Ketegangan Memanas, Kapal Perang AS Sudah Tiba di Dekat Venezuela
Senin, 27 Oktober 2025 - 07:15 WIB
loading...
Kapal perang AS, USS Gravely, dilaporkan sudah tiba di dekat Venezuela ketika ketegangan kedua negara terus memanas. Foto/US Navy
A
A
A
CARACAS - Sebuah kapal perang Amerika Serikat (AS) tiba di Trinidad dan Tobago pada hari Minggu untuk latihan gabungan di dekat pantai Venezuela. Kapal perang itu hadir ketika ketegangan antara Washington dan Caracas memanas, di mana Amerika terus meningkatkan tekanan terhadap para pengedar narkoba dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Kapal perang USS Gravely, yang kedatangannya diumumkan pada hari Kamis oleh pemerintah Trinidad, berlabuh di ibu kota, Port of Spain.
Kapal tersebut dijadwalkan akan tetap berada di negara Karibia kecil tersebut hingga hari Kamis, di mana kontingen Marinir AS akan melakukan latihan gabungan dengan pasukan pertahanan lokal.
Baca Juga: AS Kerahkan Kapal Induk Tercanggih, Dikhawatirkan Menginvasi Venezuela
Latihan-latihan tersebut merupakan bagian dari kampanye militer yang gencar dilancarkan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap organisasi-organisasi perdagangan narkoba di Amerika Latin, yang khususnya menyasar musuh bebuyutan Trump, Maduro.
Pasukan AS telah meledakkan setidaknya 10 kapal yang mereka klaim menyelundupkan narkotika, menewaskan sedikitnya 43 orang, dan Trump juga mengancam akan melakukan serangan darat terhadap kartel-kartel narkoba yang diduga berada di Venezuela.
Maduro, yang kemenangan pemilunya tahun lalu ditolak secara luas karena dianggap curang, menuduh Amerika Serikat "mengada-adakan perang" yang bertujuan untuk menggulingkannya.
Ketegangan meningkat tajam pada hari Jumat, ketika Pentagon memerintahkan pengerahan kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, ke wilayah tersebut.
Trump juga telah mengizinkan operasi CIA terhadap Venezuela.
Ketegangan ini telah menarik perhatian Gustavo Petro dari Kolombia, seorang kritikus tajam serangan Amerika yang dijatuhi sanksi oleh Washington pada hari Jumat karena diduga membiarkan perdagangan narkoba merajalela.
Washington menuduh Maduro dan Petro sebagai "narkoteroris", tanpa memberikan bukti apa pun atas tuduhan tersebut.
Pada bulan Agustus, Washington mengerahkan armada delapan kapal Angkatan Laut AS, 10 pesawat tempur F-35, dan sebuah kapal selam bertenaga nuklir ke wilayah tersebut untuk operasi antinarkoba—peningkatan kekuatan militer terbesar di wilayah tersebut sejak invasi AS ke Panama tahun 1989.
Di Trinidad dan Tobago, negara pulau kembar yang santai dengan 1,4 juta penduduk, beberapa orang menyambut baik dukungan pemerintah mereka terhadap kampanye militer AS, tetapi yang lain khawatir akan terjebak dalam konflik antara Washington dan Caracas.
“Jika terjadi sesuatu dengan Venezuela dan Amerika, kami sebagai orang-orang yang tinggal di pinggirannya...bisa saja mendapatkan cambukan kapan saja,” kata Daniel Holder (64), seorang Rastafarian yang mengenakan sorban putih, kepada AFP, Senin (27/10/2025).
“Saya menentang negara saya menjadi bagian dari ini,” tambahnya.
Victor Rojas, seorang tukang kayu berusia 38 tahun yang telah tinggal di Trinidad dan Tobago selama delapan tahun terakhir, mengatakan dia mengkhawatirkan keluarganya di kampung halaman.
"Venezuela tidak dalam posisi untuk menghadapi serangan saat ini," katanya, merujuk pada keruntuhan ekonomi negara itu di bawah Maduro.
Trinidad dan Tobago, yang bertindak sebagai pusat perdagangan narkoba Karibia, juga telah terjebak dalam kampanye serangan AS terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba.
