Militer China: Jepang Akan Bayar Mahal Jika Lewati Batas Terkait Taiwan!
Jum'at, 28 November 2025 - 13:26 WIB
loading...
Militer China keluarkan peringatan keras pada Jepang, dengan menyatakan Tokyo akan bayar mahal jika melewati batas kebijakan terkait Taiwan. Foto/FAS
A
A
A
BEIJING - Militer China melontarkan peringatan keras terhadap Jepang dengan menyatakan Tokyo akan membayar "harga yang mahal" jika melewati batas kebijakan terkait Taiwan. Peringatan ini sebagai respons atas keputusan Tokyo yang mengerahkan rudal di sebuah pulau yang hanya berjarak sekitar 110 km dari pantai Taiwan.
Pernyataan Beijing muncul di tengah krisis diplomatik terburuk kedua negara dalam beberapa tahun terakhir, yang dipicu komentar Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada awal November bahwa serangan hipotetis Beijing terhadap Taiwan dapat memicu respons militer dari Tokyo.
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan pada 23 November bahwa rencana untuk menempatkan unit rudal darat-ke-udara jarak menengah di pangkalan militer di Yonaguni, sebuah pulau sekitar 110 km di lepas pantai timur Taiwan, "terus berjalan maju".
Baca Juga: China Marah Jepang Kerahkan Rudaldi Dekat Taiwan: Itu Sengaja Picu Konfrontasi Militer!
Ketika ditanya tentang langkah Jepang tersebut, yang sebelumnya telah dikritik keras oleh Kementerian Luar Negeri China, Kementerian Pertahanan China mengatakan bahwa cara menyelesaikan masalah Taiwan adalah urusan China dan tidak ada hubungannya dengan Jepang—yang menguasai Taiwan dari tahun 1895 hingga akhir Perang Dunia II pada tahun 1945.
"Jepang tidak hanya gagal untuk merenungkan secara mendalam kejahatan agresi dan penjajahan beratnya di Taiwan, tetapi sebaliknya, menentang opini dunia, mereka justru terbuai dengan khayalan untuk melakukan intervensi militer di Selat Taiwan," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan China Jiang Bin dalam jumpa pers pada Kamis, yang dilansir Reuters, Jumat (28/11/2025).
"Tentara Pembebasan Rakyat memiliki kemampuan yang kuat dan sarana yang andal untuk mengalahkan musuh yang menyerang. Jika pihak Jepang berani melewati batas, bahkan setengah langkah saja, dan menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri, mereka pasti akan membayar harga yang mahal," imbuh dia.
Taiwan telah memerintah sendiri secara demokratis selama puluhan tahun, namun Beijing tetap mengeklaim pulau itu bagian dari China dan akan ditundukkan bahkan dengan kekuatan militer jika perlu. Namun Pemerintah Taiwan menolak klaim teritorial Beijing, dengan mengatakan bahwa hanya rakyat pulau itu yang dapat menentukan masa depan mereka.
Presiden Taiwan Lai Ching-te pekan ini mengumumkan rencana untuk mengeluarkan dana tambahan USD40 miliar untuk pertahanan selama delapan tahun mendatang, yang dikritik China sebagai pemborosan uang yang hanya akan menjerumuskan Taiwan ke dalam bencana.
Menanggapi kritik tersebut, juru bicara Dewan Urusan Daratan Taiwan, Liang Wen-chieh, mengatakan pada 27 November bahwa pengeluaran pertahanan China jauh lebih besar daripada Taiwan.
“Jika mereka dapat mengutamakan perdamaian lintas selat, dana ini juga dapat digunakan untuk meningkatkan perekonomian dan mata pencaharian masyarakat daratan,” ujarnya.
“Kedua sisi selat tidak akan seperti ini, saling bermusuhan; itu akan baik untuk semua orang," imbuh dia.
Militer China beroperasi hampir setiap hari di perairan dan langit di sekitar Taiwan dalam apa yang dikatakan pemerintah di Taipei sebagai bagian dari kampanye intimidasi dan tekanan Beijing terhadapnya.
Pernyataan Beijing muncul di tengah krisis diplomatik terburuk kedua negara dalam beberapa tahun terakhir, yang dipicu komentar Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada awal November bahwa serangan hipotetis Beijing terhadap Taiwan dapat memicu respons militer dari Tokyo.
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan pada 23 November bahwa rencana untuk menempatkan unit rudal darat-ke-udara jarak menengah di pangkalan militer di Yonaguni, sebuah pulau sekitar 110 km di lepas pantai timur Taiwan, "terus berjalan maju".
Baca Juga: China Marah Jepang Kerahkan Rudaldi Dekat Taiwan: Itu Sengaja Picu Konfrontasi Militer!
Ketika ditanya tentang langkah Jepang tersebut, yang sebelumnya telah dikritik keras oleh Kementerian Luar Negeri China, Kementerian Pertahanan China mengatakan bahwa cara menyelesaikan masalah Taiwan adalah urusan China dan tidak ada hubungannya dengan Jepang—yang menguasai Taiwan dari tahun 1895 hingga akhir Perang Dunia II pada tahun 1945.
"Jepang tidak hanya gagal untuk merenungkan secara mendalam kejahatan agresi dan penjajahan beratnya di Taiwan, tetapi sebaliknya, menentang opini dunia, mereka justru terbuai dengan khayalan untuk melakukan intervensi militer di Selat Taiwan," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan China Jiang Bin dalam jumpa pers pada Kamis, yang dilansir Reuters, Jumat (28/11/2025).
"Tentara Pembebasan Rakyat memiliki kemampuan yang kuat dan sarana yang andal untuk mengalahkan musuh yang menyerang. Jika pihak Jepang berani melewati batas, bahkan setengah langkah saja, dan menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri, mereka pasti akan membayar harga yang mahal," imbuh dia.
Taiwan telah memerintah sendiri secara demokratis selama puluhan tahun, namun Beijing tetap mengeklaim pulau itu bagian dari China dan akan ditundukkan bahkan dengan kekuatan militer jika perlu. Namun Pemerintah Taiwan menolak klaim teritorial Beijing, dengan mengatakan bahwa hanya rakyat pulau itu yang dapat menentukan masa depan mereka.
Presiden Taiwan Lai Ching-te pekan ini mengumumkan rencana untuk mengeluarkan dana tambahan USD40 miliar untuk pertahanan selama delapan tahun mendatang, yang dikritik China sebagai pemborosan uang yang hanya akan menjerumuskan Taiwan ke dalam bencana.
Menanggapi kritik tersebut, juru bicara Dewan Urusan Daratan Taiwan, Liang Wen-chieh, mengatakan pada 27 November bahwa pengeluaran pertahanan China jauh lebih besar daripada Taiwan.
“Jika mereka dapat mengutamakan perdamaian lintas selat, dana ini juga dapat digunakan untuk meningkatkan perekonomian dan mata pencaharian masyarakat daratan,” ujarnya.
“Kedua sisi selat tidak akan seperti ini, saling bermusuhan; itu akan baik untuk semua orang," imbuh dia.
Militer China beroperasi hampir setiap hari di perairan dan langit di sekitar Taiwan dalam apa yang dikatakan pemerintah di Taipei sebagai bagian dari kampanye intimidasi dan tekanan Beijing terhadapnya.
(mas)
Lihat Juga :