Usai Ancam Venezuela dan Kolombia, Trump Oke Serang Meksiko
Rabu, 19 November 2025 - 12:35 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump. Foto/anadolu
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan ia terbuka untuk memerintahkan serangan di Meksiko guna memerangi kartel narkoba. Rencana itu muncul terlepas dari adanya penolakan dari otoritas Meksiko.
Berbicara kepada wartawan pada hari Senin (17/11/2025), Trump ditanya apakah ia akan mempertimbangkan untuk menyerang Meksiko atau mengirim pasukan AS untuk memberantas penyelundupan narkoba. Ia menjawab bahwa ia "Oke".
"Apakah saya akan melancarkan serangan di Meksiko untuk menghentikan narkoba? Saya setuju, apa pun yang harus kami lakukan untuk menghentikan narkoba," tegas Trump.
Ia menolak mengatakan apakah ia akan meminta izin Meksiko tetapi mengklaim otoritas negara itu tahu "bagaimana pendirian saya."
"Kami tahu setiap rute, kami tahu alamat setiap gembong narkoba," ujar Trump. "Mereka membunuh rakyat kami. Itu seperti perang. Apakah saya akan melakukannya? Saya akan bangga melakukannya."
AS semakin menuduh Meksiko gagal mengekang jaringan penyelundupan narkoba, terutama yang menyelundupkan fentanil ke AS, dan menjatuhkan sanksi besar-besaran terhadap bank, perusahaan, dan individu Meksiko yang diduga terkait kartel pada awal tahun ini, beserta tarif 25% untuk impor Meksiko.
Meskipun Meksiko telah bekerja sama dengan Washington dalam kampanye antinarkoba, negara ini dengan tegas menolak kehadiran militer asing.
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum telah berulang kali mengatakan aksi militer AS di Meksiko tanpa persetujuannya tidak akan terjadi dan menolak usulan Trump untuk mengirim pasukan ke negara itu, dengan alasan hal itu akan melanggar kedaulatan Meksiko.
Potensi serangan di Meksiko akan memperluas apa yang disebut pemerintahan Trump sebagai kampanye melawan perdagangan narkotika di Amerika Tengah dan Selatan.
Trump menyebut Presiden Kolombia Gustavo Petro dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro sebagai "pemimpin narkoba" dan awal tahun ini mengirimkan armada angkatan laut ke Karibia barat dengan dalih memerangi penyelundupan narkoba.
Sejak September, pasukan AS telah menyerang 21 kapal yang diduga sebagai kapal penyelundup narkoba, menewaskan lebih dari 80 orang.
Berbicara kepada wartawan, Trump mengatakan ia akan "bangga" menyerang pabrik-pabrik kokain di Kolombia dan tidak akan mengesampingkan kemungkinan mengirim pasukan ke Venezuela untuk memerangi kartel narkoba.
Peningkatan kekuatan dan serangan AS mendorong Presiden Kolombia Petro, yang dikenai sanksi Washington bulan lalu, untuk mengecam Trump sebagai "orang barbar."
Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang membantah hubungannya dengan kartel narkoba, memperingatkan tindakan Trump dapat memicu "perang abadi" di kawasan tersebut.
Baca juga: Konflik Diplomatik Makin Panas, Jepang Peringatkan Warganya di China
Berbicara kepada wartawan pada hari Senin (17/11/2025), Trump ditanya apakah ia akan mempertimbangkan untuk menyerang Meksiko atau mengirim pasukan AS untuk memberantas penyelundupan narkoba. Ia menjawab bahwa ia "Oke".
"Apakah saya akan melancarkan serangan di Meksiko untuk menghentikan narkoba? Saya setuju, apa pun yang harus kami lakukan untuk menghentikan narkoba," tegas Trump.
Ia menolak mengatakan apakah ia akan meminta izin Meksiko tetapi mengklaim otoritas negara itu tahu "bagaimana pendirian saya."
"Kami tahu setiap rute, kami tahu alamat setiap gembong narkoba," ujar Trump. "Mereka membunuh rakyat kami. Itu seperti perang. Apakah saya akan melakukannya? Saya akan bangga melakukannya."
AS semakin menuduh Meksiko gagal mengekang jaringan penyelundupan narkoba, terutama yang menyelundupkan fentanil ke AS, dan menjatuhkan sanksi besar-besaran terhadap bank, perusahaan, dan individu Meksiko yang diduga terkait kartel pada awal tahun ini, beserta tarif 25% untuk impor Meksiko.
Meskipun Meksiko telah bekerja sama dengan Washington dalam kampanye antinarkoba, negara ini dengan tegas menolak kehadiran militer asing.
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum telah berulang kali mengatakan aksi militer AS di Meksiko tanpa persetujuannya tidak akan terjadi dan menolak usulan Trump untuk mengirim pasukan ke negara itu, dengan alasan hal itu akan melanggar kedaulatan Meksiko.
Potensi serangan di Meksiko akan memperluas apa yang disebut pemerintahan Trump sebagai kampanye melawan perdagangan narkotika di Amerika Tengah dan Selatan.
Trump menyebut Presiden Kolombia Gustavo Petro dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro sebagai "pemimpin narkoba" dan awal tahun ini mengirimkan armada angkatan laut ke Karibia barat dengan dalih memerangi penyelundupan narkoba.
Sejak September, pasukan AS telah menyerang 21 kapal yang diduga sebagai kapal penyelundup narkoba, menewaskan lebih dari 80 orang.
Berbicara kepada wartawan, Trump mengatakan ia akan "bangga" menyerang pabrik-pabrik kokain di Kolombia dan tidak akan mengesampingkan kemungkinan mengirim pasukan ke Venezuela untuk memerangi kartel narkoba.
Peningkatan kekuatan dan serangan AS mendorong Presiden Kolombia Petro, yang dikenai sanksi Washington bulan lalu, untuk mengecam Trump sebagai "orang barbar."
Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang membantah hubungannya dengan kartel narkoba, memperingatkan tindakan Trump dapat memicu "perang abadi" di kawasan tersebut.
Baca juga: Konflik Diplomatik Makin Panas, Jepang Peringatkan Warganya di China
(sya)
Lihat Juga :