AS Ingin Jual 48 Jet Tempur Siluman F-35 ke Arab Saudi, tapi Takut Teknologinya Direbut China
Jum'at, 14 November 2025 - 09:36 WIB
loading...
A
A
A
Pangeran Mohammed bin Salman dan para ajudannya juga telah mendesak Amerika Serikat untuk melanjutkan perundingan guna menyetujui bantuan bagi Arab Saudi untuk mengembangkan program nuklir sipil. Upaya ini telah mendorong para pejabat AS untuk membahas apakah kerajaan tersebut dapat menggunakan teknologi nuklir itu untuk mencoba mengembangkan senjata nuklir.
Pemerintahan Trump, seperti halnya pemerintahan Joe Biden, telah berupaya mendorong Arab Saudi untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. Namun, hal itu sepertinya tidak akan terjadi dalam waktu dekat, mengingat tingginya jumlah korban jiwa akibat perang Israel-Hamas di Gaza dan kebijakan sayap kanan pemerintah Israel terhadap Palestina.
Selain kekhawatiran atas jatuhnya teknologi F-35 ke tangan China, penjualan yang diusulkan juga menimbulkan pertanyaan tentang apakah pemerintah AS akan mengorbankan keunggulan militer regional Israel.
Israel adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki jet F-35, dan menggunakannya untuk serangan udara di Iran pada Oktober 2024 dan Juni 2025.
Sejak perang Arab-Israel 1973, para pembuat kebijakan AS telah berupaya memastikan bahwa Israel mempertahankan "keunggulan militer kualitatifnya" di kawasan tersebut. Pada pemerintahan sebelumnya, terdapat proses antarlembaga yang sangat rahasia dan berlangsung berbulan-bulan untuk meninjau apakah usulan penjualan senjata di kawasan tersebut akan konsisten dengan hal itu.
Kongres AS mengatakan Washington harus memastikan bahwa Israel dapat mengalahkan "setiap ancaman militer konvensional yang kredibel" sambil mengalami "kerusakan dan korban jiwa yang minimal."
Pada tahun 2020, pemerintahan Trump yang pertama setuju untuk menjual jet F-35 ke Uni Emirat Arab sebagai bagian dari kesepakatan untuk mendorong negara tersebut menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel dalam Perjanjian Abraham. Beberapa pejabat AS keberatan dengan penjualan tersebut karena kemitraan erat Uni Emirat Arab dengan China dan karena kekhawatiran bahwa keunggulan militer Israel akan melemah.
Pemerintahan Biden menangguhkan kesepakatan tersebut pada awal 2021 untuk meninjaunya kembali, terutama karena kekhawatiran China akan memperoleh teknologi F-35 jika jet-jet tersebut berada di Uni Emirat Arab.
Amerika Serikat kemudian memberikan daftar tuntutan kepada Uni Emirat Arab, termasuk memasang tombol pemutus (kill switch) pada jet-jet tersebut agar pemerintah AS dapat menonaktifkannya jika diperlukan. Para pejabat Emirat menganggap tuntutan tersebut terlalu berat, dan kesepakatan itu pun gagal.
Pemerintahan Trump, seperti halnya pemerintahan Joe Biden, telah berupaya mendorong Arab Saudi untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. Namun, hal itu sepertinya tidak akan terjadi dalam waktu dekat, mengingat tingginya jumlah korban jiwa akibat perang Israel-Hamas di Gaza dan kebijakan sayap kanan pemerintah Israel terhadap Palestina.
Selain kekhawatiran atas jatuhnya teknologi F-35 ke tangan China, penjualan yang diusulkan juga menimbulkan pertanyaan tentang apakah pemerintah AS akan mengorbankan keunggulan militer regional Israel.
Israel adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki jet F-35, dan menggunakannya untuk serangan udara di Iran pada Oktober 2024 dan Juni 2025.
Sejak perang Arab-Israel 1973, para pembuat kebijakan AS telah berupaya memastikan bahwa Israel mempertahankan "keunggulan militer kualitatifnya" di kawasan tersebut. Pada pemerintahan sebelumnya, terdapat proses antarlembaga yang sangat rahasia dan berlangsung berbulan-bulan untuk meninjau apakah usulan penjualan senjata di kawasan tersebut akan konsisten dengan hal itu.
Kongres AS mengatakan Washington harus memastikan bahwa Israel dapat mengalahkan "setiap ancaman militer konvensional yang kredibel" sambil mengalami "kerusakan dan korban jiwa yang minimal."
Pada tahun 2020, pemerintahan Trump yang pertama setuju untuk menjual jet F-35 ke Uni Emirat Arab sebagai bagian dari kesepakatan untuk mendorong negara tersebut menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel dalam Perjanjian Abraham. Beberapa pejabat AS keberatan dengan penjualan tersebut karena kemitraan erat Uni Emirat Arab dengan China dan karena kekhawatiran bahwa keunggulan militer Israel akan melemah.
Pemerintahan Biden menangguhkan kesepakatan tersebut pada awal 2021 untuk meninjaunya kembali, terutama karena kekhawatiran China akan memperoleh teknologi F-35 jika jet-jet tersebut berada di Uni Emirat Arab.
Amerika Serikat kemudian memberikan daftar tuntutan kepada Uni Emirat Arab, termasuk memasang tombol pemutus (kill switch) pada jet-jet tersebut agar pemerintah AS dapat menonaktifkannya jika diperlukan. Para pejabat Emirat menganggap tuntutan tersebut terlalu berat, dan kesepakatan itu pun gagal.
Lihat Juga :