Deretan Pemimpin Dunia dengan Skandal Ijazah Palsu, Putin Pun Kena
Selasa, 02 Desember 2025 - 08:33 WIB
loading...
Beberapa pemimpin dunia pernah tersandung skandal dugaan ijazah palsu maupun disertasi plagiat, salah satunya Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto/Kremlin.ru
A
A
A
JAKARTA - Para pemimpin dunia telah membangun karier politiknya dengan gelar pendidikan yang mentereng. Namun, beberapa dari mereka diduga mencapai tujuan itu dengan gelar atau ijazah palsu maupun dengan disertasi plagiat.
Laporan yang pernah dipublikasikan di The Conversation, para peneliti mengungkap berbagai kasus dugaan pemalsuan gelar akademik yang melibatkan para pemimpin terkenal, termasuk pemimpin Rusia dan Ukraina.
Baca Juga: Kemendikdasmen Tegaskan Dokumen Kesetaraan Ijazah Gibran sebagai Informasi Publik yang Dikecualikan
Para Pemimpin Dunia yang Diduga Gunakan Ijazah Palsu Maupun Disertasi Plagiat
Namun, pada 2011, para penelusur internet menemukan bahwa sebagian besar isi disertasinya adalah plagiasi.
Skandal itu menjatuhkan Guttenberg—yang kala itu disebut-sebut sebagai penerus Kanselir Angela Merkel—dan memberinya julukan “Googleberg”.
Dia akhirnya mundur dari jabatan menteri, tetapi kemudian mendapatkan posisi kehormatan di lembaga think tank Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington DC.
Mantan Perdana Menteri (PM) Rumania Victor Ponta tersandung kasus plagiarisme ketika masih aktif menjabat. Dia awalnya membantah semua tuduhan plagiarisme ketika kasusnya mengemuka pada 2012.
Dia saat itu berdalih hanya menempatkan kutipan di bagian bibliografi, bukan di catatan kaki tiap halaman karya tulisnya.
Namun setelah serangkaian skandal dan kasus hukum memaksanya mundur pada 2015, Ponta mengakui telah menjiplak lebih dari setengah disertasinya tahun 2004 tentang Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Dia kemudian menulis kepada Rektor Universitas Bucharest untuk mencabut gelarnya.
Berbeda dengan Guttenberg dan Ponta, Presiden Rusia Vladimir Putin bersikap lebih keras kepala. Tuduhan pertama muncul pada 2006 ketika lembaga Brookings Institution menemukan 16 halaman dari disertasi doktor Putin tahun 1997 diduga disalin dari sumber lain.
Pada 2018, muncul tuduhan baru: disertasi itu disebut-sebut ditulis oleh Vladimir Litvinenko, rektor Universitas Pertambangan Saint Petersburg sekaligus penasihat akademiknya. Putri Litvinenko mengeklaim ayahnya menyusun disertasi itu menggunakan teknik "cut and paste" manual—memotong paragraf dari berbagai dokumen, menempelkan, lalu menyalinnya menjadi halaman baru.
Namun, Putin tidak pernah menanggapi tuduhan tersebut.
Laporan The Conversation juga menyoroti Ukraina, negara yang memiliki tradisi kuat menuntut pejabat tinggi bergelar doktor. Semua lima presiden Ukraina sejak kemerdekaan 1991 tercatat memiliki gelar PhD—setidaknya di atas kertas.
Namun, maraknya puluhan perusahaan penjual disertasi menjadikan fenomena “doktor instan” sebagai rahasia umum. Presiden Viktor Yanukovych (yang berkuasa sebelum revolusi Kyiv) pernah diragukan kredibilitas akademiknya setelah ditemukan kesalahan ejaan dasar—seperti kata “proffesor”—pada dokumen pencalonannya tahun 2004.
Pada 2017, mantan Perdana Menteri Arseniy Yatsenyuk juga dituduh menjiplak untuk karya disertasinya.
Yanukovych dan Yatsenyuk memilih strategi ala Putin, yakni mengabaikan skandal itu dan melanjutkan karier politik. Yanukovych bahkan terpilih menjadi presiden pada 2010.
