Ilmuwan Nuklir Iran yang Digantung Mengaku Mata-mata Mossad karena Ibunya Diancam

Minggu, 14 Desember 2025 - 06:46 WIB
loading...
Ilmuwan Nuklir Iran...
Rouzbeh Vadi, ilmuwan nuklir Iran yang dieksekusi gantung pada Agustus lalu atas tuduhan telah menjadi mata-mata badan intelijen Israel, Mossad. Foto/Iran International
A A A
TEHERAN - Rouzbeh Vadi adalah ilmuwan nuklir Iran yang dieksekusi gantung pada Agustus lalu atas tuduhan telah menjadi mata-mata badan intelijen Israel, Mossad. Keluarganya sekarang mengungkap bahwa pengakuan itu merupakan keterpaksaan karena ibunya telah diancam akan disiksa penyidik Teheran.

Vahid Razavi, anggota keluarga Vadi, mengatakan kepada Iran International bahwa ilmuwan tersebut ditahan sekitar 18 bulan yang lalu setelah perselisihan di tempat kerja dan kemudian dituduh sebagai mata-mata Mossad.

“Rouzbeh disiksa dengan hebat, sampai-sampai tulang di kakinya dan dua tulang rusuknya patah, dan kemudian ibunya ditangkap dan dipenjara,” kata Razavi.

Baca Juga: Iran Gantung Ilmuwan Nuklirnya karena Jadi Mata-mata Mossad

Para penyidik, imbuh dia, memotret ibunya saat ditahan dan menunjukkan gambar-gambar itu kepada Vadi untuk mendapatkan pengakuan paksa.

“Mereka telah memberi tahu Rouzbeh bahwa jika dia tidak mengaku melakukan spionase dan setuju untuk tampil dalam wawancara televisi, mereka akan menyiksa ibunya," ujarnya kepada Iran International, Sabtu (13/12/2025).

Vadi, yang memiliki gelar doktor di bidang teknik reaktor, telah ikut menulis makalah penelitian tahun 2011 bersama para ahli nuklir senior Iran yang kemudian tewas selama perang dengan Israel pada Juni lalu. Gelar doktor yang disandang Vadi tertulis di profil Google Scholar-nya.

Pihak kehakiman mengatakan dia dihukum karena mentransfer informasi rahasia tentang salah satu ilmuwan yang tewas dalam serangan Israel tersebut kepada Mossad.

Menurut Razavi, para penyidik memperingatkan Vadi bahwa kecuali dia mengakui spionase dan muncul dalam pengakuan yang disiarkan di televisi, “mereka akan menyiksa ibunya.” Dia mengatakan Vadi menerima apa yang disebutnya sebagai tuduhan palsu dalam kondisi tersebut.

Vadi, anggota Institut Penelitian Sains dan Teknologi Nuklir yang berafiliasi dengan Organisasi Energi Atom, dieksekusi pada 6 Agustus. Pihak kehakiman mengatakan pada saat itu dia telah “direkrut melalui dunia maya oleh Mossad.”

Pengakuan tersebut, kata Razavi, yang disiarkan di televisi pemerintah, adalah satu-satunya dasar untuk vonis tersebut. Dia mengatakan pihak berwenang "bertindak cepat" setelah perang 12 hari pada bulan Juni dan melaksanakan eksekusi tanpa memberi tahu keluarga.

Razavi juga mempertanyakan pernyataan media pemerintah bahwa Vadi menerima tas hitam berisi uang tunai. "Di era transaksi digital, mengapa seorang ilmuwan berpendidikan tinggi menerima uang tunai dalam tas?" katanya.

Vadi, kata Razavi, digambarkan telah menyalin file-file sensitif ke hard drive dan menyerahkannya di toilet umum taman. Menurutnya, pernyataan tersebut "tidak masuk akal" mengingat ketersediaan platform digital yang aman seperti Signal atau Telegram.

Organisasi hak asasi manusia telah lama menyuarakan kekhawatiran tentang pengakuan paksa yang diperoleh melalui penyiksaan dalam sistem peradilan Iran.

Razavi menggambarkan Vadi sebagai orang yang cerdas, berbakti kepada keluarganya, dan fokus pada pekerjaan, mencatat bahwa dia tinggal bersama ibunya dan memiliki penghasilan yang sederhana. Dia mengatakan Vadi tidak terlibat dalam politik dan berkomitmen untuk mendukung penelitian nuklir damai.

Setelah perang Juni, pengadilan Iran telah menangkap, mengadili, dan mengeksekusi beberapa orang atas tuduhan spionase yang melibatkan Israel. Dalam salah satu kasus baru-baru ini, tahanan politik Javad Naeimi dieksekusi pada 18 Oktober di Qom. Eksekusi ini telah menuai kritik dari kelompok hak asasi manusia internasional dan pelapor khusus PBB.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Menang Banyak!...
Iran Menang Banyak! Sanksi Dicabut dan Diizinkan Ekspor Minyak
Iran dan AS Sepakati...
Iran dan AS Sepakati Peta Jalan untuk Mengakhiri Perang
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Perundingan Iran-AS...
Perundingan Iran-AS Hasilkan 4 Kesepakatan Utama, Negosiator Teheran Sempat Walkout
Jenderal Iran Peringatkan...
Jenderal Iran Peringatkan Pasukan Israel: Tinggalkan Lebanon atau Diusir Secara Memalukan!
Perjalanan Berliku Iran...
Perjalanan Berliku Iran Tulis Sejarah di Piala Dunia 2026
Suami Divonis 4 Tahun...
Suami Divonis 4 Tahun Penjara karena Paksa Istri Berhubungan Seks dengan 120 Pria
Selat Hormuz Ditutup...
Selat Hormuz Ditutup Lagi, Trump Ancam Lenyapkan Iran
Rekomendasi
Kebangkitan Sepak Bola...
Kebangkitan Sepak Bola Asia: Pelajaran untuk Pembangunan Ekonomi
Diumumkan Mulai Besok,...
Diumumkan Mulai Besok, Ini Link Pengumuman Hasil SMUP Unpad 2026
SPMB Jakarta 2026 untuk...
SPMB Jakarta 2026 untuk Sekolah Swasta SMP-SMA Tahap 2 Dibuka, Cek Cara Pilih Sekolah
Berita Terkini
Profil Abelardo De La...
Profil Abelardo De La Espriella, Pengacara Berjam Tangan Mewah yang Jadi Presiden Baru Kolombia
Iran dan AS Sepakati...
Iran dan AS Sepakati Peta Jalan untuk Mengakhiri Perang
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
9 Kota di Mana Matahari...
9 Kota di Mana Matahari Hampir Tidak Pernah Terbenam atau Terbit saat Musim Panas
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Ledakan Dahsyat Guncang...
Ledakan Dahsyat Guncang Situs LNG Qatar, 54 Orang Terluka, 18 Hilang
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved