Kisah Aktivis Australia Masuk Islam Usai Alami Langsung Kekejaman Blokade Israel di Gaza
Rabu, 24 Desember 2025 - 13:30 WIB
loading...
Aktivis Australia Robert Martin masuk Islam. Foto/freedomflotilla.org
A
A
A
CANBERRA - Seorang aktivis pro-Palestina asal Australia, Robert Martin, membagikan kisah perjalanannya memeluk Islam yang berkelindan erat dengan pengalaman panjangnya dalam aktivisme kemanusiaan, terutama saat ikut serta dalam Freedom Flotilla. Misi internasional Freedom Flotilla digelar untuk menentang blokade Israel atas Gaza.
Dalam wawancara dengan Anadolu, Martin menuturkan dukungannya terhadap Palestina dan keyakinan barunya tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk melalui proses panjang, pengalaman langsung, dan refleksi mendalam.
Martin mengisahkan keterlibatannya dalam isu Palestina bermula bertahun-tahun lalu ketika ia berteman dengan seorang warga Palestina.
Namun pada awalnya, ia mengaku kerap meremehkan cerita-cerita tentang kekerasan dan penindasan Israel karena masih mempercayai narasi media Barat dan sikap pemerintah-pemerintah Barat.
Kepercayaan itu perlahan runtuh seiring waktu, hingga akhirnya benar-benar hancur ketika ia menyaksikan sendiri kenyataan di lapangan.
Pengalaman paling menentukan terjadi saat ia bergabung dengan Freedom Flotilla pada Oktober, armada sipil internasional yang berusaha menembus blokade Gaza.
Menurut Martin, partisipasinya dalam misi tersebut memberinya gambaran nyata tentang bagaimana perlakuan yang diterima warga Palestina di bawah kendali Israel.
Ia mengatakan pasukan Israel menyerang armada tersebut, mengepung kapal bantuan dengan puluhan kapal perang, lalu menyita dan mengawalnya ke pelabuhan Ashdod.
Setelah kapal bantuan dikuasai Zionis, Martin dan para aktivis lainnya ditahan oleh pasukan Israel. Ia menggambarkan suasana penangkapan sebagai agresif dan penuh intimidasi.
Saat turun dari kapal, mereka dihadapkan pada aparat bersenjata lengkap. Selama penahanan, Martin mengaku mengalami kekerasan fisik, seksual, dan psikologis.
Ia mengatakan mereka dipaksa menjalani pemeriksaan telanjang berulang kali dengan cara yang merendahkan dan mengejek.
Pengalaman itu, menurutnya, hanyalah gambaran kecil dari penderitaan yang dialami warga Palestina setiap hari.
Menariknya, Martin menegaskan paspor Australia yang ia miliki tidak memberinya perlakuan istimewa.
Dengan nada sarkastik, ia berkata, dengan “paspor putih dan nama Barat, serta dukungan negara seperti Australia”, seharusnya ia diperlakukan dengan baik—namun kenyataannya jauh dari itu.
Ia juga mengkritik keras pemerintah Australia yang dinilainya gagal bertindak atau bersuara membela warganya, karena takut terhadap Israel.
Martin menambahkan staf konsuler yang membantu para aktivis bahkan mengakui Israel adalah negara paling sulit dihadapi.
Menurut mereka, Israel kerap bertindak di luar norma internasional, sementara negara-negara lain ragu menegurnya atau meminta pertanggungjawaban.
Selain pengalaman aktivisme, Martin juga membagikan kisah spiritualnya menuju Islam. Ia mengatakan telah dekat dengan komunitas Muslim selama sekitar 15 tahun dan memiliki pengalaman yang sangat positif.
Ia menggambarkan setiap Muslim yang ia kenal sebagai pribadi yang penuh kedamaian dan kemanusiaan.
Yang paling berkesan baginya, mereka semua mendukung pembebasan Palestina tanpa menyerukan kekerasan.
Martin pertama kali membaca Al-Qur’an sekitar sepuluh tahun lalu dan menyebutnya sebagai salah satu kitab paling mendalam yang pernah ia baca.
Dalam beberapa bulan terakhir, melalui pembelajaran mandiri dan kajian intensif, ia merasa semakin tertarik pada Islam hingga akhirnya memutuskan memeluk agama tersebut.
Ia mengaku terpesona oleh keindahan makna Al-Qur’an, fleksibilitas ajarannya, serta sifatnya yang terbuka dan merangkul semua manusia.
“Ketika Anda benar-benar memahami makna Al-Qur’an, keindahannya, keluasannya, dan bagaimana Islam terbuka untuk semua orang, saya justru heran mengapa tidak semua orang menjadi Muslim,” ujarnya.
Martin menegaskan ia akan terus bersuara secara terbuka tentang Islam dan Palestina. Baginya, diam bukan lagi pilihan setelah menyaksikan sendiri apa yang terjadi.
Ia percaya saat ini adalah momen terbaik untuk mendukung Palestina, karena dukungan dan cinta masyarakat dunia terhadap perjuangan Palestina jauh lebih besar daripada rasa takut terhadap pemerintah Israel atau para pendukungnya.
