Media Asing Soroti Banyak Kayu Gelondongan dalam Banjir Dahsyat Sumatra
Jum'at, 05 Desember 2025 - 07:39 WIB
loading...
Media asing soroti banyak kayu gelondongan dalam banjir dahsyat di Sumatra. Foto/YouTube SindoNews TV
A
A
A
JAKARTA - Pemandangan tumpukan kayu dalam banjir dahsyat di Sumatra, Indonesia, menjadi sorotan The New York Times, media asing yang berbasis di Amerika Serikat (AS). Analisis media tersebut menyatakan pemandangan tak biasa ini menjadi pertanda bahwa deforestasi memperparah kerusakan yang ditimbulkan oleh siklon.
"Where Floodwaters Turned Piles of Timber Into Floating Battering Rams [Tempat di mana banjir mengubah tumpukan kayu menjadi pelantak terapung]," bunyi judul laporan media tersebut.
Pekan lalu, hujan deras mengguyur ujung utara pulau Sumatra selama tiga hari berturut-turut. Satu daerah di Provinsi Aceh diguyur hujan 16 inci dalam sehari. Banjir yang terjadi kemudian menyapu bersih empat desa. "Lebih jauh ke selatan, banjir bandang membawa bahaya yang tak terduga: tumpukan kayu demi tumpukan kayu," tulis media Amerika tersebut.
Baca Juga: Banjir Sumatra Renggut 631 Orang, Ini Daftar Pemimpin Dunia yang Berbelasungkawa
Tak terhitung banyaknya kayu gelondongan dan puing-puing lainnya jatuh ke permukiman di Provinsi Sumatra Utara setelah Siklon Senyar menerjang Indonesia pada hari Rabu.
“Ke mana pun Anda memandang—kiri dan kanan di sepanjang jalan—ada tumpukan kayu,” kata Sarma Hutajulu, seorang relawan penyelamat yang membantu membersihkan puing-puing di Kecamatan Tukka.
“Itulah yang menghantam rumah-rumah warga," imbuh dia.
Badai tersebut menghantam wilayah barat laut Indonesia, sebelum bergerak ke Malaysia dan Thailand, mengakibatkan hujan lebat selama berhari-hari yang memicu banjir bandang dan tanah longsor yang telah menewaskan ratusan orang.
Khusus di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, banjir dan tanah longsor sudah menewaskan 836 hingga Kamis kemarin. Ratusan orang masih hilang dan ratusan ribu lainnya telah mengungsi.
Para pakar mengatakan bahwa dahsyatnya badai tersebut diperparah oleh deforestasi selama puluhan tahun. Sebagian besar hutan alam Sumatra telah ditebang habis dalam beberapa dekade terakhir dan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit, perkebunan kayu pulp, dan tambang emas. Kayu gelondongan dari beberapa kegiatan tersebut menjadi alat pendobrak terapung setelah badai menerjang.
“Saya melihatnya sendiri di lapangan, begitu banyak kayu gelondongan yang terbawa arus,” kata Walden Sitanggang, seorang pendeta dan aktivis lingkungan, dari Sumatra Utara.
“Kayu gelondongan tidak jatuh begitu saja dari langit—pasti berasal dari kegiatan penebangan di hulu," ujarnya.
Pada hari Rabu, Menteri Lingkungan Hidup Indonesia Hanif Faisol Nurofiq mengakui bahwa bencana tersebut tidak dapat semata-mata dikaitkan dengan penyebab alam. Dia menyampaikan kepada DPR bahwa sejak tahun 1990, puluhan ribu hektare hutan telah hilang dari provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
Hanif mengatakan bahwa pemerintah akan mengevaluasi izin lingkungan untuk semua operasi di Batang Toru, Sumatra Utara, dan memanggil pejabat perusahaan yang bertanggung jawab atas keberadaan kayu-kayu tersebut.
Awal pekan ini, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan kepada anggota DPR tentang masalah lain. Badannya telah memperingatkan pemerintah daerah di Sumatra tentang Badai Senyar delapan hari sebelum siklon tersebut terbentuk sepenuhnya, dan kemudian mengeluarkan peringatan lanjutan saat badai tersebut mendekat. Namun, dia mengatakan tidak semua kepala daerah siap siaga.
Alya Galuh Rahmadya Jeanitha (29), warga Kota Lhokseumawe, Aceh, mengatakan dia tidak menerima peringatan dini apa pun. Daerah di sekitar rumahnya, katanya, mulai banjir Selasa lalu. Keesokan harinya, setelah badai menerjang daratan, air masuk ke rumahnya, dan dia beserta keluarganya terpaksa mengungsi ke dataran tinggi.
Di Sumatra Utara, hujan deras yang tak henti-hentinya hanya memberi warga waktu beberapa menit untuk bereaksi.
Henry Irawan Marpaung (44) mengatakan banjir dan tanah longsor terjadi hampir bersamaan. Dia mengaku hanya bisa bertahan hidup dengan berpegangan pada tiang di rumah mertuanya, di Kecamatan Tukka. "Saya menyaksikan dua tetangga tersapu banjir bandang," ujarnya.
Di seluruh Sumatra, lebih dari 570.000 orang kini mengungsi dari rumah mereka. Banjir telah merusak banyak jalan dan jembatan, sehingga menghambat akses ke banyak daerah.
“Masih ada bayi di sana yang membutuhkan popok, masih ada orang yang belum makan selama lima hari. Tidak ada air bersih,” kata Afil Maulana, seorang pekerja bantuan, dari Aceh utara. “Di sini sangat buruk.”
Muhammad Abdikaramllah (32), warga Banda Aceh, ibu kota Aceh, mengatakan banjir di kota asal istrinya, Langsa, melonjak hingga 4,5 meter.
“Keluarga saya bertahan hidup dengan apa pun yang mereka miliki,” katanya. “Beberapa orang memasak telur jika ada, dan jika ada daun, mereka merebusnya.”
Para pakar iklim mengatakan hujan lebat turun di Indonesia, dan baru-baru ini di Sri Lanka, karena lautan yang lebih hangat membebani badai dengan lebih banyak kelembapan. Hal ini meningkatkan kebutuhan untuk memperbaiki drainase lokal, perataan lereng, dan sistem evakuasi.
"Tema umum di seluruh Indonesia, Sri Lanka, Thailand, dan Malaysia musim ini adalah risiko yang berjenjang," ujar Roxy Mathew Koll dari Institut Meteorologi Tropis India melalui email.
"Bahkan siklon sedang pun menghasilkan hujan lebat karena lautan lebih hangat, atmosfer lebih basah, dan masyarakat tinggal di dekat tepian dalam hal pemanfaatan lahan."
Penelitian oleh Andra J Garner, pakar siklon tropis di Universitas Rowan di Glassboro, New Jersey, telah menemukan bahwa seiring menghangatnya planet, badai cenderung menguat lebih cepat di dekat banyak garis pantai di Asia Tenggara, dan kemudian bergerak lebih lambat setelah mencapai daratan.
“Hal itu memperkuat bahaya, karena sekarang ada badai dan semua dampaknya, tetapi dampak dari badai itu berlangsung lebih lama,” ujarnya. “Semakin lama Anda terpapar bahaya semacam itu, semakin besar pula bahayanya.”
"Where Floodwaters Turned Piles of Timber Into Floating Battering Rams [Tempat di mana banjir mengubah tumpukan kayu menjadi pelantak terapung]," bunyi judul laporan media tersebut.
Pekan lalu, hujan deras mengguyur ujung utara pulau Sumatra selama tiga hari berturut-turut. Satu daerah di Provinsi Aceh diguyur hujan 16 inci dalam sehari. Banjir yang terjadi kemudian menyapu bersih empat desa. "Lebih jauh ke selatan, banjir bandang membawa bahaya yang tak terduga: tumpukan kayu demi tumpukan kayu," tulis media Amerika tersebut.
Baca Juga: Banjir Sumatra Renggut 631 Orang, Ini Daftar Pemimpin Dunia yang Berbelasungkawa
Tak terhitung banyaknya kayu gelondongan dan puing-puing lainnya jatuh ke permukiman di Provinsi Sumatra Utara setelah Siklon Senyar menerjang Indonesia pada hari Rabu.
“Ke mana pun Anda memandang—kiri dan kanan di sepanjang jalan—ada tumpukan kayu,” kata Sarma Hutajulu, seorang relawan penyelamat yang membantu membersihkan puing-puing di Kecamatan Tukka.
“Itulah yang menghantam rumah-rumah warga," imbuh dia.
Badai tersebut menghantam wilayah barat laut Indonesia, sebelum bergerak ke Malaysia dan Thailand, mengakibatkan hujan lebat selama berhari-hari yang memicu banjir bandang dan tanah longsor yang telah menewaskan ratusan orang.
Khusus di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, banjir dan tanah longsor sudah menewaskan 836 hingga Kamis kemarin. Ratusan orang masih hilang dan ratusan ribu lainnya telah mengungsi.
Para pakar mengatakan bahwa dahsyatnya badai tersebut diperparah oleh deforestasi selama puluhan tahun. Sebagian besar hutan alam Sumatra telah ditebang habis dalam beberapa dekade terakhir dan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit, perkebunan kayu pulp, dan tambang emas. Kayu gelondongan dari beberapa kegiatan tersebut menjadi alat pendobrak terapung setelah badai menerjang.
