Eks Jenderal Rusia Berani Nilai Intelijen Putin Gagal dalam Invasi Ukraina: 'Katanya Perang Selesai 3 Hari...'
Jum'at, 05 Desember 2025 - 13:44 WIB
loading...
Vladimir Chirkin, mantan kolonel jenderal Rusia yang berani menilai komunitas intelijen di bawah Presiden Vladimir Putin gagal dalam invasi Ukraina. Foto/Bild
A
A
A
MOSKOW - Seorang mantan jenderal pasukan Rusia mengecam komunitas dinas intelijen di bawah Presiden Vladimir Putin atas kinerja awal mereka dalam perang melawan Ukraina. Dia bahkan berani menilai seluruh komunitas intelijen negaranya gagal dalam invasi tersebut.
Mantan perwira militer yang sangat kritis itu bernama Vladimir Chirkin. Dia merupakan kolonel jenderal yang memimpin pasukan darat Rusia dari tahun 2012 hingga 2013.
"Semua orang, jika Anda ingat, mulai mengatakan pada Februari 2022 bahwa perang akan berakhir dalam tiga hari. Kita akan mengalahkan mereka semua sekarang," kata Chirkin dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio Rusia; RBC.
Baca Juga: Seterus Memanas, Negara NATO Kerahkan 5 Jet Tempur di Dekat Rusia
Mengutip laporan Business Insider, Jumat (5/12/2025), wawancara itu berlangsung pada 27 November.
"Namun sayangnya, hasilnya tidak seperti itu. Saya akan memberi seluruh komunitas intelijen Rusia nilai gagal," tegasnya. Kritik sang pensiunan jenderal disorot di kalangan Ukraina minggu ini, termasuk oleh jurnalis politik Ukraina; Denis Kazanskyi.
Dalam wawancaranya, Chirkin mengatakan bahwa Moskow "secara tradisional" telah salah memperhitungkan keseimbangan kekuatan, meremehkan musuhnya dan melebih-lebihkan kinerja pasukannya sendiri.
"Sejujurnya, saya tidak bermaksud mengkritik siapa pun, tetapi menurut saya, Rusia sekali lagi tidak siap berperang, seperti yang terjadi pada tahun-tahun dan abad-abad sebelumnya," katanya.
Chirkin mengatakan bahwa para pemimpin Rusia telah disesatkan dengan berpikir bahwa 70% penduduk Ukraina mendukung pemerintah pro-Rusia.
"Ternyata justru sebaliknya. 30% mendukung kami dan 70% menentang," katanya. "Selama beberapa minggu pertama, kami diajari pelajaran yang sangat kejam."
Chirkin juga mengatakan pasukan Rusia kemungkinan besar menderita "sindrom Tbilisi" pada tahap awal invasi, yang menggambarkan situasi di mana pasukan takut membuat keputusan taktis tanpa perintah dari atasan mereka.
Penilaian Chirkin sebagian besar sejalan dengan analisis Barat dan Ukraina tentang bulan-bulan awal perang, yang menemukan bahwa Rusia sangat salah menilai kemampuannya untuk merebut wilayah Kyiv. Setelah berminggu-minggu kebingungan di antara pasukannya, logistik yang buruk, dan kegagalan mencapai superioritas udara, Kremlin menarik diri dari wilayah ibu kota Ukraina pada akhir Maret 2022.
Keterusterangan mantan jenderal itu tampaknya mengejutkan bahkan pewawancaranya, Yuri Tamantsev dari RBC.
"Sejujurnya, saya tidak mengharapkan kejujuran seperti itu di awal percakapan kita," kata Tamantsev.
Sekadar diketahui, Rusia telah melarang penyebaran "informasi palsu" tentang perang di Ukraina, yang dapat mengakibatkan hukuman hingga 15 tahun penjara. Namun, kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan undang-undang tersebut telah digunakan untuk menghukum warga Rusia yang memprotes atau mengkritik invasi tersebut.
Namun, Chirkin, yang pangkat militernya setara dengan jenderal bintang tiga di NATO, tidak secara terbuka mengkritik premis yang dinyatakan Moskow untuk menginvasi Ukraina.
Sisa wawancaranya dengan Tamantsev berfokus pada bagaimana peperangan Rusia telah berkembang selama beberapa tahun terakhir dan bagaimana pasukannya dapat mencapai visi kemenangan Moskow.
