10 Operasi CIA Penggulingan Pemerintahan di Amerika Latin, Ada Juga yang Gagal

Sabtu, 10 Januari 2026 - 16:20 WIB
loading...
10 Operasi CIA Penggulingan...
Penggulingan Presiden Venezuela Nicolas Maduro merupakan operasi CIA yang sukses. Foto/X/Fox News
A A A
CARACAS - Selama dua abad terakhir, Amerika Serikat berulang kali melakukan operasi militer di Amerika Tengah dan Selatan serta Karibia. Dimulai pada akhir tahun 1800-an hingga awal abad ke-20, AS melakukan Perang Pisang, serangkaian intervensi militer di Amerika Tengah, untuk melindungi kepentingan perusahaan-perusahaan AS di wilayah tersebut.

Pada tahun 1934, di bawah Presiden Franklin D. Roosevelt, AS memperkenalkan "Kebijakan Tetangga Baik", berjanji untuk tidak menyerang atau menduduki negara-negara Amerika Latin atau mencampuri urusan internal mereka. Namun, selama Perang Dingin, AS membiayai beberapa operasi yang bertujuan untuk menggulingkan para pemimpin sayap kiri terpilih di wilayah tersebut.

Melansir Al Jazeera, banyak dari operasi ini telah dikoordinasikan oleh Badan Intelijen Pusat (CIA), yang didirikan pada tahun 1947.

Saat Washington membangun kehadiran militer skala besar di dekat pantai Venezuela dan terus melakukan serangan udara terhadap kapal-kapal Venezuela yang diklaim menyelundupkan narkoba di Karibia dan Pasifik timur, Presiden AS Donald Trump mengatakan dia tidak mengesampingkan operasi darat di dalam negeri itu sendiri. Banyak pengamat percaya bahwa tuduhan Trump bahwa Venezuela bertanggung jawab atas perdagangan narkoba adalah kedok untuk tujuan sebenarnya yaitu perubahan rezim di sana.

10 Operasi CIA Penggulingan Pemerintahan di Amerika Latin, Ada Juga yang Gagal

1. Guetamala (1950-an)

Melansir Al Jazeera, pada tahun 1954, Presiden Guatemala terpilih Jacobo Arbenz Guzman digulingkan oleh kelompok-kelompok pejuang lokal yang didukung oleh CIA di bawah Presiden AS Dwight Eisenhower.

Arbenz telah berupaya menasionalisasi sebuah perusahaan, yang memicu kekhawatiran di AS tentang kebijakan sosialis yang lebih banyak di Guatemala.

Di bawah Operasi PBSuccess CIA, badan tersebut melatih para pejuang yang dipimpin oleh perwira militer Carlos Castillo Armas, yang mengambil alih kekuasaan setelah kudeta. Perang saudara berkecamuk di Guatemala dari tahun 1960 hingga 1996 antara pemerintah dan militer Guatemala di satu sisi, dan kelompok pemberontak sayap kiri di sisi lain.

Baca Juga: Trump: Perusahaan Minyak AS akan Terima Jaminan Keamanan Saat Beroperasi di Venezuela

2. Kuba (1960-an)

Pada tahun 1959, pemimpin komunis Kuba Fidel Castro berkuasa setelah menggulingkan diktator Fulgencio Batista.

Melansir Al Jazeera, di bawah Eisenhower, CIA merancang rencana untuk melatih para pengungsi Kuba untuk menyerbu negara itu dan menggulingkan Castro. Presiden AS John F. Kennedy, seorang Demokrat yang memenangkan pemilihan tahun 1960, diberi pengarahan tentang rencana tersebut selama pelantikannya.

Castro mengetahui tentang kamp pelatihan tersebut melalui intelijen Kuba. Pada tahun 1961, Kennedy menyetujui Invasi Teluk Babi, sebuah rencana bagi para pengungsi Kuba untuk menggulingkan Castro. Namun, invasi tersebut gagal ketika militer Kuba mengalahkan mereka.


3. Brasil (1960-an)

Pada tahun 1961, Joao Goulart menjabat sebagai presiden Brasil, dengan mandat untuk mengejar reformasi sosial dan ekonomi. Ia mempertahankan hubungan baik dengan negara-negara sosialis seperti Kuba dan menasionalisasi anak perusahaan International Telephone and Telegraph (ITT) milik AS.

Sebagai tanggapan, CIA mendanai politisi pro-AS dan mendukung kelompok anti-komunis. Hal ini melemahkan kepemimpinan Goulart, yang berpuncak pada kudeta militer pada tahun 1964, yang mendirikan kediktatoran pro-AS yang berlangsung hingga tahun 1985.

4. Ekuador (1960-an)

Setelah melewati 27 presiden antara tahun 1925 dan 1947, Ekuador menyaksikan periode stabilitas yang langka pada tahun 1950-an.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Jelang Penandatanganan...
Jelang Penandatanganan di Jenewa, AS Rahasiakan Nota Kesepahaman Iran dari Israel
Iran Beberkan Alasan...
Iran Beberkan Alasan Walk Out saat Negosiasi dengan AS, Singgung Trump
Rekomendasi
BNPP Perkuat Pengawasan...
BNPP Perkuat Pengawasan Perbatasan RI-Timor Leste via Survei Pengendalian Jalur Tak Resmi di Belu
Desak Beri Kompensasi...
Desak Beri Kompensasi Akibat Mati Listrik Bergilir, DPR: Jangan Tiap Masalah Rakyat Diminta Sabar
Dear You dan Ketakutan...
Dear You dan Ketakutan yang Salah Arah
Berita Terkini
Pertama Kali, Dokter...
Pertama Kali, Dokter Belanda Suntik Mati Seorang Anak di Bawah Usia 12 Tahun
PBB Mulai Evakuasi 11.000...
PBB Mulai Evakuasi 11.000 Pelaut yang Terdampar di Selat Hormuz
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Oman dan Iran Bentuk...
Oman dan Iran Bentuk Kelompok Kerja Bersama untuk Bahas Pengelolaan Selat Hormuz
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved