Ini Respons AS atas Latihan Perang China yang Mengepung Taiwan
Jum'at, 02 Januari 2026 - 09:47 WIB
loading...
AS sebut latihan perang China yang mengepung Taiwan sebagai tindakan yang tidak perlu. Foto/China Daily
A
A
A
WASHINGTON - Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah merespons latihan perang China selama dua hari yang mensimulasikan pengepungan terhadap Taiwan. Menurut Washington, manuver Beijing yang meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut sebagai tindakan yang tidak perlu.
"Aktivitas militer dan retorika China terhadap Taiwan dan negara-negara lain di kawasan tersebut meningkatkan ketegangan yang tidak perlu. Kami mendesak Beijing untuk menahan diri, menghentikan tekanan militernya terhadap Taiwan, dan sebaliknya terlibat dalam dialog yang bermakna," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari AFP, Jumat (2/1/2026).
Baca Juga: Tetangga Indonesia Ini Berani Kecam China yang Latihan Perangnya Mengepung Taiwan
Beijing meluncurkan rudal dan mengerahkan puluhan jet tempur, kapal Angkatan Laut, dan kapal Penjaga Pantai pada hari Senin dan Selasa pekan ini untuk mengepung pulau utama Taiwan. Militer China secara terbuka mengatakan latihan tersebut mensimulasikan blokade pelabuhan utama Taiwan.
Taipei mengutuk latihan perang Beijing tersebut sebagai "sangat provokatif".
China mengeklaim bahwa Taiwan yang demokratis sebagai bagian dari wilayahnya dan telah mengancam akan menggunakan kekuatan untuk mencaploknya.
"Amerika Serikat mendukung perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dan menentang perubahan sepihak terhadap status quo, termasuk dengan kekerasan atau paksaan," kata Pigott.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Senin bahwa dia tidak khawatir tentang latihan tembak langsung China, tampaknya mengesampingkan kemungkinan Presiden China Xi Jinping memerintahkan invasi.
"Saya memiliki hubungan yang baik dengan Presiden Xi. Dan dia belum memberi tahu saya apa pun tentang itu. Saya tentu saja telah melihatnya," kata Trump kepada wartawan ketika ditanya tentang latihan perang China.
"Saya tidak percaya dia akan melakukannya," kata Trump, yang tampaknya merujuk pada invasi China terhadap Taiwan.
"Mereka telah melakukan latihan Angkatan Laut selama 20 tahun di wilayah itu. Sekarang orang-orang menanggapinya sedikit berbeda," paparnya.
Pengerahan kekuatan Beijing terjadi setelah pemerintahan Trump menyetujui penjualan paket persenjataan senilai USD11 miliar untuk Taiwan.
Amerika Serikat telah berkomitmen selama beberapa dekade untuk memastikan pertahanan diri Taiwan, sambil tetap bersikap ambigu mengenai apakah militer AS sendiri akan campur tangan dalam invasi.
Latihan militer terbaru China adalah putaran manuver besar keenam sejak 2022 ketika kunjungan Ketua DPR AS saat itu, Nancy Pelosi, ke Taiwan membuat Beijing marah.
"Aktivitas militer dan retorika China terhadap Taiwan dan negara-negara lain di kawasan tersebut meningkatkan ketegangan yang tidak perlu. Kami mendesak Beijing untuk menahan diri, menghentikan tekanan militernya terhadap Taiwan, dan sebaliknya terlibat dalam dialog yang bermakna," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari AFP, Jumat (2/1/2026).
Baca Juga: Tetangga Indonesia Ini Berani Kecam China yang Latihan Perangnya Mengepung Taiwan
Beijing meluncurkan rudal dan mengerahkan puluhan jet tempur, kapal Angkatan Laut, dan kapal Penjaga Pantai pada hari Senin dan Selasa pekan ini untuk mengepung pulau utama Taiwan. Militer China secara terbuka mengatakan latihan tersebut mensimulasikan blokade pelabuhan utama Taiwan.
Taipei mengutuk latihan perang Beijing tersebut sebagai "sangat provokatif".
China mengeklaim bahwa Taiwan yang demokratis sebagai bagian dari wilayahnya dan telah mengancam akan menggunakan kekuatan untuk mencaploknya.
"Amerika Serikat mendukung perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dan menentang perubahan sepihak terhadap status quo, termasuk dengan kekerasan atau paksaan," kata Pigott.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Senin bahwa dia tidak khawatir tentang latihan tembak langsung China, tampaknya mengesampingkan kemungkinan Presiden China Xi Jinping memerintahkan invasi.
"Saya memiliki hubungan yang baik dengan Presiden Xi. Dan dia belum memberi tahu saya apa pun tentang itu. Saya tentu saja telah melihatnya," kata Trump kepada wartawan ketika ditanya tentang latihan perang China.
"Saya tidak percaya dia akan melakukannya," kata Trump, yang tampaknya merujuk pada invasi China terhadap Taiwan.
"Mereka telah melakukan latihan Angkatan Laut selama 20 tahun di wilayah itu. Sekarang orang-orang menanggapinya sedikit berbeda," paparnya.
Pengerahan kekuatan Beijing terjadi setelah pemerintahan Trump menyetujui penjualan paket persenjataan senilai USD11 miliar untuk Taiwan.
Amerika Serikat telah berkomitmen selama beberapa dekade untuk memastikan pertahanan diri Taiwan, sambil tetap bersikap ambigu mengenai apakah militer AS sendiri akan campur tangan dalam invasi.
Latihan militer terbaru China adalah putaran manuver besar keenam sejak 2022 ketika kunjungan Ketua DPR AS saat itu, Nancy Pelosi, ke Taiwan membuat Beijing marah.
(mas)
Lihat Juga :