Elon Musk Takut Sayap Kiri Kuasai AS, Siap Danai Calon Republik: Amerika akan Hancur
Jum'at, 02 Januari 2026 - 19:38 WIB
loading...
CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk. Foto/rt
A
A
A
WASHINGTON - Miliarder Elon Musk mengindikasikan niatnya mendanai para kandidat Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu akhir tahun ini. Dia mengatakan Amerika Serikat (AS) akan lenyap jika Partai Demokrat merebut kembali kekuasaan di Kongres.
Pada hari Jumat (2/1/2026), CEO Tesla dan SpaceX mengomentari unggahan di X oleh seorang influencer konservatif, yang mengklaim, “Musk dilaporkan akan sepenuhnya mendanai Partai Republik untuk membantu Presiden (Donald) Trump merebut kembali kendali penuh dalam pemilihan paruh waktu November.”
Orang terkaya di dunia itu menanggapi pesan tersebut dengan memperingatkan, “Amerika akan hancur jika sayap kiri radikal menang.”
Partai Demokrat “akan membuka pintu bagi imigrasi ilegal dan penipuan. Tidak akan menjadi Amerika lagi,” tulis Musk.
Axios melaporkan bulan lalu, mengutip sumber yang terpercaya, bahwa Musk baru-baru ini telah menulis "cek besar" kepada Partai Republik untuk digunakan selama pemilihan kongres, dengan rencana menyumbangkan lebih banyak lagi sepanjang tahun 2026.
Partai Republik telah mengalami serangkaian kekalahan dari Partai Demokrat dalam pemilihan khusus tahun lalu, termasuk di negara bagian yang secara tradisional dianggap sebagai basis kekuatan mereka.
Dukungan untuk Trump telah menurun sejak ia memulai masa jabatan keduanya, dengan jajak pendapat Economist/YouGov awal pekan ini menunjukkan presiden mengakhiri tahun dengan tingkat persetujuan 39% dan tingkat ketidaksetujuan 56%.
Musk dulunya adalah sekutu dekat Trump selama pemilihan 2024, menyumbangkan USD290 juta dan menjadi donor utama kampanye.
Setelah menjabat, presiden menjadikannya kepala Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) yang baru dibentuk untuk memangkas biaya federal.
Hubungan Musk dengan Trump memburuk pada bulan Juni karena "RUU besar dan indah" andalan presiden, yang secara signifikan memperluas pengeluaran federal.
Miliarder itu, yang mengundurkan diri sebagai kepala DOGE di tengah keretakan tersebut, menyebut undang-undang itu sebagai "kekejian yang menjijikkan," menuduh presiden memiliki hubungan dengan pelaku kejahatan seksual yang dihukum, Jeffrey Epstein, dan mempertimbangkan pembentukan partainya sendiri untuk melemahkan Partai Republik.
Sebaliknya, Trump menyebut CEO Tesla dan SpaceX itu "gila."
Mereka tampaknya telah memperbaiki hubungan dalam beberapa bulan terakhir, dengan Trump terekam menepuk lengan Musk saat makan malam di Gedung Putih pada bulan November.
Menurut Axios, keduanya sekarang berbicara di telepon "sesekali."
Baca juga: Iran Kejutkan Dunia, Siap Jual Rudal Canggih dan Kapal Perang dengan Mata Uang Kripto
Pada hari Jumat (2/1/2026), CEO Tesla dan SpaceX mengomentari unggahan di X oleh seorang influencer konservatif, yang mengklaim, “Musk dilaporkan akan sepenuhnya mendanai Partai Republik untuk membantu Presiden (Donald) Trump merebut kembali kendali penuh dalam pemilihan paruh waktu November.”
Orang terkaya di dunia itu menanggapi pesan tersebut dengan memperingatkan, “Amerika akan hancur jika sayap kiri radikal menang.”
Partai Demokrat “akan membuka pintu bagi imigrasi ilegal dan penipuan. Tidak akan menjadi Amerika lagi,” tulis Musk.
Axios melaporkan bulan lalu, mengutip sumber yang terpercaya, bahwa Musk baru-baru ini telah menulis "cek besar" kepada Partai Republik untuk digunakan selama pemilihan kongres, dengan rencana menyumbangkan lebih banyak lagi sepanjang tahun 2026.
Partai Republik telah mengalami serangkaian kekalahan dari Partai Demokrat dalam pemilihan khusus tahun lalu, termasuk di negara bagian yang secara tradisional dianggap sebagai basis kekuatan mereka.
Dukungan untuk Trump telah menurun sejak ia memulai masa jabatan keduanya, dengan jajak pendapat Economist/YouGov awal pekan ini menunjukkan presiden mengakhiri tahun dengan tingkat persetujuan 39% dan tingkat ketidaksetujuan 56%.
Musk dulunya adalah sekutu dekat Trump selama pemilihan 2024, menyumbangkan USD290 juta dan menjadi donor utama kampanye.
Setelah menjabat, presiden menjadikannya kepala Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) yang baru dibentuk untuk memangkas biaya federal.
Hubungan Musk dengan Trump memburuk pada bulan Juni karena "RUU besar dan indah" andalan presiden, yang secara signifikan memperluas pengeluaran federal.
Miliarder itu, yang mengundurkan diri sebagai kepala DOGE di tengah keretakan tersebut, menyebut undang-undang itu sebagai "kekejian yang menjijikkan," menuduh presiden memiliki hubungan dengan pelaku kejahatan seksual yang dihukum, Jeffrey Epstein, dan mempertimbangkan pembentukan partainya sendiri untuk melemahkan Partai Republik.
Sebaliknya, Trump menyebut CEO Tesla dan SpaceX itu "gila."
Mereka tampaknya telah memperbaiki hubungan dalam beberapa bulan terakhir, dengan Trump terekam menepuk lengan Musk saat makan malam di Gedung Putih pada bulan November.
Menurut Axios, keduanya sekarang berbicara di telepon "sesekali."
Baca juga: Iran Kejutkan Dunia, Siap Jual Rudal Canggih dan Kapal Perang dengan Mata Uang Kripto
(sya)
Lihat Juga :