“Saya melihatnya sendiri di lapangan, begitu banyak kayu gelondongan yang terbawa arus,” kata Walden Sitanggang, seorang pendeta dan aktivis lingkungan, dari Sumatra Utara.
“Kayu gelondongan tidak jatuh begitu saja dari langit—pasti berasal dari kegiatan penebangan di hulu," ujarnya.
Pada hari Rabu, Menteri Lingkungan Hidup Indonesia Hanif Faisol Nurofiq mengakui bahwa bencana tersebut tidak dapat semata-mata dikaitkan dengan penyebab alam. Dia menyampaikan kepada DPR bahwa sejak tahun 1990, puluhan ribu hektare hutan telah hilang dari provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
Hanif mengatakan bahwa pemerintah akan mengevaluasi izin lingkungan untuk semua operasi di Batang Toru, Sumatra Utara, dan memanggil pejabat perusahaan yang bertanggung jawab atas keberadaan kayu-kayu tersebut.
Awal pekan ini, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan kepada anggota DPR tentang masalah lain. Badannya telah memperingatkan pemerintah daerah di Sumatra tentang Badai Senyar delapan hari sebelum siklon tersebut terbentuk sepenuhnya, dan kemudian mengeluarkan peringatan lanjutan saat badai tersebut mendekat. Namun, dia mengatakan tidak semua kepala daerah siap siaga.
Alya Galuh Rahmadya Jeanitha (29), warga Kota Lhokseumawe, Aceh, mengatakan dia tidak menerima peringatan dini apa pun. Daerah di sekitar rumahnya, katanya, mulai banjir Selasa lalu. Keesokan harinya, setelah badai menerjang daratan, air masuk ke rumahnya, dan dia beserta keluarganya terpaksa mengungsi ke dataran tinggi.
Di Sumatra Utara, hujan deras yang tak henti-hentinya hanya memberi warga waktu beberapa menit untuk bereaksi.
Henry Irawan Marpaung (44) mengatakan banjir dan tanah longsor terjadi hampir bersamaan. Dia mengaku hanya bisa bertahan hidup dengan berpegangan pada tiang di rumah mertuanya, di Kecamatan Tukka. "Saya menyaksikan dua tetangga tersapu banjir bandang," ujarnya.
Di seluruh Sumatra, lebih dari 570.000 orang kini mengungsi dari rumah mereka. Banjir telah merusak banyak jalan dan jembatan, sehingga menghambat akses ke banyak daerah.
“Masih ada bayi di sana yang membutuhkan popok, masih ada orang yang belum makan selama lima hari. Tidak ada air bersih,” kata Afil Maulana, seorang pekerja bantuan, dari Aceh utara. “Di sini sangat buruk.”
Muhammad Abdikaramllah (32), warga Banda Aceh, ibu kota Aceh, mengatakan banjir di kota asal istrinya, Langsa, melonjak hingga 4,5 meter.
“Keluarga saya bertahan hidup dengan apa pun yang mereka miliki,” katanya. “Beberapa orang memasak telur jika ada, dan jika ada daun, mereka merebusnya.”
Para pakar iklim mengatakan hujan lebat turun di Indonesia, dan baru-baru ini di Sri Lanka, karena lautan yang lebih hangat membebani badai dengan lebih banyak kelembapan. Hal ini meningkatkan kebutuhan untuk memperbaiki drainase lokal, perataan lereng, dan sistem evakuasi.
"Tema umum di seluruh Indonesia, Sri Lanka, Thailand, dan Malaysia musim ini adalah risiko yang berjenjang," ujar Roxy Mathew Koll dari Institut Meteorologi Tropis India melalui email.
"Bahkan siklon sedang pun menghasilkan hujan lebat karena lautan lebih hangat, atmosfer lebih basah, dan masyarakat tinggal di dekat tepian dalam hal pemanfaatan lahan."
Penelitian oleh Andra J Garner, pakar siklon tropis di Universitas Rowan di Glassboro, New Jersey, telah menemukan bahwa seiring menghangatnya planet, badai cenderung menguat lebih cepat di dekat banyak garis pantai di Asia Tenggara, dan kemudian bergerak lebih lambat setelah mencapai daratan.
“Hal itu memperkuat bahaya, karena sekarang ada badai dan semua dampaknya, tetapi dampak dari badai itu berlangsung lebih lama,” ujarnya. “Semakin lama Anda terpapar bahaya semacam itu, semakin besar pula bahayanya.”
(mas)
Lihat Juga :