Deretan Pemimpin Dunia dengan Skandal Ijazah Palsu, Putin Pun Kena

Selasa, 02 Desember 2025 - 08:33 WIB
loading...
Deretan Pemimpin Dunia...
Beberapa pemimpin dunia pernah tersandung skandal dugaan ijazah palsu maupun disertasi plagiat, salah satunya Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto/Kremlin.ru
A A A
JAKARTA - Para pemimpin dunia telah membangun karier politiknya dengan gelar pendidikan yang mentereng. Namun, beberapa dari mereka diduga mencapai tujuan itu dengan gelar atau ijazah palsu maupun dengan disertasi plagiat.

Laporan yang pernah dipublikasikan di The Conversation, para peneliti mengungkap berbagai kasus dugaan pemalsuan gelar akademik yang melibatkan para pemimpin terkenal, termasuk pemimpin Rusia dan Ukraina.

Baca Juga: Kemendikdasmen Tegaskan Dokumen Kesetaraan Ijazah Gibran sebagai Informasi Publik yang Dikecualikan

Para Pemimpin Dunia yang Diduga Gunakan Ijazah Palsu Maupun Disertasi Plagiat

1. Guttenberg (Jerman)

Mantan Menteri Pertahanan Jerman, Baron Karl-Theodor zu Guttenberg, menambahkan gelar “Dr” ke nama panjangnya pada 2006. Dia mengeklaim menyelesaikan disertasi hukum di University of Beyrouth, Jerman.

Namun, pada 2011, para penelusur internet menemukan bahwa sebagian besar isi disertasinya adalah plagiasi.

Skandal itu menjatuhkan Guttenberg—yang kala itu disebut-sebut sebagai penerus Kanselir Angela Merkel—dan memberinya julukan “Googleberg”.

Dia akhirnya mundur dari jabatan menteri, tetapi kemudian mendapatkan posisi kehormatan di lembaga think tank Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington DC.

2. Victor Ponta (Rumania)


Mantan Perdana Menteri (PM) Rumania Victor Ponta tersandung kasus plagiarisme ketika masih aktif menjabat. Dia awalnya membantah semua tuduhan plagiarisme ketika kasusnya mengemuka pada 2012.

Dia saat itu berdalih hanya menempatkan kutipan di bagian bibliografi, bukan di catatan kaki tiap halaman karya tulisnya.

Namun setelah serangkaian skandal dan kasus hukum memaksanya mundur pada 2015, Ponta mengakui telah menjiplak lebih dari setengah disertasinya tahun 2004 tentang Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Dia kemudian menulis kepada Rektor Universitas Bucharest untuk mencabut gelarnya.

3. Vladimir Putin (Rusia)


Berbeda dengan Guttenberg dan Ponta, Presiden Rusia Vladimir Putin bersikap lebih keras kepala. Tuduhan pertama muncul pada 2006 ketika lembaga Brookings Institution menemukan 16 halaman dari disertasi doktor Putin tahun 1997 diduga disalin dari sumber lain.

Pada 2018, muncul tuduhan baru: disertasi itu disebut-sebut ditulis oleh Vladimir Litvinenko, rektor Universitas Pertambangan Saint Petersburg sekaligus penasihat akademiknya. Putri Litvinenko mengeklaim ayahnya menyusun disertasi itu menggunakan teknik "cut and paste" manual—memotong paragraf dari berbagai dokumen, menempelkan, lalu menyalinnya menjadi halaman baru.

Namun, Putin tidak pernah menanggapi tuduhan tersebut.

4. Para Pemimpin Ukraina


Laporan The Conversation juga menyoroti Ukraina, negara yang memiliki tradisi kuat menuntut pejabat tinggi bergelar doktor. Semua lima presiden Ukraina sejak kemerdekaan 1991 tercatat memiliki gelar PhD—setidaknya di atas kertas.

Namun, maraknya puluhan perusahaan penjual disertasi menjadikan fenomena “doktor instan” sebagai rahasia umum. Presiden Viktor Yanukovych (yang berkuasa sebelum revolusi Kyiv) pernah diragukan kredibilitas akademiknya setelah ditemukan kesalahan ejaan dasar—seperti kata “proffesor”—pada dokumen pencalonannya tahun 2004.

Pada 2017, mantan Perdana Menteri Arseniy Yatsenyuk juga dituduh menjiplak untuk karya disertasinya.

Yanukovych dan Yatsenyuk memilih strategi ala Putin, yakni mengabaikan skandal itu dan melanjutkan karier politik. Yanukovych bahkan terpilih menjadi presiden pada 2010.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN...
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN dan Perundingan Bilateral di Sela-selanya
Ini Alasan Trump Puji...
Ini Alasan Trump Puji Putin dan Xi Jinping atas Kesepakatan Damai AS-Iran
Partai Pro-Barat Menang...
Partai Pro-Barat Menang Pemilu Armenia, Pukulan Telak bagi Rusia
Putin: Serangan Rudal...
Putin: Serangan Rudal Hipersonik Oreshnik Rusia terhadap Ukraina Hanya Tes, Belum Skala Penuh
Zelensky Tantang Putin...
Zelensky Tantang Putin Bertemu Tatap Muka, Kremlin: Datanglah ke Moskow!
Jokowi Respons Penangguhan...
Jokowi Respons Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan Tifa: Itu Kewenangan Kejaksaan
Delegasi Iran Berangkat...
Delegasi Iran Berangkat ke Swiss Negosiasi dengan AS, Perang Bakal Berakhir?
Perjanjian Damai dengan...
Perjanjian Damai dengan Iran Terancam Batal gegara Israel, Begini Tanggapan AS
Rekomendasi
Evan Marvino Bantah...
Evan Marvino Bantah Tudingan KDRT Terhadap Istri: Tidak Ada Pemukulan
Ketua BEM FH UBK yang...
Ketua BEM FH UBK yang Bertemu Gibran Ngaku Terima Uang Rp20 Juta, Wamensesneg: Nanti Saya Monitor Dulu
Tips MotionTrade: Lindungi...
Tips MotionTrade: Lindungi Data Pribadi Anda dari Ancaman Sniffing di Era Investasi Digital
Berita Terkini
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan...
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan dalam Negosiasi dengan AS, Termasuk Aset Senilai Rp214 Triliun
Dosen Ini Donorkan Organnya...
Dosen Ini Donorkan Organnya untuk Selamatkan 5 Orang, Staf RS Berbaris Beri Penghormatan Terakhir
Siapa Andy Burnham?...
Siapa Andy Burnham? Kandidat Kuat PM Inggris yang Suka Bermain Bola
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Infografis
15 Negara dengan Militer...
15 Negara dengan Militer Terkuat di Dunia 2025, Indonesia Ungguli Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved