Penyelidikan Inggris: Putin Dalang Serangan Racun Ganas Novichok terhadap Eks Mata-mata Rusia!

Jum'at, 05 Desember 2025 - 10:57 WIB
loading...
Penyelidikan Inggris:...
Sergei Skripal, mantan agen ganda Rusia-Inggris yang diserang racun Novichok di Salisbury, Inggris, pada 2018. Penyelidikan Inggris sebut Presiden Vladimir Putin dalang serangan. Foto/Sky News
A A A
LONDON - Penyelidikan publik Inggris menyimpulkan Presiden Rusia Vladimir Putin diduga sebagai dalang serangan racun saraf ganas Novichok terhadap mantan mata-mata Rusia Sergei Skripal di Salisbury pada 2018. Laporan penyelidikan itu menyatakan Putin sebagai sosok yang memerintahkan serangan terhadap agen ganda tersebut.

Skripal ditemukan bersama putrinya, Yulia, tak sadarkan diri di bangku taman di kota Salisbury, Inggris selatan, pada Maret 2018 setelah racun Novichok dioleskan ke gagang pintu depan rumahnya di dekat lokasi kejadian.

Sekitar empat bulan kemudian, Dawn Sturgess (44), seorang ibu tiga anak, meninggal dunia akibat paparan racun tersebut setelah pasangannya menemukan botol parfum palsu yang digunakan mata-mata Rusia untuk menyelundupkan Novichok—agen saraf kelas militer—ke Inggris. Demikian temuan penyelidikan tersebut.

Baca Juga: Pencipta Novichok Sebut Racun Novichok Sebanding dengan Bom Nuklir

Keluarga Skripal, dan seorang petugas polisi yang mendatangi rumah Skripal, mengalami kondisi kritis akibat efek racun tersebut, tetapi berhasil pulih.

Dalam kesimpulannya, ketua pengadilan, mantan hakim Mahkamah Agung Inggris Anthony Hughes, mengatakan dia yakin tim perwira intelijen militer Rusia (GRU) telah berupaya membunuh Skripal, yang menjual informasi rahasia Rusia ke Inggris dan pindah ke sana setelah pertukaran mata-mata pada tahun 2010.

"Saya menyimpulkan bahwa operasi pembunuhan Sergei Skripal pasti telah mendapat izin dari tingkat tertinggi, oleh Presiden Putin," kata Hughes dalam laporannya, yang dikutip Reuters, Jumat (5/12/2025).

"Bukti bahwa ini adalah serangan negara Rusia sangat kuat," lanjut Hughes.

Moskow selalu membantah terlibat, dan menganggap tuduhan tersebut sebagai propaganda anti-Rusia.

Menanggapi temuan laporan tersebut, Kedutaan Besar Rusia di London mengatakan dalam sebuah pernyataan di aplikasi Telegram bahwa duta besarnya telah mengunjungi Kementerian Luar Negeri Inggris. "Untuk menolak dengan tegas tuduhan yang tidak berdasar dan tidak masuk akal, termasuk yang ditujukan terhadap Putin," katanya.

Kedutaan juga menuduh London berusaha mengganggu proses negosiasi yang sedang berlangsung untuk penyelesaian damai atas perang Rusia-Ukraina.

Hughes mengatakan dua orang Rusia yang mengoleskan Novichok di pintu Skripal telah membuang botol berisi racun tersebut tanpa mempedulikan bahaya yang ditimbulkannya bagi orang-orang tak bersalah.

Penyelidikan itu menyimpulkan bahwa botol parfum yang terkontaminasi tersebut mengandung racun yang cukup untuk membunuh ribuan orang.

Menurut Hughes, tindakan "yang sangat sembrono" ini berarti para calon pembunuh, atasan mereka di GRU, dan mereka yang mengotorisasi serangan, hingga Putin sendiri, memikul tanggung jawab moral atas kematian Sturgess.

Polisi Inggris telah mendakwa secara in absentia tiga tersangka anggota tim pembunuh Rusia.

Pada hari Kamis, pemerintah mengumumkan sanksi baru terhadap badan GRU dan memanggil duta besar Rusia atas apa yang disebutnya sebagai "kampanye aktivitas permusuhan yang sedang berlangsung" oleh Moskow.

"Inggris akan selalu menentang rezim brutal Putin dan mengecam mesin pembunuhnya apa adanya," kata Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Insiden serangan racun di Salisbury memicu aksi saling usir diplomat Rusia-Barat terbesar sejak Perang Dingin, dan hubungan antara Moskow dan London semakin memburuk sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, dengan Inggris memberikan bantuan militer dalam jumlah besar ke Kyiv.

Dua orang Rusia yang dituduh oleh Inggris melakukan peracunan kemudian muncul di televisi Rusia untuk menyangkal keterlibatan, dengan mengatakan bahwa mereka adalah turis tak bersalah yang mengunjungi kota tersebut. Ketiga tersangka yang diadili secara in absentia membantah terlibat.

Hughes mengatakan Rusia memiliki selera risiko yang meningkat, mengutip aneksasi Crimea dan jatuhnya pesawat penumpang Malaysia Airlines—keduanya pada tahun 2014—, dan mengatakan serangan itu diperkirakan akan menjadi demonstrasi nyata kekuatan Rusia.

"Serangan terhadap Sergei Skripal oleh Rusia, tampaknya jelas, tidak dirancang semata-mata sebagai balas dendam, melainkan merupakan pernyataan publik, baik untuk konsumsi internasional maupun domestik, bahwa Rusia akan bertindak tegas demi kepentingannya sendiri," imbuh laporan penyelidikan tersebut.

Meskipun Putin sebelumnya telah mengecam Skripal sebagai pengkhianat, penyelidikan tersebut menyatakan tidak ada indikasi bahwa agen ganda tersebut berada dalam bahaya besar atau bahwa tindakan lebih lanjut dapat dilakukan untuk melindunginya.

Laporan hari Kamis tersebut merupakan investigasi besar kedua yang menyalahkan Putin atas serangan di wilayah Inggris terhadap orang-orang yang dianggapnya sebagai musuh.

Sebuah penyelidikan pada tahun 2016 menyimpulkan bahwa Putin kemungkinan telah memerintahkan pembunuhan Alexander Litvinenko, seorang pembangkang Rusia dan mantan agen dinas keamanan FSB, di London, dengan menggunakan polonium-210 radioaktif.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jerman Gagal Rebut Kursi...
Jerman Gagal Rebut Kursi DK PBB untuk Pertama Kalinya
Blok Rusia Tekan Armenia:...
Blok Rusia Tekan Armenia: Pilih Tetap Jadi Sekutu atau Hengkang ke Uni Eropa!
Rusia Ngamuk Bombardir...
Rusia Ngamuk Bombardir Ukraina, 10 Orang Tewas, Lebih dari 100 Terluka
Putin Ragu Drone Rusia...
Putin Ragu Drone Rusia Serang Negara NATO, Presiden Rumania Sodorkan Bukti
Kapal Tanker Rusia Dibajak...
Kapal Tanker Rusia Dibajak Prancis, Ini Respons Keras dari Kremlin
Prancis Cegat Kapal...
Prancis Cegat Kapal Tanker Rusia, Eropa Memanas!
Kamuflase Kendaraan...
Kamuflase Kendaraan Perang Rusia Bisa Mengecoh Drone Berteknologi AI
Iran Akan Gelar Acara...
Iran Akan Gelar Acara Pemakaman untuk Mendiang Pemimpin Tertinggi Khamenei di 3 Kota
Mengapa Trump Murka...
Mengapa Trump Murka kepada Netanyahu hingga Keluar Kata-Kata Kasar?
Rekomendasi
Sepak Bola dan Organisme...
Sepak Bola dan Organisme Kepercayaan
Geledah Rumah Silmy...
Geledah Rumah Silmy Karim, KPK Segel Mobil Mewah
Copot 3 Pimpinan BGN,...
Copot 3 Pimpinan BGN, Prabowo: Saya Sedih, Mengganti Orang yang Saya Sayangi
Berita Terkini
Kim Jong-un Janji Tingkatkan...
Kim Jong-un Janji Tingkatkan Bom Nuklir Secara Eksponensial, Sebut Musuh Korut Sangat Ganas
Jerman Gagal Rebut Kursi...
Jerman Gagal Rebut Kursi DK PBB untuk Pertama Kalinya
Iran Serang Kapal Perang...
Iran Serang Kapal Perang AS di Teluk Oman yang Diklaim sebagai Pusat Komando Amerika
Iran Klaim Rudal Patriot...
Iran Klaim Rudal Patriot AS yang Hancurkan Bandara Kuwait, Amerika Menyangkal
Rudal Patriot AS Makan...
Rudal Patriot AS Makan Tuan: Gagal Cegat Misil Iran, Malah Hancurkan Bandara Kuwait
Siapa Adam Hamawy? Dokter...
Siapa Adam Hamawy? Dokter Bedah AS yang Pernah Bertugas di Gaza dan Terpiih sebagai Anggota Kongres
Infografis
Pewaris Kerajaan Inggris...
Pewaris Kerajaan Inggris Pangeran William Jadi Target Drone Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved