Trump Tak Tutup Kemungkinan Kirim Pasukan Darat di Venezuela dan Greenland
Kamis, 08 Januari 2026 - 21:30 WIB
loading...
Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt. Foto/anadolu
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan militer lebih lanjut di Venezuela, atau akuisisi Greenland dari Denmark secara paksa. Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan hal itu kepada wartawan pada hari Rabu (7/1/2026).
"Presiden, tentu saja, berhak menggunakan militer Amerika Serikat jika perlu," katanya.
"Itu bukan sesuatu yang ingin dia lakukan. Diplomasi selalu menjadi pilihan pertama. Seperti yang Anda lihat, dia mencoba itu dengan Nicolas Maduro, tetapi sayangnya, dia adalah diktator yang tidak sah dan orang yang tidak serius, dan karena itu Presiden Trump mengizinkan operasi penegakan hukum ini, dan sekarang Nicolas Maduro berada di sel penjara di New York," tambah Leavitt.
Dia menegaskan, "Semua opsi selalu ada di meja Presiden Trump saat dia memeriksa apa yang terbaik untuk kepentingan Amerika Serikat."
Pasukan khusus AS menculik presiden Venezuela dari ibu kota, Caracas, pada hari Sabtu ketika jet tempur Amerika membombardir instalasi dan pangkalan militer utama di seluruh negeri.
Tidak ada personel AS yang tewas, tetapi sekitar 100 pasukan keamanan dan warga sipil tewas, menurut laporan terbaru.
Bersama istrinya, Nicolas Maduro kini menghadapi persidangan di pengadilan federal di New York City dan akan dipenjara selama proses berlangsung. Ia telah menyatakan tidak bersalah atas semua tuduhan.
Sejak operasi tersebut, yang dipuji Trump sebagai "kesuksesan luar biasa", ia telah menghidupkan kembali upayanya mengambil alih Greenland dari Denmark.
Beberapa pejabat Eropa - mungkin dalam reaksi terkuat mereka sejauh ini terhadap kebijakan pemerintahan Trump - telah mengisyaratkan langkah tersebut akan melanggar batas.
"Akuisisi Greenland oleh Amerika Serikat bukanlah ide baru. Ini adalah sesuatu yang telah dikatakan oleh para presiden sejak tahun 1800-an sebagai hal yang menguntungkan bagi keamanan nasional Amerika," ujar Leavitt.
"Presiden telah sangat terbuka dan jelas kepada Anda semua dan kepada dunia bahwa ia memandang hal itu sebagai kepentingan terbaik Amerika Serikat untuk mencegah agresi Rusia dan China di wilayah Arktik," ungkap dia.
Pada hari Selasa, The Wall Street Journal melaporkan dalam pertemuan tertutup dengan para anggota parlemen AS, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan ancaman Trump untuk merebut Greenland dengan paksa hanya dimaksudkan untuk membawa Denmark ke meja perundingan.
Ia juga dilaporkan telah membahas tuntutan Trump agar kepemimpinan sementara Venezuela memutuskan hubungan dengan China, Rusia, Iran, dan Kuba jika ingin sanksi minyak AS dicabut.
"Saya tahu ada banyak kebocoran yang keluar dari pengarahan rahasia ini, jadi saya tidak akan mengkonfirmasi atau menyangkal... tetapi saya pikir pemerintah telah menjelaskan dengan cukup jelas kepada otoritas sementara di Venezuela bahwa ini adalah belahan bumi barat, dan dominasi Amerika akan berlanjut di bawah presiden ini," tegas Leavitt.
Baca juga: Ribuan Orang Berunjuk Rasa di Kolombia Menentang Imperialisme AS
"Presiden, tentu saja, berhak menggunakan militer Amerika Serikat jika perlu," katanya.
"Itu bukan sesuatu yang ingin dia lakukan. Diplomasi selalu menjadi pilihan pertama. Seperti yang Anda lihat, dia mencoba itu dengan Nicolas Maduro, tetapi sayangnya, dia adalah diktator yang tidak sah dan orang yang tidak serius, dan karena itu Presiden Trump mengizinkan operasi penegakan hukum ini, dan sekarang Nicolas Maduro berada di sel penjara di New York," tambah Leavitt.
Dia menegaskan, "Semua opsi selalu ada di meja Presiden Trump saat dia memeriksa apa yang terbaik untuk kepentingan Amerika Serikat."
Pasukan khusus AS menculik presiden Venezuela dari ibu kota, Caracas, pada hari Sabtu ketika jet tempur Amerika membombardir instalasi dan pangkalan militer utama di seluruh negeri.
Tidak ada personel AS yang tewas, tetapi sekitar 100 pasukan keamanan dan warga sipil tewas, menurut laporan terbaru.
Bersama istrinya, Nicolas Maduro kini menghadapi persidangan di pengadilan federal di New York City dan akan dipenjara selama proses berlangsung. Ia telah menyatakan tidak bersalah atas semua tuduhan.
Sejak operasi tersebut, yang dipuji Trump sebagai "kesuksesan luar biasa", ia telah menghidupkan kembali upayanya mengambil alih Greenland dari Denmark.
Beberapa pejabat Eropa - mungkin dalam reaksi terkuat mereka sejauh ini terhadap kebijakan pemerintahan Trump - telah mengisyaratkan langkah tersebut akan melanggar batas.
"Akuisisi Greenland oleh Amerika Serikat bukanlah ide baru. Ini adalah sesuatu yang telah dikatakan oleh para presiden sejak tahun 1800-an sebagai hal yang menguntungkan bagi keamanan nasional Amerika," ujar Leavitt.
"Presiden telah sangat terbuka dan jelas kepada Anda semua dan kepada dunia bahwa ia memandang hal itu sebagai kepentingan terbaik Amerika Serikat untuk mencegah agresi Rusia dan China di wilayah Arktik," ungkap dia.
Dominasi Amerika
Pada hari Selasa, The Wall Street Journal melaporkan dalam pertemuan tertutup dengan para anggota parlemen AS, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan ancaman Trump untuk merebut Greenland dengan paksa hanya dimaksudkan untuk membawa Denmark ke meja perundingan.
Ia juga dilaporkan telah membahas tuntutan Trump agar kepemimpinan sementara Venezuela memutuskan hubungan dengan China, Rusia, Iran, dan Kuba jika ingin sanksi minyak AS dicabut.
"Saya tahu ada banyak kebocoran yang keluar dari pengarahan rahasia ini, jadi saya tidak akan mengkonfirmasi atau menyangkal... tetapi saya pikir pemerintah telah menjelaskan dengan cukup jelas kepada otoritas sementara di Venezuela bahwa ini adalah belahan bumi barat, dan dominasi Amerika akan berlanjut di bawah presiden ini," tegas Leavitt.
Baca juga: Ribuan Orang Berunjuk Rasa di Kolombia Menentang Imperialisme AS
(sya)
Lihat Juga :