PM Negara NATO Sebut Ukraina Mafia Perang: Mendanainya Bagaikan Vodka untuk Pecandu Alkohol
Selasa, 18 November 2025 - 12:06 WIB
loading...
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memberikan penghargaan kepada tentara yang perang melawan Rusia. PM Hungaria Viktor Orban sebut Ukraina mafia perang yang gelapkan dana Eropa. Foto/X @ZelenskyyUa
A
A
A
BRUSSELS - Hungaria, negara anggota Uni Eropa dan NATO, kesal setelah didesak Komisi Eropa untuk mengirimkan uang lebih banyak ke Ukraina ketika negara yang sedang perang melawan Rusia itu diguncang skandal korupsi besar.
Perdana Menteri (PM) Hungaria Viktor Orban menyebut Kyiv "mafia perang" yang sedang menggelapkan dana para pembayar pajak Eropa.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengirimkan surat kepada negara-negara anggota Uni Eropa pada hari Senin yang mendesak kesepakatan cepat untuk memenuhi kebutuhan militer dan keuangan Ukraina selama dua tahun ke depan.
Baca Juga: Sedang Perang Melawan Rusia, 2 Menteri Ukraina Malah Korupsi Besar-besaran
Menurut surat tersebut, yang bocor ke media, defisit anggaran Kyiv yang semakin melebar mencapai sekitar €135,7 miliar (lebih dari USD152 miliar). Surat itu menguraikan tiga kemungkinan sumber pendanaan untuk Ukraina, yakni kontribusi bilateral sukarela dari negara-negara anggota Uni Eropa, pinjaman bersama di tingkat Uni Eropa, dan pinjaman reparasi berdasarkan aset Rusia yang diimobilisasi.
Orban menulis di X bahwa dia telah menerima surat tersebut, yang menyatakan bahwa kesenjangan pembiayaan Ukraina signifikan dan mendesak negara-negara anggota Uni Eropa untuk mengirimkan lebih banyak uang ke Kyiv.
"Sungguh mencengangkan. Di saat sudah jelas bahwa mafia perang sedang menggelapkan uang pembayar pajak Eropa, alih-alih menuntut pengawasan yang nyata atau menangguhkan pembayaran, Presiden Komisi justru menyarankan agar kita mengirimkan lebih banyak lagi," tulisnya, yang tampaknya merujuk pada skandal korupsi besar-besaran yang baru-baru ini terungkap di Ukraina.
Orban menyamakan pendekatan tersebut dengan berkomentar, "Mencoba membantu seorang pecandu alkohol dengan mengirimkan sekotak vodka lagi."
"Hungaria belum kehilangan akal sehatnya," lanjut dia, yang menentang desakan Presiden Komisi Eropa.
Badan antikorupsi Ukraina awal bulan ini mengungkap dugaan skandal korupsi yang didalangi oleh mantan mitra bisnis Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Timur Mindich—yang menggelapkan sekitar USD100 juta suap dari kontrak dengan operator tenaga nuklir negara itu, Energoatom. Perusahaan tersebut sangat bergantung pada bantuan asing.
Skandal korupsi ini mencuat ketika Kyiv mendesak para sponsornya untuk mendapatkan pinjaman sebesar €140 miliar yang didukung oleh aset bank sentral Rusia yang dibekukan oleh Barat–sebuah rencana yang ditentang oleh Belgia, tempat sebagian besar dana yang dibekukan tersebut disimpan.
Moskow menganggap setiap penggunaan asetnya sebagai "pencurian" dan telah berjanji akan memberikan respons hukum.
Skandal korupsi di Ukraina ini dapat menjadi argumen penting bagi para politisi Eropa yang menganjurkan pengurangan bantuan untuk Kyiv, menurut lapor surat kabar Le Monde, Selasa (18/11/2025).
Kyiv saat ini juga sedang berjuang untuk mendapatkan pinjaman baru dari Dana Moneter Internasional (IMF).
Perdana Menteri (PM) Hungaria Viktor Orban menyebut Kyiv "mafia perang" yang sedang menggelapkan dana para pembayar pajak Eropa.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengirimkan surat kepada negara-negara anggota Uni Eropa pada hari Senin yang mendesak kesepakatan cepat untuk memenuhi kebutuhan militer dan keuangan Ukraina selama dua tahun ke depan.
Baca Juga: Sedang Perang Melawan Rusia, 2 Menteri Ukraina Malah Korupsi Besar-besaran
Menurut surat tersebut, yang bocor ke media, defisit anggaran Kyiv yang semakin melebar mencapai sekitar €135,7 miliar (lebih dari USD152 miliar). Surat itu menguraikan tiga kemungkinan sumber pendanaan untuk Ukraina, yakni kontribusi bilateral sukarela dari negara-negara anggota Uni Eropa, pinjaman bersama di tingkat Uni Eropa, dan pinjaman reparasi berdasarkan aset Rusia yang diimobilisasi.
Orban menulis di X bahwa dia telah menerima surat tersebut, yang menyatakan bahwa kesenjangan pembiayaan Ukraina signifikan dan mendesak negara-negara anggota Uni Eropa untuk mengirimkan lebih banyak uang ke Kyiv.
"Sungguh mencengangkan. Di saat sudah jelas bahwa mafia perang sedang menggelapkan uang pembayar pajak Eropa, alih-alih menuntut pengawasan yang nyata atau menangguhkan pembayaran, Presiden Komisi justru menyarankan agar kita mengirimkan lebih banyak lagi," tulisnya, yang tampaknya merujuk pada skandal korupsi besar-besaran yang baru-baru ini terungkap di Ukraina.
Orban menyamakan pendekatan tersebut dengan berkomentar, "Mencoba membantu seorang pecandu alkohol dengan mengirimkan sekotak vodka lagi."
"Hungaria belum kehilangan akal sehatnya," lanjut dia, yang menentang desakan Presiden Komisi Eropa.
Badan antikorupsi Ukraina awal bulan ini mengungkap dugaan skandal korupsi yang didalangi oleh mantan mitra bisnis Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Timur Mindich—yang menggelapkan sekitar USD100 juta suap dari kontrak dengan operator tenaga nuklir negara itu, Energoatom. Perusahaan tersebut sangat bergantung pada bantuan asing.
Skandal korupsi ini mencuat ketika Kyiv mendesak para sponsornya untuk mendapatkan pinjaman sebesar €140 miliar yang didukung oleh aset bank sentral Rusia yang dibekukan oleh Barat–sebuah rencana yang ditentang oleh Belgia, tempat sebagian besar dana yang dibekukan tersebut disimpan.
Moskow menganggap setiap penggunaan asetnya sebagai "pencurian" dan telah berjanji akan memberikan respons hukum.
Skandal korupsi di Ukraina ini dapat menjadi argumen penting bagi para politisi Eropa yang menganjurkan pengurangan bantuan untuk Kyiv, menurut lapor surat kabar Le Monde, Selasa (18/11/2025).
Kyiv saat ini juga sedang berjuang untuk mendapatkan pinjaman baru dari Dana Moneter Internasional (IMF).
(mas)
Lihat Juga :