, mempersiapkan dasar untuk persidangan dan konfrontasi yang menentukan dengan mereka yang, dengan mengkhianati bangsa dan menciptakan ketidakamanan, berupaya untuk mendominasi negara," bunyi pernyataan Azad, seperti dikutip NDTV, Sabtu (10/1/2026). "Proses hukum harus dilakukan tanpa kelonggaran, belas kasihan, atau toleransi."
Setidaknya 65 orang tewas selama protes, dan lebih dari 2.300 orang ditahan, menurut Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat (AS). Versi laporan TIME, yang mengutip dokter di Teheran, menyebut 217 orang telah tewas.
Internet dan saluran telepon di Teheran dilaporkan telah diputus sejak Kamis.
Putra Mahkota Iran yang diasingkan, Reza Pahlavi, menyerukan protes dan mendesak para demonstran untuk turun ke jalan pada hari Sabtu dan Minggu, membawa bendera singa dan matahari Iran kuno serta simbol-simbol nasional lainnya yang digunakan pada masa Shah untuk "mengeklaim ruang publik sebagai milik Anda sendiri".
Demonstrasi tersebut bermula sebagai ketidakpuasan publik terhadap pemerintah Republik Islam Iran ketika mata uang rial Iran anjlok ke titik terendah sepanjang masa yaitu lebih dari 1,4 juta per dolar AS pada akhir Desember 2025, dan sejak itu berkembang menjadi demonstrasi anti-pemerintah yang meluas.
Sementara itu, AS bersiap ikut campur dalam kekacauan di Iran dengan dalih menolong para demonstran anti-pemerintah. Senator Partai Republik Lindsey Graham, sekutu dekat Presiden Donald Trump, mengatakan bantuan Washington sedang dalam perjalanan untuk para demonstran.
"Kepada rakyat Iran: mimpi buruk panjang Anda akan segera berakhir. Keberanian dan tekad Anda untuk mengakhiri penindasan telah diperhatikan oleh @POTUS dan semua orang yang mencintai kebebasan," tulis Graham dalam sebuah unggahan di X. @POTUS adalah akun resmi Presiden AS.
"Ketika Presiden Trump mengatakan 'Make Iran Great Again [Jadikan Iran Hebat Kembali]', itu berarti para demonstran di Iran harus menang atas ayatollah. Itu adalah sinyal paling jelas bahwa dia, Presiden Trump, memahami bahwa Iran tidak akan pernah hebat dengan ayatollah dan antek-anteknya yang berkuasa," lanjut Graham.
"Kepada semua yang berkorban di Iran, semoga Tuhan memberkati. Bantuan sedang dalam perjalanan," imbuh dia.
Pada saat yang bersamaan, Trump menegaskan kembali dukungannya kepada para demonstran Iran, menyatakan kesiapan Washington untuk membantu mereka dalam perjuangan untuk kebebasan.
"Iran sedang mengincar kebebasan, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!" tulis Trump di Truth Social.
Sementara itu, sebuah video yang viral menunjukkan salah satu masjid terbesar di Iran dibakar massa pada Jumat malam. Video tersebut dibagikan oleh aktivis hak asasi manusia Iran, Masih Alinejad.
“Salah satu masjid terbesar di Iran terbakar selama pemberontakan. Jangan panik. Ini bukan kekacauan. Ini adalah 47 tahun kemarahan. Selama 47 tahun, setelah setiap seruan Allahu Akbar dari menara-menara ini, warga Iran yang tidak bersalah dieksekusi oleh rezim Islamis,” katanya dalam sebuah unggahan di X.
Dalam komentar pertamanya tentang protes yang meningkat sejak 3 Januari, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyebut para demonstran sebagai "perusak" dan "penyabotase".
Khamenei, dalam pidato yang disiarkan di televisi pemerintah, mengatakan tangan Presiden AS Donald Trump berlumuran darah lebih dari seribu warga Iran. Komentar itu tampaknya merujuk pada perang Iran- Israel pada Juni, di mana AS ikut campur dengan membantu rezim Zionis.
Khamenei memprediksi Trump akan digulingkan seperti dinasti kekaisaran yang memerintah Iran hingga revolusi 1979.
"Semua orang tahu Republik Islam berkuasa dengan darah ratusan ribu orang terhormat, ia tidak akan mundur menghadapi para penyabot," katanya.
Pernyataan keras tersebut disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah Iran pada Sabtu malam. Azad mengatakan bahwa bahkan mereka yang membantu para perusuh akan menghadapi tuduhan serupa.
Baca Juga: AS Bersiap Ikut Campur Dalam Kekacauan Iran: 'Bantuan Sedang Dalam Perjalanan'
Pasal 186 hukum Iran menyatakan bahwa jika suatu kelompok atau organisasi terlibat dalam perlawanan bersenjata terhadap Republik Islam, semua anggota atau pendukung yang secara sadar membantu tujuan kelompok atau organisasi tersebut dapat dianggap sebagai "mohareb" atau "musuh Tuhan", bahkan jika mereka tidak secara pribadi berpartisipasi dalam kegiatan bersenjata.
Hukuman untuk "mohareb", yang diuraikan dalam Pasal 190 hukum tersebut, sangat berat dan termasuk hukuman mati, hukuman gantung, amputasi tangan kanan dan kaki kiri, atau pengasingan internal permanen.
"Jaksa penuntut harus dengan cermat dan tanpa penundaan, dengan mengeluarkan dakwaan, mempersiapkan dasar untuk persidangan dan konfrontasi yang menentukan dengan mereka yang, dengan mengkhianati bangsa dan menciptakan ketidakamanan, berupaya untuk mendominasi negara," bunyi pernyataan Azad, seperti dikutip NDTV, Sabtu (10/1/2026). "Proses hukum harus dilakukan tanpa kelonggaran, belas kasihan, atau toleransi."
Setidaknya 65 orang tewas selama protes, dan lebih dari 2.300 orang ditahan, menurut Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat (AS). Versi laporan TIME, yang mengutip dokter di Teheran, menyebut 217 orang telah tewas.
Internet dan saluran telepon di Teheran dilaporkan telah diputus sejak Kamis.
Putra Mahkota Iran yang diasingkan, Reza Pahlavi, menyerukan protes dan mendesak para demonstran untuk turun ke jalan pada hari Sabtu dan Minggu, membawa bendera singa dan matahari Iran kuno serta simbol-simbol nasional lainnya yang digunakan pada masa Shah untuk "mengeklaim ruang publik sebagai milik Anda sendiri".
Demonstrasi tersebut bermula sebagai ketidakpuasan publik terhadap pemerintah Republik Islam Iran ketika mata uang rial Iran anjlok ke titik terendah sepanjang masa yaitu lebih dari 1,4 juta per dolar AS pada akhir Desember 2025, dan sejak itu berkembang menjadi demonstrasi anti-pemerintah yang meluas.
Sementara itu, AS bersiap ikut campur dalam kekacauan di Iran dengan dalih menolong para demonstran anti-pemerintah. Senator Partai Republik Lindsey Graham, sekutu dekat Presiden Donald Trump, mengatakan bantuan Washington sedang dalam perjalanan untuk para demonstran.
"Kepada rakyat Iran: mimpi buruk panjang Anda akan segera berakhir. Keberanian dan tekad Anda untuk mengakhiri penindasan telah diperhatikan oleh @POTUS dan semua orang yang mencintai kebebasan," tulis Graham dalam sebuah unggahan di X. @POTUS adalah akun resmi Presiden AS.
"Ketika Presiden Trump mengatakan 'Make Iran Great Again [Jadikan Iran Hebat Kembali]', itu berarti para demonstran di Iran harus menang atas ayatollah. Itu adalah sinyal paling jelas bahwa dia, Presiden Trump, memahami bahwa Iran tidak akan pernah hebat dengan ayatollah dan antek-anteknya yang berkuasa," lanjut Graham.
"Kepada semua yang berkorban di Iran, semoga Tuhan memberkati. Bantuan sedang dalam perjalanan," imbuh dia.
Pada saat yang bersamaan, Trump menegaskan kembali dukungannya kepada para demonstran Iran, menyatakan kesiapan Washington untuk membantu mereka dalam perjuangan untuk kebebasan.
"Iran sedang mengincar kebebasan, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!" tulis Trump di Truth Social.
Sementara itu, sebuah video yang viral menunjukkan salah satu masjid terbesar di Iran dibakar massa pada Jumat malam. Video tersebut dibagikan oleh aktivis hak asasi manusia Iran, Masih Alinejad.
“Salah satu masjid terbesar di Iran terbakar selama pemberontakan. Jangan panik. Ini bukan kekacauan. Ini adalah 47 tahun kemarahan. Selama 47 tahun, setelah setiap seruan Allahu Akbar dari menara-menara ini, warga Iran yang tidak bersalah dieksekusi oleh rezim Islamis,” katanya dalam sebuah unggahan di X.
Dalam komentar pertamanya tentang protes yang meningkat sejak 3 Januari, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyebut para demonstran sebagai "perusak" dan "penyabotase".
Khamenei, dalam pidato yang disiarkan di televisi pemerintah, mengatakan tangan Presiden AS Donald Trump berlumuran darah lebih dari seribu warga Iran. Komentar itu tampaknya merujuk pada perang Iran- Israel pada Juni, di mana AS ikut campur dengan membantu rezim Zionis.
Khamenei memprediksi Trump akan digulingkan seperti dinasti kekaisaran yang memerintah Iran hingga revolusi 1979.
"Semua orang tahu Republik Islam berkuasa dengan darah ratusan ribu orang terhormat, ia tidak akan mundur menghadapi para penyabot," katanya.
(mas)
Lihat Juga :