Negara Mayoritas Muslim Ini Gabung Perjanjian Abraham, Normalisasi dengan Israel
Jum'at, 07 November 2025 - 08:44 WIB
loading...
Kazakhstan, negara mayoritas Muslim non-Arab, bergabung dalam perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel yang dikenal sebagai Perjanjian Abraham. Foto/Sydney Morning Herald
A
A
A
ASTANA - Kazakhstan, negara mayoritas Muslim non-Arab, mengumumkan bahwa pihaknya bergabung dalam perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel yang dikenal sebagai Perjanjian Abraham atau Abraham Accords. Anehnya, Kazakhstan dan Israel sebenarnya sudah menjalin hubungan diplomatik sejak 1992 dan bertahan hingga saat ini.
"Keikutsertaan kami yang akan datang dalam Perjanjian Abraham merupakan kelanjutan yang wajar dan logis dari kebijakan luar negeri Kazakhstan yang didasarkan pada dialog, saling menghormati, dan stabilitas regional," kata pemerintah Kazakshatan, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Jumat (7/11/2025).
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga mengungkap bahwa Kazakhstan akan bergabung dengan Perjanjian Abraham, jadi negara pertama di masa jabatan kedua Trump yang melakukannya. "Sebuah langkah besar menuju perdamaian," ujar Trump di Truth Social.
Baca Juga: Israel Tetapkan Perbatasan Mesir sebagai Zona Tertutup, Ancam Tembak Siapa Pun
Trump mengatakan dia telah melakukan panggilan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev untuk membahas perjanjian tersebut.
Dia menyebut Perjanjian Abraham sebagai bagian dari upayanya yang lebih luas untuk memperluas hubungan diplomatik antara Israel dan negara-negara mayoritas Muslim.
Perjanjian Abraham, yang dimediasi selama masa jabatan pertama Trump, menormalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab dan Bahrain. Trump mengatakan upacara penandatanganan resmi dengan Kazakhstan akan segera berlangsung dan lebih banyak negara yang berbaris untuk bergabung dengan Perjanjian Abraham.
Sebelumnya, utusan khusus Trump; Steve Witkoff, mengatakan sebuah negara baru akan secara resmi bergabung dalam kesepakatan normalisasi dengan Israel yang secara kolektif dikenal sebagai Perjanjian Abraham.
Witkoff menolak menyebutkan negara mana yang akan bergabung, tetapi mengatakan pengumuman tersebut akan dilakukan pada Kamis malam di sebuah acara yang akan dia hadiri di Washington.
"Saya akan terbang kembali ke Washington malam ini karena kami akan mengumumkan malam ini, satu negara lagi yang akan bergabung dalam Perjanjian Abraham," kata Witkoff dalam sebuah forum bisnis di Miami, Florida.
Trump dijadwalkan akan menjamu para pemimpin lima negara Asia Tengah—Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Kirgistan—di Gedung Putih pada Kamis malam.
Situs web berita AS, Axios, juga melaporkan bahwa negara yang akan bergabung dalam Perjanjian Abraham adalah Kazakhstan, yang sudah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel sejak 1992.
Namun, seorang pejabat AS yang berbicara dalam kondisi anonim mengatakan kepada Axios bahwa masuknya negara tersebut secara resmi ke dalam Perjanjian Abraham dilakukan untuk menghidupkan kembali dorongan normalisasi.
"Ini akan menunjukkan bahwa Abraham Accords adalah klub yang diinginkan banyak negara untuk menjadi anggotanya dan ini akan menjadi langkah untuk membuka lembaran baru tentang perang di Gaza dan bergerak maju menuju perdamaian dan kerja sama yang lebih besar di kawasan tersebut," kata pejabat AS tersebut.
Laporan ini muncul di saat Israel menghadapi hubungan internasional yang telah rusak parah akibat perang dua tahun di Jalur Gaza, di mana hampir 70.000 warga Palestina telah tewas.
Banyak negara telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Tel Aviv atau secara sepihak mengakui Negara Palestina sebagai respons atas perang tersebut.
"Keikutsertaan kami yang akan datang dalam Perjanjian Abraham merupakan kelanjutan yang wajar dan logis dari kebijakan luar negeri Kazakhstan yang didasarkan pada dialog, saling menghormati, dan stabilitas regional," kata pemerintah Kazakshatan, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Jumat (7/11/2025).
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga mengungkap bahwa Kazakhstan akan bergabung dengan Perjanjian Abraham, jadi negara pertama di masa jabatan kedua Trump yang melakukannya. "Sebuah langkah besar menuju perdamaian," ujar Trump di Truth Social.
Baca Juga: Israel Tetapkan Perbatasan Mesir sebagai Zona Tertutup, Ancam Tembak Siapa Pun
Trump mengatakan dia telah melakukan panggilan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev untuk membahas perjanjian tersebut.
Dia menyebut Perjanjian Abraham sebagai bagian dari upayanya yang lebih luas untuk memperluas hubungan diplomatik antara Israel dan negara-negara mayoritas Muslim.
Perjanjian Abraham, yang dimediasi selama masa jabatan pertama Trump, menormalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab dan Bahrain. Trump mengatakan upacara penandatanganan resmi dengan Kazakhstan akan segera berlangsung dan lebih banyak negara yang berbaris untuk bergabung dengan Perjanjian Abraham.
Sebelumnya, utusan khusus Trump; Steve Witkoff, mengatakan sebuah negara baru akan secara resmi bergabung dalam kesepakatan normalisasi dengan Israel yang secara kolektif dikenal sebagai Perjanjian Abraham.
Witkoff menolak menyebutkan negara mana yang akan bergabung, tetapi mengatakan pengumuman tersebut akan dilakukan pada Kamis malam di sebuah acara yang akan dia hadiri di Washington.
"Saya akan terbang kembali ke Washington malam ini karena kami akan mengumumkan malam ini, satu negara lagi yang akan bergabung dalam Perjanjian Abraham," kata Witkoff dalam sebuah forum bisnis di Miami, Florida.
Trump dijadwalkan akan menjamu para pemimpin lima negara Asia Tengah—Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Kirgistan—di Gedung Putih pada Kamis malam.
Situs web berita AS, Axios, juga melaporkan bahwa negara yang akan bergabung dalam Perjanjian Abraham adalah Kazakhstan, yang sudah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel sejak 1992.
Namun, seorang pejabat AS yang berbicara dalam kondisi anonim mengatakan kepada Axios bahwa masuknya negara tersebut secara resmi ke dalam Perjanjian Abraham dilakukan untuk menghidupkan kembali dorongan normalisasi.
"Ini akan menunjukkan bahwa Abraham Accords adalah klub yang diinginkan banyak negara untuk menjadi anggotanya dan ini akan menjadi langkah untuk membuka lembaran baru tentang perang di Gaza dan bergerak maju menuju perdamaian dan kerja sama yang lebih besar di kawasan tersebut," kata pejabat AS tersebut.
Laporan ini muncul di saat Israel menghadapi hubungan internasional yang telah rusak parah akibat perang dua tahun di Jalur Gaza, di mana hampir 70.000 warga Palestina telah tewas.
Banyak negara telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Tel Aviv atau secara sepihak mengakui Negara Palestina sebagai respons atas perang tersebut.
(mas)
Lihat Juga :