Trump Merespons Uji Rudal Nuklir Burevestnik Rusia: Putin Harusnya Akhiri Perang, Bukan Tes Misil
Selasa, 28 Oktober 2025 - 10:06 WIB
loading...
A
A
A
Kepala Staf Umum Rusia, Jenderal Valery Gerasimov, memberi tahu Putin bahwa uji coba telah berlangsung pada hari Selasa, dengan rudal tersebut terbang sekitar 8.700 mil (14.000 km) selama 15 jam.
Sergei Ryabkov, seorang ajudan dekat Putin, mengatakan kepada media Rusia bahwa Moskow telah memberi tahu AS sebelumnya tentang rencana uji coba rudal tersebut.
Putin pertama kali memperkenalkan Burevestnik yang dia klaim "tak terkalahkan" pada tahun 2018. Menurutnya, rudal tersebut memiliki jangkauan yang hampir tak terbatas dan dapat menghindari sistem pertahanan rudal AS.
"Tidak ada yang mau mendengarkan kami. Jadi dengarkan sekarang," katanya saat itu.
Sistem rudal nuklir ini menjadi berita utama media-media internasional pada tahun 2019 setelah uji coba yang gagal di Arktik menyebabkan ledakan yang menewaskan sedikitnya lima ilmuwan Rusia.
Terlepas dari klaim Putin, para pakar telah meragukan klaim bahwa rudal tersebut tak terkalahkan.
"Rudal jelajah bertenaga nuklir Rusia, Burevestnik, bukannya tak terkalahkan...Pesawat NATO bisa mencegatnya," tulis Jeffrey Lewis, pakar nonproliferasi nuklir di Middlebury Institute, Monterey, California, di X.
"Masalahnya, Burevestnik merupakan langkah lain dalam perlombaan senjata yang tidak menawarkan kemenangan bagi kedua belah pihak," ujarnya.
Meskipun Moskow dan Washington berulang kali menyatakan keinginan untuk menghentikan perlombaan senjata, hanya sedikit kemajuan yang dicapai. Kremlin baru-baru ini mengkritik upaya Trump untuk mengembangkan perisai rudal—yang dikenal sebagai Golden Dome—yang diklaimnya akan membuat AS kebal terhadap serangan musuh.
November lalu, Moskow menurunkan ambang batas penggunaan senjata nuklir, sebuah langkah yang secara luas dianggap menandakan kesiapannya untuk merespons secara agresif terhadap ancaman yang dirasakan.
Sergei Ryabkov, seorang ajudan dekat Putin, mengatakan kepada media Rusia bahwa Moskow telah memberi tahu AS sebelumnya tentang rencana uji coba rudal tersebut.
Putin pertama kali memperkenalkan Burevestnik yang dia klaim "tak terkalahkan" pada tahun 2018. Menurutnya, rudal tersebut memiliki jangkauan yang hampir tak terbatas dan dapat menghindari sistem pertahanan rudal AS.
"Tidak ada yang mau mendengarkan kami. Jadi dengarkan sekarang," katanya saat itu.
Sistem rudal nuklir ini menjadi berita utama media-media internasional pada tahun 2019 setelah uji coba yang gagal di Arktik menyebabkan ledakan yang menewaskan sedikitnya lima ilmuwan Rusia.
Terlepas dari klaim Putin, para pakar telah meragukan klaim bahwa rudal tersebut tak terkalahkan.
"Rudal jelajah bertenaga nuklir Rusia, Burevestnik, bukannya tak terkalahkan...Pesawat NATO bisa mencegatnya," tulis Jeffrey Lewis, pakar nonproliferasi nuklir di Middlebury Institute, Monterey, California, di X.
"Masalahnya, Burevestnik merupakan langkah lain dalam perlombaan senjata yang tidak menawarkan kemenangan bagi kedua belah pihak," ujarnya.
Meskipun Moskow dan Washington berulang kali menyatakan keinginan untuk menghentikan perlombaan senjata, hanya sedikit kemajuan yang dicapai. Kremlin baru-baru ini mengkritik upaya Trump untuk mengembangkan perisai rudal—yang dikenal sebagai Golden Dome—yang diklaimnya akan membuat AS kebal terhadap serangan musuh.
November lalu, Moskow menurunkan ambang batas penggunaan senjata nuklir, sebuah langkah yang secara luas dianggap menandakan kesiapannya untuk merespons secara agresif terhadap ancaman yang dirasakan.
Lihat Juga :