Chirkin dicopot dari jabatannya pada tahun 2013, ketika dia dituduh melakukan penyuapan. Dia kehilangan pangkatnya setelah dinyatakan bersalah pada Agustus 2015 karena menerima suap sebesar 450.000 rubel dan dijatuhi hukuman kamp kerja paksa selama lima tahun, tetapi hukuman tersebut diringankan pada bulan Desember.
Pangkat sang kolonel jenderal, yang mengatakan bahwa suap tersebut merupakan hasil penipuan oleh bawahannya, dipulihkan.
Mantan perwira militer yang sangat kritis itu bernama Vladimir Chirkin. Dia merupakan kolonel jenderal yang memimpin pasukan darat Rusia dari tahun 2012 hingga 2013.
"Semua orang, jika Anda ingat, mulai mengatakan pada Februari 2022 bahwa perang akan berakhir dalam tiga hari. Kita akan mengalahkan mereka semua sekarang," kata Chirkin dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio Rusia; RBC.
Baca Juga: Seterus Memanas, Negara NATO Kerahkan 5 Jet Tempur di Dekat Rusia
Mengutip laporan Business Insider, Jumat (5/12/2025), wawancara itu berlangsung pada 27 November.
"Namun sayangnya, hasilnya tidak seperti itu. Saya akan memberi seluruh komunitas intelijen Rusia nilai gagal," tegasnya. Kritik sang pensiunan jenderal disorot di kalangan Ukraina minggu ini, termasuk oleh jurnalis politik Ukraina; Denis Kazanskyi.
Dalam wawancaranya, Chirkin mengatakan bahwa Moskow "secara tradisional" telah salah memperhitungkan keseimbangan kekuatan, meremehkan musuhnya dan melebih-lebihkan kinerja pasukannya sendiri.
"Sejujurnya, saya tidak bermaksud mengkritik siapa pun, tetapi menurut saya, Rusia sekali lagi tidak siap berperang, seperti yang terjadi pada tahun-tahun dan abad-abad sebelumnya," katanya.
Chirkin mengatakan bahwa para pemimpin Rusia telah disesatkan dengan berpikir bahwa 70% penduduk Ukraina mendukung pemerintah pro-Rusia.
"Ternyata justru sebaliknya. 30% mendukung kami dan 70% menentang," katanya. "Selama beberapa minggu pertama, kami diajari pelajaran yang sangat kejam."
Chirkin juga mengatakan pasukan Rusia kemungkinan besar menderita "sindrom Tbilisi" pada tahap awal invasi, yang menggambarkan situasi di mana pasukan takut membuat keputusan taktis tanpa perintah dari atasan mereka.
Penilaian Chirkin sebagian besar sejalan dengan analisis Barat dan Ukraina tentang bulan-bulan awal perang, yang menemukan bahwa Rusia sangat salah menilai kemampuannya untuk merebut wilayah Kyiv. Setelah berminggu-minggu kebingungan di antara pasukannya, logistik yang buruk, dan kegagalan mencapai superioritas udara, Kremlin menarik diri dari wilayah ibu kota Ukraina pada akhir Maret 2022.
Keterusterangan mantan jenderal itu tampaknya mengejutkan bahkan pewawancaranya, Yuri Tamantsev dari RBC.
"Sejujurnya, saya tidak mengharapkan kejujuran seperti itu di awal percakapan kita," kata Tamantsev.
Sekadar diketahui, Rusia telah melarang penyebaran "informasi palsu" tentang perang di Ukraina, yang dapat mengakibatkan hukuman hingga 15 tahun penjara. Namun, kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan undang-undang tersebut telah digunakan untuk menghukum warga Rusia yang memprotes atau mengkritik invasi tersebut.
Namun, Chirkin, yang pangkat militernya setara dengan jenderal bintang tiga di NATO, tidak secara terbuka mengkritik premis yang dinyatakan Moskow untuk menginvasi Ukraina.
Sisa wawancaranya dengan Tamantsev berfokus pada bagaimana peperangan Rusia telah berkembang selama beberapa tahun terakhir dan bagaimana pasukannya dapat mencapai visi kemenangan Moskow.
Chirkin dicopot dari jabatannya pada tahun 2013, ketika dia dituduh melakukan penyuapan. Dia kehilangan pangkatnya setelah dinyatakan bersalah pada Agustus 2015 karena menerima suap sebesar 450.000 rubel dan dijatuhi hukuman kamp kerja paksa selama lima tahun, tetapi hukuman tersebut diringankan pada bulan Desember.
Pangkat sang kolonel jenderal, yang mengatakan bahwa suap tersebut merupakan hasil penipuan oleh bawahannya, dipulihkan.
(mas)
Lihat Juga :