Arsitek Perang Irak, Eks Wapres AS Dick Cheney Meninggal Dunia di Usia 84 Tahun
Selasa, 04 November 2025 - 19:38 WIB
loading...
Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Dick Cheney. Foto/anadolu
A
A
A
WASHINGTON - Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Dick Cheney, arsitek invasi Irak pada tahun 2003, telah meninggal dunia di usia 84 tahun. Kepergian politisi AS yang berpengaruh ini dikonfirmasi keluarganya dalam pernyataan yang dipublikasikan Selasa pagi (4/11/2024).
Cheney menjabat sebagai wakil presiden di bawah mantan Presiden AS George W. Bush antara tahun 2001 dan 2009.
Dick Cheney sering disebut sebagai arsitek utama Perang Irak 2003, terutama karena peran dominannya dalam pemerintahan Presiden George W. Bush.
Sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat (2001–2009), Cheney memiliki pengaruh yang luar biasa besar terhadap kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS, melebihi kebanyakan wakil presiden dalam sejarah Amerika.
Latar belakangnya sebagai mantan Menteri Pertahanan di era George H. W. Bush (1989–1993) serta hubungan dekatnya dengan kompleks industri militer dan perusahaan minyak seperti Halliburton membuatnya memiliki pandangan yang sangat strategis terhadap Timur Tengah, khususnya Irak yang kaya minyak dan dipimpin Saddam Hussein yang dianggap ancaman bagi kepentingan Amerika.
Cheney meyakini bahwa menggulingkan Saddam Hussein akan memperkuat dominasi Amerika di kawasan Timur Tengah, membuka akses terhadap sumber daya minyak, serta memberikan sinyal kuat terhadap negara-negara lain seperti Iran dan Korea Utara.
Ia juga berperan besar dalam menyusun argumen bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal (WMD), meskipun kemudian terbukti tidak benar.
Cheney bersama Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld dan kelompok neokonservatif di Washington membentuk semacam “pemerintahan dalam pemerintahan” yang mendorong invasi, sering kali meminggirkan pandangan skeptis dari CIA, Departemen Luar Negeri, dan komunitas intelijen lain.
Dalam praktiknya, Cheney mendorong kebijakan preemptive war— perang yang dilancarkan untuk mencegah ancaman sebelum benar-benar muncul — dan menekankan pentingnya mengganti rezim yang dianggap berpotensi membahayakan keamanan Amerika.
Setelah invasi dimulai pada Maret 2003, kekacauan, kekerasan sektarian, dan kehancuran sosial di Irak menimbulkan kritik luas terhadap peran Cheney.
Banyak pengamat menilai Cheney bukan hanya mendorong perang berdasarkan informasi yang menyesatkan, tetapi juga gagal mempersiapkan strategi pascaperang yang realistis.
Karena itulah, dalam sejarah politik modern, Dick Cheney sering disebut sebagai otak atau arsitek di balik perang Irak — tokoh yang memegang kendali besar dalam keputusan paling kontroversial Amerika Serikat pada awal abad ke-21.
Baca juga: 200 Pejuang Hamas di Belakang Garis Kuning Gaza, Bagaimana Nasib Mereka Nanti?
Cheney menjabat sebagai wakil presiden di bawah mantan Presiden AS George W. Bush antara tahun 2001 dan 2009.
Dick Cheney sering disebut sebagai arsitek utama Perang Irak 2003, terutama karena peran dominannya dalam pemerintahan Presiden George W. Bush.
Sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat (2001–2009), Cheney memiliki pengaruh yang luar biasa besar terhadap kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS, melebihi kebanyakan wakil presiden dalam sejarah Amerika.
Latar belakangnya sebagai mantan Menteri Pertahanan di era George H. W. Bush (1989–1993) serta hubungan dekatnya dengan kompleks industri militer dan perusahaan minyak seperti Halliburton membuatnya memiliki pandangan yang sangat strategis terhadap Timur Tengah, khususnya Irak yang kaya minyak dan dipimpin Saddam Hussein yang dianggap ancaman bagi kepentingan Amerika.
Cheney meyakini bahwa menggulingkan Saddam Hussein akan memperkuat dominasi Amerika di kawasan Timur Tengah, membuka akses terhadap sumber daya minyak, serta memberikan sinyal kuat terhadap negara-negara lain seperti Iran dan Korea Utara.
Ia juga berperan besar dalam menyusun argumen bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal (WMD), meskipun kemudian terbukti tidak benar.
Cheney bersama Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld dan kelompok neokonservatif di Washington membentuk semacam “pemerintahan dalam pemerintahan” yang mendorong invasi, sering kali meminggirkan pandangan skeptis dari CIA, Departemen Luar Negeri, dan komunitas intelijen lain.
Dalam praktiknya, Cheney mendorong kebijakan preemptive war— perang yang dilancarkan untuk mencegah ancaman sebelum benar-benar muncul — dan menekankan pentingnya mengganti rezim yang dianggap berpotensi membahayakan keamanan Amerika.
Setelah invasi dimulai pada Maret 2003, kekacauan, kekerasan sektarian, dan kehancuran sosial di Irak menimbulkan kritik luas terhadap peran Cheney.
Banyak pengamat menilai Cheney bukan hanya mendorong perang berdasarkan informasi yang menyesatkan, tetapi juga gagal mempersiapkan strategi pascaperang yang realistis.
Karena itulah, dalam sejarah politik modern, Dick Cheney sering disebut sebagai otak atau arsitek di balik perang Irak — tokoh yang memegang kendali besar dalam keputusan paling kontroversial Amerika Serikat pada awal abad ke-21.
Baca juga: 200 Pejuang Hamas di Belakang Garis Kuning Gaza, Bagaimana Nasib Mereka Nanti?
(sya)
Lihat Juga :