Ia menutup pernyataannya dengan satu kalimat yang tegas dan penuh makna, “Free Palestine.”
Baca juga: Imam Besar Al-Azhar Ungkap Palestina Capai Tingkat Ketidakadilan yang Tak Memungkinkan Netralitas
Dalam wawancara dengan Anadolu, Martin menuturkan dukungannya terhadap Palestina dan keyakinan barunya tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk melalui proses panjang, pengalaman langsung, dan refleksi mendalam.
Martin mengisahkan keterlibatannya dalam isu Palestina bermula bertahun-tahun lalu ketika ia berteman dengan seorang warga Palestina.
Namun pada awalnya, ia mengaku kerap meremehkan cerita-cerita tentang kekerasan dan penindasan Israel karena masih mempercayai narasi media Barat dan sikap pemerintah-pemerintah Barat.
Kepercayaan itu perlahan runtuh seiring waktu, hingga akhirnya benar-benar hancur ketika ia menyaksikan sendiri kenyataan di lapangan.
Pengalaman paling menentukan terjadi saat ia bergabung dengan Freedom Flotilla pada Oktober, armada sipil internasional yang berusaha menembus blokade Gaza.
Menurut Martin, partisipasinya dalam misi tersebut memberinya gambaran nyata tentang bagaimana perlakuan yang diterima warga Palestina di bawah kendali Israel.
Ia mengatakan pasukan Israel menyerang armada tersebut, mengepung kapal bantuan dengan puluhan kapal perang, lalu menyita dan mengawalnya ke pelabuhan Ashdod.
Setelah kapal bantuan dikuasai Zionis, Martin dan para aktivis lainnya ditahan oleh pasukan Israel. Ia menggambarkan suasana penangkapan sebagai agresif dan penuh intimidasi.
Saat turun dari kapal, mereka dihadapkan pada aparat bersenjata lengkap. Selama penahanan, Martin mengaku mengalami kekerasan fisik, seksual, dan psikologis.
Ia mengatakan mereka dipaksa menjalani pemeriksaan telanjang berulang kali dengan cara yang merendahkan dan mengejek.
Pengalaman itu, menurutnya, hanyalah gambaran kecil dari penderitaan yang dialami warga Palestina setiap hari.
Menariknya, Martin menegaskan paspor Australia yang ia miliki tidak memberinya perlakuan istimewa.
Dengan nada sarkastik, ia berkata, dengan “paspor putih dan nama Barat, serta dukungan negara seperti Australia”, seharusnya ia diperlakukan dengan baik—namun kenyataannya jauh dari itu.
Ia juga mengkritik keras pemerintah Australia yang dinilainya gagal bertindak atau bersuara membela warganya, karena takut terhadap Israel.
Martin menambahkan staf konsuler yang membantu para aktivis bahkan mengakui Israel adalah negara paling sulit dihadapi.
Menurut mereka, Israel kerap bertindak di luar norma internasional, sementara negara-negara lain ragu menegurnya atau meminta pertanggungjawaban.
Selain pengalaman aktivisme, Martin juga membagikan kisah spiritualnya menuju Islam. Ia mengatakan telah dekat dengan komunitas Muslim selama sekitar 15 tahun dan memiliki pengalaman yang sangat positif.
Ia menggambarkan setiap Muslim yang ia kenal sebagai pribadi yang penuh kedamaian dan kemanusiaan.
Yang paling berkesan baginya, mereka semua mendukung pembebasan Palestina tanpa menyerukan kekerasan.
Martin pertama kali membaca Al-Qur’an sekitar sepuluh tahun lalu dan menyebutnya sebagai salah satu kitab paling mendalam yang pernah ia baca.
Dalam beberapa bulan terakhir, melalui pembelajaran mandiri dan kajian intensif, ia merasa semakin tertarik pada Islam hingga akhirnya memutuskan memeluk agama tersebut.
Ia mengaku terpesona oleh keindahan makna Al-Qur’an, fleksibilitas ajarannya, serta sifatnya yang terbuka dan merangkul semua manusia.
“Ketika Anda benar-benar memahami makna Al-Qur’an, keindahannya, keluasannya, dan bagaimana Islam terbuka untuk semua orang, saya justru heran mengapa tidak semua orang menjadi Muslim,” ujarnya.
Martin menegaskan ia akan terus bersuara secara terbuka tentang Islam dan Palestina. Baginya, diam bukan lagi pilihan setelah menyaksikan sendiri apa yang terjadi.
Ia percaya saat ini adalah momen terbaik untuk mendukung Palestina, karena dukungan dan cinta masyarakat dunia terhadap perjuangan Palestina jauh lebih besar daripada rasa takut terhadap pemerintah Israel atau para pendukungnya.
Ia menutup pernyataannya dengan satu kalimat yang tegas dan penuh makna, “Free Palestine.”
Baca juga: Imam Besar Al-Azhar Ungkap Palestina Capai Tingkat Ketidakadilan yang Tak Memungkinkan Netralitas
(sya)
Lihat Juga :