90% Warga Gaza Bertahan Hidup Hanya dengan 1 Kali Makan Sehari
Selasa, 25 November 2025 - 21:30 WIB
loading...
Warga menunggu makanan hangat yang didistribusikan organisasi amal di Kamp Nuseirat, Gaza pada 22 November 2025. Foto/Moiz Salhi/Anadolu Agency
A
A
A
JALUR GAZA - Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyatakan kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza tetap memprihatinkan meskipun ada gencatan senjata. Lembaga itu memperingatkan pembatasan bantuan Israel menghambat perbaikan yang berarti.
Juru bicara UNRWA, Adnan Abu Hasna, mengonfirmasi Israel terus memblokir masuknya staf internasional UNRWA dan membatasi aliran pasokan kemanusiaan, menyebabkan sekitar 6.000 truk makanan terlantar di perlintasan perbatasan.
Abu Hasna mengatakan lebih dari 90% penduduk Gaza kini sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan, dengan banyak keluarga hanya menerima satu kali makan setiap 24 jam.
Ia mencatat meskipun rata-rata 170 truk bantuan memasuki Gaza setiap hari, angka tersebut masih jauh di bawah jumlah minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
UNRWA saat ini mengelola 100 tempat penampungan yang menampung lebih dari 80.000 pengungsi, sembari terus menyediakan pendidikan jarak jauh bagi sekitar 300.000 siswa dan pembelajaran tatap muka bagi 50.000 orang lainnya dalam kondisi yang sangat sulit.
Menurut badan tersebut, sekitar 48.000 anak mengikuti kelas darurat di 330 ruang belajar sementara di 59 tempat penampungan.
Banyak yang terpaksa duduk di lantai yang dingin karena kekurangan meja atau kursi, yang sangat menghambat proses belajar dan memengaruhi rasa aman dan stabilitas anak-anak.
Situasi ini terjadi di tengah krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung akibat perang Israel di Gaza, yang dimulai pada 7 Oktober 2023.
Pengeboman dan kerusakan yang meluas telah membuat banyak sekolah dan fasilitas pendidikan tidak dapat digunakan, mendorong UNRWA mengubah tempat penampungan darurat menjadi ruang kelas sementara guna memenuhi kebutuhan pendidikan mendesak bagi anak-anak pengungsi.
Baca juga: 2 Juta Warga Israel Hadapi Krisis Kesehatan Mental setelah 2 Tahun Perang di Gaza
Juru bicara UNRWA, Adnan Abu Hasna, mengonfirmasi Israel terus memblokir masuknya staf internasional UNRWA dan membatasi aliran pasokan kemanusiaan, menyebabkan sekitar 6.000 truk makanan terlantar di perlintasan perbatasan.
Abu Hasna mengatakan lebih dari 90% penduduk Gaza kini sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan, dengan banyak keluarga hanya menerima satu kali makan setiap 24 jam.
Ia mencatat meskipun rata-rata 170 truk bantuan memasuki Gaza setiap hari, angka tersebut masih jauh di bawah jumlah minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
UNRWA saat ini mengelola 100 tempat penampungan yang menampung lebih dari 80.000 pengungsi, sembari terus menyediakan pendidikan jarak jauh bagi sekitar 300.000 siswa dan pembelajaran tatap muka bagi 50.000 orang lainnya dalam kondisi yang sangat sulit.
Menurut badan tersebut, sekitar 48.000 anak mengikuti kelas darurat di 330 ruang belajar sementara di 59 tempat penampungan.
Banyak yang terpaksa duduk di lantai yang dingin karena kekurangan meja atau kursi, yang sangat menghambat proses belajar dan memengaruhi rasa aman dan stabilitas anak-anak.
Situasi ini terjadi di tengah krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung akibat perang Israel di Gaza, yang dimulai pada 7 Oktober 2023.
Pengeboman dan kerusakan yang meluas telah membuat banyak sekolah dan fasilitas pendidikan tidak dapat digunakan, mendorong UNRWA mengubah tempat penampungan darurat menjadi ruang kelas sementara guna memenuhi kebutuhan pendidikan mendesak bagi anak-anak pengungsi.
Baca juga: 2 Juta Warga Israel Hadapi Krisis Kesehatan Mental setelah 2 Tahun Perang di Gaza
(sya)
Lihat Juga :