Viral, Wanita Lansia Iran Demo dengan 'Mulut Berdarah': Saya Telah Mati selama 47 Tahun

Jum'at, 09 Januari 2026 - 14:21 WIB
loading...
Viral, Wanita Lansia...
Seorang wanita lansia Iran ikut demo dengan mulut berdarah. Dia meneriakkan slogan-slogan anti-rezim Iran. Foto/Screenshot video X @AlinejadMasih
A A A
TEHERAN - Saat pihak berwenang Iran meningkatkan upaya untuk menindak protes anti-pemerintah, sebuah video seorang wanita lanjut usia (lansia) yang menentang rezim menjadi viral. Aksinya menjadi simbol agitasi nasional yang didorong oleh kesulitan ekonomi dan meningkatnya kemarahan publik.

Dalam klip viral dari protes pada Rabu malam, demonstran lansia dengan "mulut berdarah" tersebut terlihat berbaris di jalanan Borujerd, di Provinsi Loresttan, Iran barat. Dia meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah.

"Saya tidak takut. Saya sudah mati selama 47 tahun," teriaknya.

Baca Juga: Mossad kepada Demonstran Iran: Turunlah ke Jalan, Kami Bersama Kalian!

Tidak jelas apakah cairan merah yang keluar dari mulut wanita itu adalah darah betulan atau apakah dia menggunakan semacam cat sebagai simbol perlawanan.

Rezim Islam Iran dimulai 47 tahun yang lalu dengan Revolusi Islam 1979, yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang pro-Barat dan mendirikan teokrasi Islam Syiah yang dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Pemimpin Tertinggi Iran saat ini, Ayatollah Ali Hosseini Khamenei, adalah penerus dari pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Saat membagikan klip demonstran lansia tersebut di X, jurnalis dan aktivis Iran-Amerika Serikat Masih Alinejad menulis, "Saya tidak takut. Saya telah mati selama 47 tahun. Ini adalah suara seorang wanita di Iran yang muak dengan Republik Islam."

"47 tahun yang lalu, Republik Islam mengambil hak-hak kami dan menjadikan bangsa ini sebagai sandera. Hari ini orang-orang tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan, mereka bangkit. Iran sedang bangkit," imbuh dia.

Penindakan Iran terhadap Protes


Pemerintah Iran memutus akses internet dan panggilan telepon internasional ke seluruh negeri ketika demonstrasi malam hari yang diserukan oleh putra mahkota yang diasingkan, Reza Pahlavi, menarik massa demonstran untuk berteriak dari jendela mereka dan menyerbu jalanan.

Protes yang berlangsung hingga Jumat (9/1/2026) pagi merupakan ujian pertama apakah publik Iran dapat dipengaruhi oleh Putra Mahkota Reza Pahlavi, yang ayahnya yang sakit parah melarikan diri dari Iran tepat sebelum Revolusi Islam 1979.

Demonstrasi tersebut termasuk seruan dukungan untuk Shah, sesuatu yang di masa lalu dapat berujung pada hukuman mati tetapi sekarang menggarisbawahi kemarahan yang memicu protes yang dimulai karena perekonomian Iran yang sedang sakit.

Demonstrasi terus bermunculan di kota-kota dan pedesaan di berbagai wilayah Iran. Semakin banyak pasar dan bazaar yang tutup sebagai bentuk dukungan kepada para demonstran.

Sejauh ini, kekerasan di sekitar demonstrasi telah menewaskan sedikitnya 42 orang, sementara lebih dari 2.270 lainnya telah ditahan, menurut Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat.

Rezim Khamenei di Bawah Tekanan


Meningkatnya protes meningkatkan tekanan pada pemerintah sipil Iran dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. CloudFlare, sebuah perusahaan internet, dan kelompok advokasi NetBlocks melaporkan pemadaman internet, keduanya mengaitkannya dengan campur tangan pemerintah Iran. Pemadaman semacam itu di masa lalu diikuti oleh tindakan keras pemerintah yang intensif.

Televisi pemerintah Iran akhirnya angkat bicara tentang protes pada hari Jumat, melaporkan korban jiwa dan mengeklaim "agen teroris" AS dan Israel membakar gedung-gedung tersebut.

Namun, mereka tidak mengakui pemadaman internet yang memutus hubungan negara berpenduduk lebih dari 85 juta jiwa itu dari dunia luar, malah menyoroti subsidi makanan dalam siaran mereka pukul 07.00 pagi pada hari Jumat.

Sementara itu, protes itu sendiri sebagian besar tetap tanpa pemimpin, dengan warga Iran dalam jumlah besar turun ke jalan dan meneriakkan slogan-slogan, termasuk, “Matilah diktator!” dan “Matilah Republik Islam!”

Demonstran yang lain memuji Pahlavi, berteriak, “Ini pertempuran terakhir! Pahlavi akan kembali!”
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Bantah Militernya Melemah,...
Bantah Militernya Melemah, Iran Klaim Selalu Membuat Terobosan yang Tak Diprediksi Musuh
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Begini Cara Bos FIFA...
Begini Cara Bos FIFA Gunakan Geopolitik di Panggung Piala Dunia
ANCAMAN KERAS IRAN!...
ANCAMAN KERAS IRAN! Kirim Pesan Menghancurkan, Tantang AS Perang Terbuka!
Ayah dan Anak Diselamatkan...
Ayah dan Anak Diselamatkan Setelah 4 Hari Terkubur Reruntuhan Bangunan Pasca-gempa Venezuela
Presiden Korsel Lee...
Presiden Korsel Lee Jae Myung Murka Negaranya Tersingkir di Piala Dunia: Tidak Kompeten!
Rekomendasi
Rakor dengan Pimpinan...
Rakor dengan Pimpinan BGN, Dasco Tegaskan DPR Awasi Ketat Program MBG agar Tepat Sasaran
Profil Orlando Gill,...
Profil Orlando Gill, Pahlawan Paraguay yang Kubur Ambisi Jerman di Piala Dunia 2026
Histeria Ojol dan Kerentanan...
Histeria Ojol dan Kerentanan Ekstrem Pekerja 'Gig Economy'
Berita Terkini
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Inggris Akan Ganti 6...
Inggris Akan Ganti 6 Kapal Perusak Tua dengan 6 Kapal Perang Hibrida Pengendali Drone
Jerman Diguncang Penembakan,...
Jerman Diguncang Penembakan, 6 Orang Tewas
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved