Senator Australia Kenakan Burka di Parlemen sebagai Protes, Aksinya Dicap Rasis

Selasa, 25 November 2025 - 08:11 WIB
loading...
Senator Australia Kenakan...
Senator Pauline Hanson sengaja mengenakan burka di Parlemen Australia sebagai protes setelah dia dihalangi untuk ajukan RUU yang melarang burka di tempat umum. Foto/Sky News
A A A
SYDNEY - Seorang senator sayap kanan Australia memicu kemarahan dari rekan-rekan senatnya setelah mengenakan burka di Parlemen. Aksinya itu sebagai protes setelah dia dihalangi untuk mengajukan rancangan undang-undang yang melarang burka dan busana penutup wajah serupa di ruang publik.

Senator tersebut bernama Pauline Hanson, pemimpin partai One Nation. Sidang Parlemen ditangguhkan ketika Hanson menolak untuk melepas pakaian tersebut, yang memicu kecaman dari sesama senator dan pemimpin pemerintah.

Hanson dianggap menunjukkan rasisme secara terang-terangan. "Ini adalah senator rasis, yang menunjukkan rasisme yang terang-terangan," kata Mehreen Faruqi, senator perempuan Muslim pertama di Australia.

Baca Juga: Butuh Duit, Pecatur Pria Ikut Turnamen Wanita dengan Memakai Burka

"Dia tidak menghormati suatu agama," ujar Senator Independen Fatima Payman, yang mengenakan jilbab.

"Itu adalah jari tengah bagi orang-orang beriman," imbuh pemimpin Partai Hijau Senator Larissa Waters.

Ini menandai kedua kalinya Hanson mengenakan burka di Parlemen, mengulangi taktik yang pertama kali digunakan pada tahun 2017 untuk mendorong rancangan undang-undang serupa.

Insiden ini memicu kembali perdebatan tentang Islamofobia dalam politik Australia dan menimbulkan kekhawatiran tentang normalisasi sentimen anti-Muslim. Partainya Hanson menggandakan perwakilannya di Senat dalam pemilihan federal Mei 2025, menandakan peningkatan dukungan untuk platform anti-imigrasi dan nasionalis.

Hanson, yang mewakili Queensland, diteriaki rekan-rekannya. Teriakan "malu padamu" dan "keluarkan dia" ramai terdengar, membuat sidang Parlemen kacau balau akibat aksi "sangat ofensif" tersebut.

Dalam sebuah video terlihat seorang senator bertanya kepada Hanson saat dia duduk, "Apakah Anda tahu betapa berbahayanya Anda bagi negara ini?". Senator lainnya menuduh Hanson sengaja mencari perhatian.

Penny Wong, Menteri Luar Negeri yang juga pemimpin Senat dari Partai Buruh yang berkuasa, berbicara langsung kepada Hanson selama keributan tersebut.

"Apa pun keyakinan kami, tindakan tidak hormat yang Anda lakukan sekarang tidak pantas bagi seorang anggota Senat Australia," katanya.

Wong kemudian mengajukan mosi resmi untuk menangguhkan Hanson, yang didukung oleh para senator dari kedua partai besar.

Anne Ruston, wakil pemimpin Senat untuk koalisi oposisi, juga mendukung kecaman untuk Hanson.

Tak lama kemudian, Hanson berkomentar di X: "Faktanya, lebih dari 20 negara di seluruh dunia telah melarang burka karena mereka menganggapnya sebagai alat yang menindas perempuan, menimbulkan risiko keamanan nasional, mendorong Islam radikal, dan mengancam kohesi sosial. Jika orang-orang munafik ini tidak ingin saya mengenakan burka, mereka selalu dapat mendukung pelarangan saya."

"Izinkan saya menjelaskannya dengan jelas. Saya sangat menghormati orang-orang, apa pun keyakinan mereka," imbuh Hanson dalam wawancara dengan Sky News Australia, Selasa (25/11/2025).

Rancangan undang-undang yang berjudul "Larangan Burka dan Penutup Wajah Penuh Lainnya di Tempat Umum" yang diajukan Hanson bertujuan untuk melarang penggunaan pakaian yang menutupi seluruh wajah, termasuk burka, di ruang publik di seluruh Australia.

Hanson berpendapat bahwa langkah tersebut bertujuan untuk meningkatkan keamanan publik dan mengatasi praktik budaya yang dianggapnya tidak sesuai dengan nilai-nilai Australia. RUU tersebut mengutip pembatasan serupa di negara lain dan membingkai larangan tersebut sebagai langkah menuju peningkatan keamanan dan mendorong transparansi dalam kehidupan publik.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
PM Australia Ungkap...
PM Australia Ungkap Pengiriman BBM Baru, Ancaman di Selat Hormuz Masih Moderat
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Australia Sita 100.000...
Australia Sita 100.000 Kecoak Selundupan, Harganya Rp2,5 Miliar
Negara Tetangga Indonesia...
Negara Tetangga Indonesia Ini dan Sekutunya Kembangkan Drone Bawah Laut
Rusia Sebut Tetangga...
Rusia Sebut Tetangga Indonesia Ini Bisa Menjadi Markas Senjata Nuklir AS
Konsep 8B Jadi Usulan...
Konsep 8B Jadi Usulan Fahira Idris untuk Wujudkan Jakarta yang Inklusif dan Berkeadilan
Jelang Penandatanganan...
Jelang Penandatanganan di Jenewa, AS Rahasiakan Nota Kesepahaman Iran dari Israel
PM Belanda Rob Jetten...
PM Belanda Rob Jetten Minta Maaf kepada Tentara Maluku
Rekomendasi
Hadapi Masa Depan yang...
Hadapi Masa Depan yang Tak Pasti, Mahasiswa Diajarkan Kepemimpinan, Inovasi, dan Talenta Digital
Ade Darmawan Minta Jaksa...
Ade Darmawan Minta Jaksa Tolak Segala Intervensi di Kasus Ijazah Jokowi
Abdul Rahman Golkar...
Abdul Rahman Golkar ke Deddy Sitorus: Krisis Batu Bara Bukan Persoalan Baru
Berita Terkini
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved