Kota Kelahiran Yesus Rayakan Natal Pertama Kalinya sejak Perang Israel-Hamas Pecah

Kamis, 25 Desember 2025 - 05:55 WIB
loading...
Kota Kelahiran Yesus...
Kota Betlehem, tempat kelahiran Yesus Kristus, rayakan Natal pertama kalinya sejak perang Israel-Hamas pecah di Gaza lebih dari dua tahun lalu. Foto/Jerzy Kraj/Vatican News
A A A
BETLEHEM - Para personel pandu berbaris di bawah langit biru cerah di Betlehem pada hari Rabu, saat kota Palestina itu keluar dari bayang-bayang perang Israel-Hamas di Gaza untuk merayakan Natal meriah pertamanya dalam lebih dari dua tahun.

Sepanjang perang Gaza yang dimulai dengan serangan Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023, suasana suram mewarnai Natal di kota tempat kelahiran Yesus Kristus tersebut.

Namun pada hari Rabu, perayaan kembali meriah di Betlehem, Tepi Barat—wilayah Palestina yang diduduki Israel—, seiring dengan gencatan senjata yang rapuh di Gaza, tempat ratusan ribu orang menghadapi musim dingin di tenda-tenda darurat.

Baca Juga: Paus Leo Serukan Gencatan Senjata Semua Perang di Dunia pada Hari Natal

Di Vatikan, Paus Leo XIV dijadwalkan menyampaikan Misa Natal pertamanya pada pukul 20.30 GMT di Basilika Santo Petrus, setelah dia menyerukan "24 jam perdamaian di seluruh dunia".

Di seluruh dunia, para keluarga mulai berkumpul untuk merayakan Malam Natal, dan jutaan anak di mana pun dengan penuh harap menunggu hadiah mereka diantarkan.

Di Betlehem, suara drum dan bagpipe yang memainkan lagu-lagu Natal populer memenuhi udara, saat umat Kristen muda dan tua menuju Alun-Alun Manger di pusat kota.

"Hari ini penuh sukacita karena kami belum bisa merayakan karena perang," kata Milagros Anstas (17), mengenakan seragam kuning dan biru kelompok pandu Salesian Betlehem.

Tempat Kelahiran Yesus


Ratusan orang ikut serta dalam pawai di sepanjang Jalan Bintang (Star Street) yang sempit di Betlehem, sementara kerumunan padat berkumpul di alun-alun.

Pohon Natal menjulang tinggi yang dipenuhi bola-bola merah dan emas berkilauan di samping Church of the Nativity (Gereja Kelahiran).

Basilika ini berasal dari abad keempat dan dibangun di atas gua tempat umat Kristen percaya Yesus dilahirkan lebih dari 2.000 tahun yang lalu.

Warga Betlehem berharap kembalinya perayaan Natal akan menghidupkan kembali kota ini.

"Kita perlu menyampaikan pesan ini ke seluruh dunia, dan ini satu-satunya cara," kata George Hanna, dari kota tetangga Beit Jala.

Pemerintah kota Betlehem mengurangi perayaan Natal sementara perang berkecamuk di Gaza, tetapi gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan Hamas telah menghentikan pertempuran skala penuh di sana sejak Oktober.

“Tahun ini kita menginginkan Natal yang penuh cahaya karena inilah yang kita butuhkan setelah dua tahun dalam kegelapan,” kata Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, sebelum memimpin Misa Tengah Malam di Gereja Kelahiran.

Kardinal senior itu mengunjungi Gaza yang dilanda perang pada akhir pekan, memimpin Misa Natal di Paroki Keluarga Kudus di Kota Gaza pada hari Minggu.

Dia mengatakan kepada kerumunan di Lapangan Palungan bahwa dia telah menyaksikan “bencana” di wilayah Palestina, tetapi juga semangat ketabahan.

“Situasinya benar-benar mengerikan. Tetapi saya juga melihat di sana keinginan untuk hidup, seperti di sini," katanya.

"Di tengah kehampaan, mereka mampu merayakan," ujarnya.

Carmelina Piedimonte, yang melakukan perjalanan ke Betlehem dari Italia sebagai bagian dari kelompok Katolik, mengatakan bahwa menyaksikan perayaan Natal di Tepi Barat yang diduduki telah mengisi hatinya dengan harapan.

"Jika di dalam hatimu ada kasih, maka mungkin untuk memiliki dunia tanpa perang," katanya, saat lonceng berbunyi di belakangnya.

Masa Depan Baru


Di Suriah, lampu Natal menerangi Kota Tua Damaskus, Ibu Kota Suriah, meskipun komunitas Kristen khawatir akan kekerasan setelah serangan penembakan dan bom bunuh diri yang mematikan pada bulan Juni.

Di sekitar distrik tersebut, rumah bagi komunitas yang dinamis dan beberapa gereja penting, bola-bola merah tergantung di pohon-pohon, pemilik toko memasang dekorasi Natal, dan pedagang kaki lima menjajakan kastanye hangat.

"Suriah pantas mendapatkan sukacita dan kebahagiaan bagi kita, dan harapan untuk masa depan yang baru," kata mahasiswa Loris Aasaf (20) saat dia menikmati suasana bersama teman-temannya.

Secara global, para keluarga dengan berbagai cara untuk merayakan Natal mulai dilakukan bersama-sama, saat anak-anak menghitung mundur jam-jam menunggu pengiriman hadiah mereka.

Situs pelacakan Flightradar24, di antara yang lain, menghidupkan kembali tradisi tahunannya dengan mem-posting pelacak Santa secara langsung, menunjukkan kereta luncur Sinterklas melayang di langit dari Kutub Utara untuk mengantarkan hadiah.

Di Australia, Perdana Menteri Anthony Albanese menyampaikan pesan yang lebih muram setelah serangan baru-baru ini terhadap perayaan Hanukkah di Pantai Bondi.

"Di mana pun Anda berada di seluruh negeri kita yang indah ini, Natal akan terasa berbeda tahun ini," katanya, seperti dikutip AFP, Kamis (25/12/2025).

"Setelah teror yang menimpa komunitas Yahudi Australia, yang merayakan Hanukkah dan Pantai Bondi, kita merasakan kesedihan yang mendalam di hati kita."
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Jenderal Iran Peringatkan...
Jenderal Iran Peringatkan Pasukan Israel: Tinggalkan Lebanon atau Diusir Secara Memalukan!
Iran Jawab Ancaman Trump:...
Iran Jawab Ancaman Trump: AS Sebaiknya Berhati-hati!
Demi Wujudkan Perdamaian...
Demi Wujudkan Perdamaian dengan Iran, AS Terus Tekan Israel
6 Tentara Israel Tewas...
6 Tentara Israel Tewas dalam 3 Hari Terakhir Akibat Sergapan Hizbullah
Israel Bunuh Jurnalis...
Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera dalam Serangan Udara di Gaza, Menuduhnya Milisi Hamas
Israel Temukan Batu...
Israel Temukan Batu Suci Berusia 2.700 Tahun yang Tertulis dalam Alkitab
Kematian Akibat Wabah...
Kematian Akibat Wabah Ebola di RD Kongo Tembus 200 Orang
Nah, Pentagon Minta...
Nah, Pentagon Minta Anggaran Rp1.426 Triliun untuk Tutupi Biaya Perang Lawan Iran
Rekomendasi
Argentina vs Austria:...
Argentina vs Austria: Misi Messi Dekati Rekor
Kasus DBD Anak Meningkat...
Kasus DBD Anak Meningkat saat El Nino, Ini Gejala yang Wajib Diwaspadai
Review ASUS ExpertBook...
Review ASUS ExpertBook P3 P3405 dari Sisi Performa dan Desain
Berita Terkini
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Mundur, Krisis Politik Berlanjut
Iran Menang Banyak!...
Iran Menang Banyak! Sanksi Dicabut dan Diizinkan Ekspor Minyak
Profil Abelardo De La...
Profil Abelardo De La Espriella, Pengacara Berjam Tangan Mewah yang Jadi Presiden Baru Kolombia
Iran dan AS Sepakati...
Iran dan AS Sepakati Peta Jalan untuk Mengakhiri Perang
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved