Kekurangan Dana, Palang Merah Internasional akan Pangkas 2.900 Pekerja
Sabtu, 22 November 2025 - 12:05 WIB
loading...
Palang Merah Internasional terlibat dalam proses pertukaran tahanan di Gaza. Foto/anadolu
A
A
A
JENEWA - Komite Internasional Palang Merah (ICRC) akan memberlakukan pemangkasan besar-besaran terhadap operasinya pada tahun 2026. Lembaga itu akan memangkas hampir seperlima anggaran tahunannya dan mengurangi 2.900 pekerjaan karena donor global menarik diri dari pendanaan kemanusiaan.
“Kita menghadapi konvergensi berbahaya dari eskalasi konflik bersenjata, pemotongan dana bantuan yang signifikan, dan toleransi sistemik terhadap pelanggaran berat hukum humaniter internasional,” ungkap Presiden ICRC Mirjana Spoljaric pada hari Jumat (21/11/2025).
Organisasi tersebut mengonfirmasi pengeluarannya akan turun menjadi USD2,2 miliar, memperingatkan, “Sektor bantuan yang lebih luas sedang menghadapi krisis keuangan dengan proporsi yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Seorang juru bicara mengatakan Amerika Serikat tetap menjadi donor terbesar ICRC tetapi telah mengurangi kontribusinya tahun ini, mencerminkan penurunan dana dari pendukung tradisional lainnya, termasuk Inggris dan Jerman.
“ICRC tetap berkomitmen untuk bekerja di garis depan konflik, di mana hanya sedikit yang mampu beroperasi,” tegas Spoljaric, tetapi memperingatkan, “Realitas keuangan memaksa kami untuk membuat keputusan sulit guna memastikan kami dapat terus memberikan bantuan kemanusiaan penting kepada mereka yang paling membutuhkannya.”
Pemerintah berbagai negara mengalihkan anggaran untuk pertahanan dan keamanan, membuat lembaga-lembaga kemanusiaan berjuang keras mempertahankan program-program sementara konflik, pengungsian, dan kebutuhan terus meningkat.
Pergeseran ini terjadi ketika Washington merombak bantuan luar negeri di bawah Presiden Donald Trump, yang agenda “Amerika First”-nya telah membentuk kembali prioritas pengeluaran.
Pemotongan gabungan ini telah memaksa badan yang berbasis di Jenewa tersebut untuk meluncurkan salah satu restrukturisasi paling signifikan dalam beberapa dekade.
Kehilangan pekerjaan tersebut berjumlah sekitar 15% dari 18.500 tenaga kerjanya dan mencakup sekitar 200 posisi di Jenewa, tempat ICRC didirikan pada tahun 1863.
Organisasi tersebut mengatakan akan menggabungkan departemen, merampingkan manajemen, dan berfokus pada operasi konflik garis depan untuk mempertahankan misi intinya.
Meskipun anggaran berkurang, ICRC bersikeras akan mempertahankan kehadirannya di Sudan, Ukraina, Israel, wilayah Palestina yang diduduki, serta Republik Demokratik Kongo.
Sekitar sepertiga dari pengurangan staf akan dilakukan melalui pengunduran diri sukarela atau dengan membiarkan posisi kosong.
ICRC, yang aktif di lebih dari 90 negara, mendukung warga sipil di zona konflik, mengunjungi tawanan perang, dan bertindak sebagai perantara netral.
Baru-baru ini, ICRC memfasilitasi pemindahan tawanan Israel dari Gaza dan warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel berdasarkan ketentuan gencatan senjata 10 Oktober yang didukung AS dalam perang Israel di Gaza.
Baca juga: Trump Berubah Pikiran: Mamdani Bisa Lakukan Pekerjaan yang Sangat Baik
“Kita menghadapi konvergensi berbahaya dari eskalasi konflik bersenjata, pemotongan dana bantuan yang signifikan, dan toleransi sistemik terhadap pelanggaran berat hukum humaniter internasional,” ungkap Presiden ICRC Mirjana Spoljaric pada hari Jumat (21/11/2025).
Organisasi tersebut mengonfirmasi pengeluarannya akan turun menjadi USD2,2 miliar, memperingatkan, “Sektor bantuan yang lebih luas sedang menghadapi krisis keuangan dengan proporsi yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Seorang juru bicara mengatakan Amerika Serikat tetap menjadi donor terbesar ICRC tetapi telah mengurangi kontribusinya tahun ini, mencerminkan penurunan dana dari pendukung tradisional lainnya, termasuk Inggris dan Jerman.
“ICRC tetap berkomitmen untuk bekerja di garis depan konflik, di mana hanya sedikit yang mampu beroperasi,” tegas Spoljaric, tetapi memperingatkan, “Realitas keuangan memaksa kami untuk membuat keputusan sulit guna memastikan kami dapat terus memberikan bantuan kemanusiaan penting kepada mereka yang paling membutuhkannya.”
Pemerintah berbagai negara mengalihkan anggaran untuk pertahanan dan keamanan, membuat lembaga-lembaga kemanusiaan berjuang keras mempertahankan program-program sementara konflik, pengungsian, dan kebutuhan terus meningkat.
Amerika First
Pergeseran ini terjadi ketika Washington merombak bantuan luar negeri di bawah Presiden Donald Trump, yang agenda “Amerika First”-nya telah membentuk kembali prioritas pengeluaran.
Pemotongan gabungan ini telah memaksa badan yang berbasis di Jenewa tersebut untuk meluncurkan salah satu restrukturisasi paling signifikan dalam beberapa dekade.
Kehilangan pekerjaan tersebut berjumlah sekitar 15% dari 18.500 tenaga kerjanya dan mencakup sekitar 200 posisi di Jenewa, tempat ICRC didirikan pada tahun 1863.
Organisasi tersebut mengatakan akan menggabungkan departemen, merampingkan manajemen, dan berfokus pada operasi konflik garis depan untuk mempertahankan misi intinya.
Meskipun anggaran berkurang, ICRC bersikeras akan mempertahankan kehadirannya di Sudan, Ukraina, Israel, wilayah Palestina yang diduduki, serta Republik Demokratik Kongo.
Sekitar sepertiga dari pengurangan staf akan dilakukan melalui pengunduran diri sukarela atau dengan membiarkan posisi kosong.
ICRC, yang aktif di lebih dari 90 negara, mendukung warga sipil di zona konflik, mengunjungi tawanan perang, dan bertindak sebagai perantara netral.
Baru-baru ini, ICRC memfasilitasi pemindahan tawanan Israel dari Gaza dan warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel berdasarkan ketentuan gencatan senjata 10 Oktober yang didukung AS dalam perang Israel di Gaza.
Baca juga: Trump Berubah Pikiran: Mamdani Bisa Lakukan Pekerjaan yang Sangat Baik
(sya)
Lihat Juga :