Laporan yang pernah dipublikasikan di The Conversation, para peneliti mengungkap berbagai kasus dugaan pemalsuan gelar akademik yang melibatkan para pemimpin terkenal, termasuk pemimpin Rusia dan Ukraina.
Baca Juga: Kemendikdasmen Tegaskan Dokumen Kesetaraan Ijazah Gibran sebagai Informasi Publik yang Dikecualikan
Para Pemimpin Dunia yang Diduga Gunakan Ijazah Palsu Maupun Disertasi Plagiat
1. Guttenberg (Jerman)
Mantan Menteri Pertahanan Jerman, Baron Karl-Theodor zu Guttenberg, menambahkan gelar “Dr” ke nama panjangnya pada 2006. Dia mengeklaim menyelesaikan disertasi hukum di University of Beyrouth, Jerman.Namun, pada 2011, para penelusur internet menemukan bahwa sebagian besar isi disertasinya adalah plagiasi.
Skandal itu menjatuhkan Guttenberg—yang kala itu disebut-sebut sebagai penerus Kanselir Angela Merkel—dan memberinya julukan “Googleberg”.
Dia akhirnya mundur dari jabatan menteri, tetapi kemudian mendapatkan posisi kehormatan di lembaga think tank Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington DC.
2. Victor Ponta (Rumania)
Mantan Perdana Menteri (PM) Rumania Victor Ponta tersandung kasus plagiarisme ketika masih aktif menjabat. Dia awalnya membantah semua tuduhan plagiarisme ketika kasusnya mengemuka pada 2012.
Dia saat itu berdalih hanya menempatkan kutipan di bagian bibliografi, bukan di catatan kaki tiap halaman karya tulisnya.
Namun setelah serangkaian skandal dan kasus hukum memaksanya mundur pada 2015, Ponta mengakui telah menjiplak lebih dari setengah disertasinya tahun 2004 tentang Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Dia kemudian menulis kepada Rektor Universitas Bucharest untuk mencabut gelarnya.
3. Vladimir Putin (Rusia)
Berbeda dengan Guttenberg dan Ponta, Presiden Rusia Vladimir Putin bersikap lebih keras kepala. Tuduhan pertama muncul pada 2006 ketika lembaga Brookings Institution menemukan 16 halaman dari disertasi doktor Putin tahun 1997 diduga disalin dari sumber lain.
Pada 2018, muncul tuduhan baru: disertasi itu disebut-sebut ditulis oleh Vladimir Litvinenko, rektor Universitas Pertambangan Saint Petersburg sekaligus penasihat akademiknya. Putri Litvinenko mengeklaim ayahnya menyusun disertasi itu menggunakan teknik "cut and paste" manual—memotong paragraf dari berbagai dokumen, menempelkan, lalu menyalinnya menjadi halaman baru.
Namun, Putin tidak pernah menanggapi tuduhan tersebut.
4. Para Pemimpin Ukraina
Laporan The Conversation juga menyoroti Ukraina, negara yang memiliki tradisi kuat menuntut pejabat tinggi bergelar doktor. Semua lima presiden Ukraina sejak kemerdekaan 1991 tercatat memiliki gelar PhD—setidaknya di atas kertas.
Namun, maraknya puluhan perusahaan penjual disertasi menjadikan fenomena “doktor instan” sebagai rahasia umum. Presiden Viktor Yanukovych (yang berkuasa sebelum revolusi Kyiv) pernah diragukan kredibilitas akademiknya setelah ditemukan kesalahan ejaan dasar—seperti kata “proffesor”—pada dokumen pencalonannya tahun 2004.
Pada 2017, mantan Perdana Menteri Arseniy Yatsenyuk juga dituduh menjiplak untuk karya disertasinya.
Yanukovych dan Yatsenyuk memilih strategi ala Putin, yakni mengabaikan skandal itu dan melanjutkan karier politik. Yanukovych bahkan terpilih menjadi presiden pada 2010.
(mas)
Lihat Juga :