China Tegas Akan Melawan Sistem Rudal Golden Dome AS, Ini Alasannya
Jum'at, 28 November 2025 - 14:19 WIB
loading...
China menyatakan akan dengan tegas melawan sistem pertahanan rudal Golden Dome Amerika Serikat yang digagas Presiden Donald Trump. Foto/Asia Times
A
A
A
BEIJING - China memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa mereka akan dengan tegas melawan sistem pertahanan rudal Golden Dome yang digagas Presiden Donald Trump. Alasannya, sistem tersebut dapat merusak kepentingan keamanan sah negara-negara lain.
Pernyataan tersebut disampaikan pada hari Kamis dalam buku putih China tentang pengendalian senjata, pelucutan senjata, dan nonproliferasi, yang juga membahas isu pengembangan senjata nuklir.
Buku putih China tersebut berjudul "China's Arms Control, Disarmament and Nonproliferation in the New Era [Pengendalian Senjata, Perlucutan Senjata, dan Nonproliferasi China di Era Baru].
Baca Juga: Rudal Nuklir Burevestnik Rusia Dianggap Senjata Pengubah Permainan yang Usik Golden Dome AS
"China dengan tegas menentang pengaturan semacam itu dan mendesak negara tersebut untuk menghentikan pengembangan dan pengerahan sistem pertahanan rudal global, serta menghentikan pengerahan senjata ofensif termasuk rudal," bunyi dokumen militer China tersebut, yang dilansir Newsweek, Jumat (28/11/2025).
Tanah air AS saat ini dilindungi oleh sistem pertahanan yang terdiri dari radar dan pencegat. Namun, sistem tersebut tidak dirancang atau mampu melawan ancaman rudal besar dan canggih dari Rusia dan China—musuh utama bersenjata nuklir bagi Washington.
Seiring terus berkembangnya ancaman rudal global, termasuk rudal nuklir China yang dilaporkan memiliki jangkauan global, pemerintahan Trump sedang memajukan inisiatif Golden Dome untuk melindungi tanah air AS—sebuah rencana yang mencakup pencegat dan sensor berbasis ruang angkasa.
Meskipun China sebelumnya telah menyuarakan kekhawatiran atas Golden Dome, yang menurutnya akan melemahkan keseimbangan dan stabilitas strategis, kekuatan Asia Timur tersebut justru meluncurkan sistem serupa dalam parade militer bulan September yang membentuk perisai pertahanan berlapis.
Dalam buku putih yang dirilis oleh Kantor Informasi Dewan Negara, China menuduh AS mengejar "keamanan absolut" dengan membangun Golden Dome tanpa kendali, dengan mengatakan bahwa rencana semacam itu akan merusak kepentingan keamanan sah negara lain.
"China akan dengan tegas melawan setiap tindakan yang mengancam atau merusak kepentingan intinya," lanjut dokumen militer China, seraya menambahkan bahwa sistem pertahanan antirudal Trump berupaya menyebarkan senjata di luar angkasa, yang menurutnya akan sangat mengancam keamanan di wilayah tersebut.
Beijing juga mengkritik Washington atas penarikannya dari Perjanjian Rudal Anti-Balistik pada tahun 2002, sebuah perjanjian pengendalian senjata AS dengan Rusia yang sekarang sudah tidak berlaku lagi, yang melarang pengerahan pertahanan nasional terhadap rudal balistik strategis berhulu ledak nuklir.
"Hal ini telah sangat merusak rasa saling percaya strategis, meningkatkan risiko strategis, dan merusak keamanan serta stabilitas global dan regional," imbuh China dalam dokumen militernya.
Namun, buku putih tersebut membenarkan pengembangan kemampuan pertahanan rudal China, dengan mengatakan bahwa hal itu semata-mata dimotivasi oleh pertahanan diri dan tidak menargetkan negara atau wilayah mana pun.
Sementara itu, China membahas rudal ofensif dalam dokumen tersebut, memprotes AS—tanpa menyebut namanya—karena mempromosikan pengerahan rudal jarak menengah di kawasan Asia-Pasifik, sambil mengatakan bahwa teknologi rudal China digunakan untuk "mencegah perang."
Mengutip "lingkungan keamanan yang kompleks dan bergejolak", buku putih tersebut mengatakan China, dengan wilayahnya yang luas, membutuhkan apa yang disebutnya "peralatan dan kemampuan militer modern" yang disesuaikan dengan kondisinya dan diperlukan untuk menjaga keamanan dan kedaulatan negara.
Pengerahan rudal AS yang disebutkan China kemungkinan merujuk pada sistem rudal Typhon di Filipina dan Jepang. Kedua negara itu merupakan sekutu utama Amerika di sepanjang gugus pulau pertama, sebuah strategi AS yang bertujuan untuk mencegah dan mempertahankan diri dari potensi agresi China.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada bulan Mei mengakui kemajuan musuh-musuh Amerika dalam mengembangkan senjata. "Dalam empat dekade terakhir, musuh kita telah mengembangkan senjata jarak jauh yang lebih canggih dan mematikan daripada sebelumnya, termasuk rudal balistik, hipersonik, dan jelajah yang mampu menyerang tanah air dengan hulu ledak konvensional maupun nuklir," paparnya.
Pernyataan tersebut disampaikan pada hari Kamis dalam buku putih China tentang pengendalian senjata, pelucutan senjata, dan nonproliferasi, yang juga membahas isu pengembangan senjata nuklir.
Buku putih China tersebut berjudul "China's Arms Control, Disarmament and Nonproliferation in the New Era [Pengendalian Senjata, Perlucutan Senjata, dan Nonproliferasi China di Era Baru].
Baca Juga: Rudal Nuklir Burevestnik Rusia Dianggap Senjata Pengubah Permainan yang Usik Golden Dome AS
"China dengan tegas menentang pengaturan semacam itu dan mendesak negara tersebut untuk menghentikan pengembangan dan pengerahan sistem pertahanan rudal global, serta menghentikan pengerahan senjata ofensif termasuk rudal," bunyi dokumen militer China tersebut, yang dilansir Newsweek, Jumat (28/11/2025).
Tanah air AS saat ini dilindungi oleh sistem pertahanan yang terdiri dari radar dan pencegat. Namun, sistem tersebut tidak dirancang atau mampu melawan ancaman rudal besar dan canggih dari Rusia dan China—musuh utama bersenjata nuklir bagi Washington.
Seiring terus berkembangnya ancaman rudal global, termasuk rudal nuklir China yang dilaporkan memiliki jangkauan global, pemerintahan Trump sedang memajukan inisiatif Golden Dome untuk melindungi tanah air AS—sebuah rencana yang mencakup pencegat dan sensor berbasis ruang angkasa.
Meskipun China sebelumnya telah menyuarakan kekhawatiran atas Golden Dome, yang menurutnya akan melemahkan keseimbangan dan stabilitas strategis, kekuatan Asia Timur tersebut justru meluncurkan sistem serupa dalam parade militer bulan September yang membentuk perisai pertahanan berlapis.
Dalam buku putih yang dirilis oleh Kantor Informasi Dewan Negara, China menuduh AS mengejar "keamanan absolut" dengan membangun Golden Dome tanpa kendali, dengan mengatakan bahwa rencana semacam itu akan merusak kepentingan keamanan sah negara lain.
"China akan dengan tegas melawan setiap tindakan yang mengancam atau merusak kepentingan intinya," lanjut dokumen militer China, seraya menambahkan bahwa sistem pertahanan antirudal Trump berupaya menyebarkan senjata di luar angkasa, yang menurutnya akan sangat mengancam keamanan di wilayah tersebut.
Beijing juga mengkritik Washington atas penarikannya dari Perjanjian Rudal Anti-Balistik pada tahun 2002, sebuah perjanjian pengendalian senjata AS dengan Rusia yang sekarang sudah tidak berlaku lagi, yang melarang pengerahan pertahanan nasional terhadap rudal balistik strategis berhulu ledak nuklir.
"Hal ini telah sangat merusak rasa saling percaya strategis, meningkatkan risiko strategis, dan merusak keamanan serta stabilitas global dan regional," imbuh China dalam dokumen militernya.
Namun, buku putih tersebut membenarkan pengembangan kemampuan pertahanan rudal China, dengan mengatakan bahwa hal itu semata-mata dimotivasi oleh pertahanan diri dan tidak menargetkan negara atau wilayah mana pun.
Sementara itu, China membahas rudal ofensif dalam dokumen tersebut, memprotes AS—tanpa menyebut namanya—karena mempromosikan pengerahan rudal jarak menengah di kawasan Asia-Pasifik, sambil mengatakan bahwa teknologi rudal China digunakan untuk "mencegah perang."
Mengutip "lingkungan keamanan yang kompleks dan bergejolak", buku putih tersebut mengatakan China, dengan wilayahnya yang luas, membutuhkan apa yang disebutnya "peralatan dan kemampuan militer modern" yang disesuaikan dengan kondisinya dan diperlukan untuk menjaga keamanan dan kedaulatan negara.
Pengerahan rudal AS yang disebutkan China kemungkinan merujuk pada sistem rudal Typhon di Filipina dan Jepang. Kedua negara itu merupakan sekutu utama Amerika di sepanjang gugus pulau pertama, sebuah strategi AS yang bertujuan untuk mencegah dan mempertahankan diri dari potensi agresi China.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada bulan Mei mengakui kemajuan musuh-musuh Amerika dalam mengembangkan senjata. "Dalam empat dekade terakhir, musuh kita telah mengembangkan senjata jarak jauh yang lebih canggih dan mematikan daripada sebelumnya, termasuk rudal balistik, hipersonik, dan jelajah yang mampu menyerang tanah air dengan hulu ledak konvensional maupun nuklir," paparnya.
(mas)
Lihat Juga :