Ukraina Sangkal Serangan 91 Drone Kamikaze ke Kediaman Putin: 'Ini Kebohongan Rusia'
Selasa, 30 Desember 2025 - 08:45 WIB
loading...
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sangkal serangan 91 drone kamikaze Kyiv terhadap kediaman negara Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto/X @ZelenskyyUa
A
A
A
KYIV - Ukraina menyangkal telah meluncurkan serangan 91 drone kamikaze terhadap kediaman negara Presiden Rusia Vladimir Putin pada Minggu malam. Kyiv mengatakan klaim tersebut merupakan kebohongan lain dari Moskow.
"Ini adalah kebohongan lain dari Rusia," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, sembari memperingatkan rakyatnya bahwa klaim Rusia itu akan dijadikan dalih untuk membenarkan serangan baru terhadap Kyiv.
"Mereka hanya mempersiapkan lahan untuk melakukan serangan, mungkin di ibu kota dan mungkin di gedung-gedung pemerintah," kata Zelensky kepada wartawan, seperti dikutip The Guardian, Selasa (30/12/2025).
Baca Juga: Ukraina Luncurkan 91 Drone Kamikaze ke Kediaman Putin, Rusia Ancam Balas Dendam
“Semua orang harus waspada sekarang, benar-benar semua orang. Serangan terhadap ibu kota mungkin akan dilakukan, terutama karena orang ini [Putin]...mengatakan mereka akan memilih target yang sesuai," paparnya.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha, dalam unggahan di X, menyatakan Rusia telah membuat klaim palsu tentang serangan 91 drone tersebut.
"Manipulasi Rusia mengenai dugaan upaya untuk menyerang kediaman Putin adalah rekayasa hanya untuk satu alasan: untuk menciptakan dalih dan pembenaran palsu bagi serangan Rusia lebih lanjut terhadap Ukraina, serta untuk melemahkan dan menghambat proses perdamaian," paparnya.
"Taktik Rusia yang biasa: menuduh pihak lain melakukan atau merencanakan apa yang Anda lakukan sendiri," ujarnya.
"Pertama, Rusia telah menyerang gedung pemerintah Ukraina tahun ini. Kedua, Ukraina hanya menyerang target militer yang sah di wilayah Rusia—sebagai tanggapan atas serangan Rusia terhadap Ukraina," terangnya.
"Ketiga, Rusia adalah agresor, dan Ukraina adalah negara yang telah diserang dan membela diri sesuai dengan pasal 51 Piagam PBB. Tidak boleh ada kesamaan yang keliru antara agresor dan negara yang membela diri."
Dia mendesak dunia internasional untuk mengutuk pernyataan provokatif Rusia yang bertujuan untuk menggagalkan proses perdamaian yang konstruktif. "Ukraina tetap berkomitmen pada upaya perdamaian yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dengan partisipasi mitra-mitra Eropa," katanya.
Moskow sebelumnya menyatakan militer Ukraina telah meluncurkan serangan 91 drone kamikaze jarak jauh ke kediaman negara Presiden Rusia Vladimir Putin di Wilayah Novgorod pada Minggu malam.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan rezim Kyiv telah sepenuhnya beralih ke kebijakan terorisme negara, dan Moskow akan meninjau posisi negosiasinya sesuai dengan itu.
“Semua kendaraan udara tak berawak dihancurkan oleh sistem pertahanan udara Angkatan Bersenjata Rusia,” kata Lavrov.
"Serangan itu terjadi di tengah negosiasi intensif antara Rusia dan Amerika Serikat,” lanjut diplomat senior tersebut, menambahkan bahwa “tindakan sembrono” Kyiv tidak akan dibiarkan tanpa balasan.
Menurutnya, Moskow telah menetapkan target dan waktu serangan balasan yang akan datang.
Lavrov mengatakan serangan ini pasti akan memengaruhi proses penyelesaian perang Rusia-Ukraina, tanpa memberikan detail pasti tentang potensi perubahan posisi Rusia.
“Kami tidak bermaksud untuk menarik diri dari proses negosiasi dengan AS. Namun, mengingat kemerosotan total rezim kriminal Kyiv, yang telah beralih ke kebijakan terorisme negara, posisi negosiasi Rusia akan direvisi,” kata Lavrov.
"Ini adalah kebohongan lain dari Rusia," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, sembari memperingatkan rakyatnya bahwa klaim Rusia itu akan dijadikan dalih untuk membenarkan serangan baru terhadap Kyiv.
"Mereka hanya mempersiapkan lahan untuk melakukan serangan, mungkin di ibu kota dan mungkin di gedung-gedung pemerintah," kata Zelensky kepada wartawan, seperti dikutip The Guardian, Selasa (30/12/2025).
Baca Juga: Ukraina Luncurkan 91 Drone Kamikaze ke Kediaman Putin, Rusia Ancam Balas Dendam
“Semua orang harus waspada sekarang, benar-benar semua orang. Serangan terhadap ibu kota mungkin akan dilakukan, terutama karena orang ini [Putin]...mengatakan mereka akan memilih target yang sesuai," paparnya.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha, dalam unggahan di X, menyatakan Rusia telah membuat klaim palsu tentang serangan 91 drone tersebut.
"Manipulasi Rusia mengenai dugaan upaya untuk menyerang kediaman Putin adalah rekayasa hanya untuk satu alasan: untuk menciptakan dalih dan pembenaran palsu bagi serangan Rusia lebih lanjut terhadap Ukraina, serta untuk melemahkan dan menghambat proses perdamaian," paparnya.
"Taktik Rusia yang biasa: menuduh pihak lain melakukan atau merencanakan apa yang Anda lakukan sendiri," ujarnya.
"Pertama, Rusia telah menyerang gedung pemerintah Ukraina tahun ini. Kedua, Ukraina hanya menyerang target militer yang sah di wilayah Rusia—sebagai tanggapan atas serangan Rusia terhadap Ukraina," terangnya.
"Ketiga, Rusia adalah agresor, dan Ukraina adalah negara yang telah diserang dan membela diri sesuai dengan pasal 51 Piagam PBB. Tidak boleh ada kesamaan yang keliru antara agresor dan negara yang membela diri."
Dia mendesak dunia internasional untuk mengutuk pernyataan provokatif Rusia yang bertujuan untuk menggagalkan proses perdamaian yang konstruktif. "Ukraina tetap berkomitmen pada upaya perdamaian yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dengan partisipasi mitra-mitra Eropa," katanya.
Versi Rusia soal Serangan 91 Drone
Moskow sebelumnya menyatakan militer Ukraina telah meluncurkan serangan 91 drone kamikaze jarak jauh ke kediaman negara Presiden Rusia Vladimir Putin di Wilayah Novgorod pada Minggu malam.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan rezim Kyiv telah sepenuhnya beralih ke kebijakan terorisme negara, dan Moskow akan meninjau posisi negosiasinya sesuai dengan itu.
“Semua kendaraan udara tak berawak dihancurkan oleh sistem pertahanan udara Angkatan Bersenjata Rusia,” kata Lavrov.
"Serangan itu terjadi di tengah negosiasi intensif antara Rusia dan Amerika Serikat,” lanjut diplomat senior tersebut, menambahkan bahwa “tindakan sembrono” Kyiv tidak akan dibiarkan tanpa balasan.
Menurutnya, Moskow telah menetapkan target dan waktu serangan balasan yang akan datang.
Lavrov mengatakan serangan ini pasti akan memengaruhi proses penyelesaian perang Rusia-Ukraina, tanpa memberikan detail pasti tentang potensi perubahan posisi Rusia.
“Kami tidak bermaksud untuk menarik diri dari proses negosiasi dengan AS. Namun, mengingat kemerosotan total rezim kriminal Kyiv, yang telah beralih ke kebijakan terorisme negara, posisi negosiasi Rusia akan direvisi,” kata Lavrov.
(mas)
Lihat Juga :