Dua pria Trinidad tewas dalam serangan terhadap sebuah kapal yang berangkat dari Venezuela pada pertengahan Oktober, menurut keluarga mereka.
Ibu dari salah satu korban bersikeras bahwa putranya adalah seorang nelayan, bukan pengedar narkoba.
Pihak berwenang setempat belum mengonfirmasi kematian mereka.
Kapal perang USS Gravely, yang kedatangannya diumumkan pada hari Kamis oleh pemerintah Trinidad, berlabuh di ibu kota, Port of Spain.
Kapal tersebut dijadwalkan akan tetap berada di negara Karibia kecil tersebut hingga hari Kamis, di mana kontingen Marinir AS akan melakukan latihan gabungan dengan pasukan pertahanan lokal.
Baca Juga: AS Kerahkan Kapal Induk Tercanggih, Dikhawatirkan Menginvasi Venezuela
Latihan-latihan tersebut merupakan bagian dari kampanye militer yang gencar dilancarkan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap organisasi-organisasi perdagangan narkoba di Amerika Latin, yang khususnya menyasar musuh bebuyutan Trump, Maduro.
Pasukan AS telah meledakkan setidaknya 10 kapal yang mereka klaim menyelundupkan narkotika, menewaskan sedikitnya 43 orang, dan Trump juga mengancam akan melakukan serangan darat terhadap kartel-kartel narkoba yang diduga berada di Venezuela.
Maduro, yang kemenangan pemilunya tahun lalu ditolak secara luas karena dianggap curang, menuduh Amerika Serikat "mengada-adakan perang" yang bertujuan untuk menggulingkannya.
Ketegangan meningkat tajam pada hari Jumat, ketika Pentagon memerintahkan pengerahan kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, ke wilayah tersebut.
Trump juga telah mengizinkan operasi CIA terhadap Venezuela.
Ketegangan ini telah menarik perhatian Gustavo Petro dari Kolombia, seorang kritikus tajam serangan Amerika yang dijatuhi sanksi oleh Washington pada hari Jumat karena diduga membiarkan perdagangan narkoba merajalela.
Washington menuduh Maduro dan Petro sebagai "narkoteroris", tanpa memberikan bukti apa pun atas tuduhan tersebut.
Pada bulan Agustus, Washington mengerahkan armada delapan kapal Angkatan Laut AS, 10 pesawat tempur F-35, dan sebuah kapal selam bertenaga nuklir ke wilayah tersebut untuk operasi antinarkoba—peningkatan kekuatan militer terbesar di wilayah tersebut sejak invasi AS ke Panama tahun 1989.
Di Trinidad dan Tobago, negara pulau kembar yang santai dengan 1,4 juta penduduk, beberapa orang menyambut baik dukungan pemerintah mereka terhadap kampanye militer AS, tetapi yang lain khawatir akan terjebak dalam konflik antara Washington dan Caracas.
“Jika terjadi sesuatu dengan Venezuela dan Amerika, kami sebagai orang-orang yang tinggal di pinggirannya...bisa saja mendapatkan cambukan kapan saja,” kata Daniel Holder (64), seorang Rastafarian yang mengenakan sorban putih, kepada AFP, Senin (27/10/2025).
“Saya menentang negara saya menjadi bagian dari ini,” tambahnya.
Victor Rojas, seorang tukang kayu berusia 38 tahun yang telah tinggal di Trinidad dan Tobago selama delapan tahun terakhir, mengatakan dia mengkhawatirkan keluarganya di kampung halaman.
"Venezuela tidak dalam posisi untuk menghadapi serangan saat ini," katanya, merujuk pada keruntuhan ekonomi negara itu di bawah Maduro.
Trinidad dan Tobago, yang bertindak sebagai pusat perdagangan narkoba Karibia, juga telah terjebak dalam kampanye serangan AS terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba.
Dua pria Trinidad tewas dalam serangan terhadap sebuah kapal yang berangkat dari Venezuela pada pertengahan Oktober, menurut keluarga mereka.
Ibu dari salah satu korban bersikeras bahwa putranya adalah seorang nelayan, bukan pengedar narkoba.
Pihak berwenang setempat belum mengonfirmasi kematian mereka.
(mas)
Lihat Juga :