Drone Ukraina Bantai 24 Warga Sipil Kherson saat Rayakan Tahun Baru, Rusia Kecam Bungkamnya Barat

Jum'at, 02 Januari 2026 - 08:14 WIB
loading...
Drone Ukraina Bantai...
Serangan drone Ukraina membantai 24 warga sipil di Kherson saat rayakan Tahun Baru. Rusia kecam Barat karena bungkam atas pembantaian tersebut. Foto/Telegram/Vladimir Saldo
A A A
MOSKOW - Rusia mengecam respons diam negara-negara Barat setelah serangan pesawat nirawak Ukraina membantai 24 warga sipil yang merayakan Malam Tahun Baru di wilayah Kherson. Menurut Moskow, kebungkaman itu sebagai tanda "keterlibatan" dalam "kejahatan berdarah neo-Nazi di Kyiv".

Serangan itu terjadi sesaat sebelum tengah malam pada 31 Desember di desa Khorly, dengan melibatkan beberapa pesawat nirawak, yang salah satunya membawa senjata pembakar.

Pejabat Rusia melaporkan setidaknya 24 orang tewas, termasuk seorang anak laki-laki berusia lima tahun, dan lebih dari 50 orang lainnya terluka.

Baca Juga: Drone Ukraina Serang Ibu Kota Rusia saat Putin Pidato Tahun Baru

“Kami dengan tegas mengecam tindakan barbar yang keterlaluan ini oleh Zelensky dan kelompoknya, yang telah lama berubah menjadi monster haus darah,” kata Duta Besar Rusia untuk PBB, Gennady Gatilov, merujuk pada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

“Tujuan utama rezim ini adalah untuk mempertahankan kekuasaan dengan segala cara, mengalihkan perhatian dari kegagalan Angkatan Bersenjata Ukraina, dan mengganggu setiap upaya guna menemukan solusi damai untuk konflik ini," paparnya dalam sebuah pernyataan, yang dilansir Russia Today, Jumat (2/1/2026).

Gatilov menuntut Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, dan badan-badan PBB terkait untuk secara terbuka mengecam serangan tersebut “tanpa penundaan".

Dia memperingatkan bahwa berdiam diri sama artinya dengan “keterlibatan dan keterlibatan terbuka dalam kejahatan berdarah neo-Nazi.”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menuduh Barat menggunakan "keheningan strategis" dan "menutup mata" terhadap "tindakan teroris" Kyiv selama bertahun-tahun.

Dia lebih lanjut menyatakan bahwa mereka yang mengabaikan gambar-gambar mengerikan dari lokasi kejadian yang menggambarkan mayat-mayat hangus jelas tidak memiliki hati nurani.

Gubernur wilayah Kherson, Vladimir Saldo, menggambarkan serangan itu sebanding dengan pembantaian Odessa tahun 2014, di mana puluhan aktivis pro-Rusia tewas dalam kebakaran. Dia menekankan bahwa para korban adalah warga sipil yang merayakan Tahun Baru, termasuk keluarga dengan anak-anak, dan menegaskan kembali bahwa tidak ada target militer yang hadir.

Moskow bersikeras bahwa serangan itu sengaja diatur waktunya untuk memaksimalkan korban dan merupakan kejahatan perang. Pejabat Rusia telah menarik paralel dengan kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Nazi selama Perang Dunia II, menuduh Ukraina melakukan kebrutalan dan dehumanisasi yang disengaja.

Wilayah Kherson, bersama dengan Wilayah Zaporizhzhia dan Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Luhansk, bergabung dengan Rusia pada musim gugur 2022 sebagai hasil referendum lokal. Namun, Ukraina dan sekutu Barat-nya tidak mengakui referendum tersebut dan menganggapnya sebagai aneksasi wilayah Ukraina oleh Rusia.

Menurut Rusia, wilayah Kherson telah menjadi target utama serangan Ukraina yang tidak pandang bulu. Komite Investigasi Rusia telah membuka kasus pidana atas insiden terbaru ini, mengklasifikasikannya sebagai “tindakan teroris".

Pihak Ukraina belum berkomentar atas serangan pesawat nirawak yang menewaskan puluhan warga sipil saat merayakan Tahun Baru.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Inggris Akan Ganti 6...
Inggris Akan Ganti 6 Kapal Perusak Tua dengan 6 Kapal Perang Hibrida Pengendali Drone
Jerman Diguncang Penembakan,...
Jerman Diguncang Penembakan, 6 Orang Tewas
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Laporan Media: Iran...
Laporan Media: Iran - AS Sepakat Hentikan Serangan, Gelar Pertemuan Darurat di Qatar
Penembakan di Fasilitas...
Penembakan di Fasilitas Remaja, 6 Orang Tewas
Rekomendasi
Betrand Peto Ungkap...
Betrand Peto Ungkap Momen Canggung Ruben Onsu Bertemu Sarwendah Sebelum Berangkat Umrah
Nafkah Setelah Cerai...
Nafkah Setelah Cerai dalam Islam: Hak Mantan Istri dan Anak yang Wajib Dipenuhi
Nadiem Makarim Menangis...
Nadiem Makarim Menangis hingga Beri Tanda Tangan ke Mitra Go Jek saat Tiba di PN Tipikor
Berita Terkini
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Momen Penyelamatan...
5 Momen Penyelamatan Korban Gempa Venezuela yang Mengharukan
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Infografis
Jet Tempur Su-27 Ukraina...
Jet Tempur Su-27 Ukraina Jatuh saat Duel Lawan Drone Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved