Demo Anti-Trump Guncang Seluruh AS, Lampiaskan Protes Kemarahan 'No Kings'

Minggu, 19 Oktober 2025 - 09:43 WIB
loading...
Demo Anti-Trump Guncang...
Demonstran anti-Presiden Donald Trump turun ke jalan Manhattan, New York. Protes serupa juga terjadi di seluruh 50 negara AS untuk melampiaskan kemarahan No Kings. Foto/New York Times/Adam Gray
A A A
WASHINGTON - Massa demonstran dalam jumlah besar telah turun ke jalan-jalan di seluruh 50 negara bagian Amerika Serikat (AS) sejak Sabtu waktu setempat. Mereka melampiaskan kemarahan atas kebijakan garis keras Presiden Donald Trump dalam protes "No Kings".

Penyelenggara demonstrasi memperkirakan jutaan orang hadir dalam protes, yang membentang dari New York hingga Los Angeles, tersebar di kota-kota kecil di jantung Amerika dan muncul di dekat rumah kedua Trump di Florida.

“Beginilah rupa demokrasi!” teriak ribuan orang di Washington dekat Gedung Capitol AS, tempat pemerintah federal ditutup selama minggu ketiga di tengah kebuntuan legislatif.

“Hei hei ho ho, Donald Trump harus pergi!” kata para pengunjuk rasa, banyak di antaranya membawa bendera Amerika—setidaknya satu di antaranya berkibar terbalik, sebuah sinyal bahaya.

Baca Juga: 2.500 Gerakan No Kings 2 Gelar Protes di AS, Ada Apa Gerangan?

Papan-papan warna-warni menyerukan kepada masyarakat untuk "melindungi demokrasi", sementara yang lain menuntut agar negara menghapuskan badan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) yang menjadi pusat tindakan keras anti-imigran pemerintah Trump.

Para demonstran mengecam apa yang mereka sebut sebagai taktik keras miliarder Partai Republik tersebut, termasuk serangan terhadap media, lawan politik, dan imigran ilegal.

"Saya tidak pernah menyangka akan hidup untuk melihat matinya negara saya sebagai negara demokrasi," ujar Colleen Hoffman, pensiunan berusia 69 tahun, kepada AFP sambil berjalan di sepanjang Broadway di New York.

"Kita berada dalam krisis—kekejaman rezim ini, otoritarianisme. Saya merasa tidak bisa berdiam diri di rumah dan tidak berbuat apa-apa."

Di Los Angeles, para pengunjuk rasa menerbangkan balon raksasa bergambar Trump yang mengenakan popok.

Sejauh ini, respons Trump terhadap demo besar tersebut masih bungkam. Namun, tim komunikasi politiknya mengunggah video yang dihasilkan AI di X, yang memperlihatkan presiden mengenakan pakaian kerajaan dan mahkota, melambai dari balkon.

“Mereka bilang mereka menyebut saya raja. Saya bukan raja,” katanya kepada acara Fox News Sunday Morning Futures.

Namun, para pendukungnya sedang dalam kondisi siap tempur, dengan Ketua DPR Mike Johnson mencemooh apa yang dia sebut sebagai “unjuk rasa benci Amerika”.

“Kalian akan menyatukan kaum Marxis, Sosialis, pendukung Antifa, kaum anarkis, dan sayap pro-Hamas dari Partai Demokrat sayap kiri,” katanya kepada para wartawan.

Para pengunjuk rasa merespons klaim itu dengan ejekan.

“Lihat sekeliling! Jika ini kebencian, maka seseorang harus kembali ke sekolah dasar," kata Paolo (63), saat kerumunan bersorak dan bernyanyi di sekelilingnya di Washington.

Yang lain mengisyaratkan polarisasi mendalam yang memecah belah politik Amerika. "Begini apa yang dikatakan kaum sayap kanan: Saya tidak peduli. Mereka membenci kami," kata Tony, seorang insinyur perangkat lunak berusia 34 tahun.

Di luar Amerika Serikat, gerakan "No Kings" mengorganisir berbagai acara di Kanada, dan protes kecil juga terjadi di Malaga, Spanyol, dan Malmö, Swedia.

Deirdre Schifeling dari American Civil Liberties Union mengatakan para pengunjuk rasa ingin menyampaikan bahwa "kita adalah negara yang setara".

"Kita adalah negara hukum yang berlaku untuk semua orang, negara hukum yang menjalankan proses hukum dan demokrasi. Kita tidak akan dibungkam," ujarnya kepada para wartawan, yang dilansir AFP, Minggu (19/10/2025) .

Leah Greenberg, salah satu pendiri Indivisible Project, mengecam upaya pemerintahan Trump untuk mengirim pasukan Garda Nasional ke kota-kota AS yang dipimpin Partai Demokrat, termasuk Los Angeles, Washington, Chicago, Portland, dan Memphis.

“Ini adalah strategi otoriter klasik: mengancam, mencemarkan nama baik, dan berbohong, menakut-nakuti orang agar tunduk,” kata Greenberg.

Paulo, dalam protes di Washington, mengatakan momen saat ini mengingatkannya pada masa kecilnya di bawah kediktatoran militer di Brasil.

“Saya merasakan sensasi deja vu yang luar biasa terkait langkah-langkah yang diambil dalam hal penegakan hukum, terkait kultus kepribadian,” katanya.

Berpidato di hadapan khalayak di luar Gedung Capitol AS, Senator progresif Bernie Sanders memperingatkan bahaya yang dihadapi demokrasi di bawah kepemimpinan Trump.

“Kita memiliki seorang presiden yang menginginkan kekuasaan yang semakin besar di tangannya sendiri dan di tangan rekan-rekan oligarkinya,” ujarnya. Penyebutan kata “oligarki” memicu sorak-sorai keras dari khalayak.

Isaac Harder (16) mengatakan dia mengkhawatirkan masa depan generasinya.

“Mereka menghancurkan demokrasi. Mereka menindak protes damai dan mengirim militer ke kota-kota Amerika. Mereka menangkap lawan politik dan mendeportasi orang tanpa proses hukum," ujarnya.

“Ini adalah lintasan fasis. Dan saya ingin melakukan apa pun untuk menghentikannya.”
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran: Sifat Dasar AS...
Iran: Sifat Dasar AS Adalah Mengingkari Janji!
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
AS Serang Iran 2 Hari...
AS Serang Iran 2 Hari Beruntun, Trump Umbar Ancaman Mengerikan
Timnas Iran Pulang Tanpa...
Timnas Iran Pulang Tanpa Kekalahan
Burkina Faso Putuskan...
Burkina Faso Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Prancis
Didemo atas Tuduhan...
Didemo atas Tuduhan Korupsi, Presiden Serbia Vucic Umumkan Akan Mundur
Rekomendasi
Afrika Selatan Tersingkir,...
Afrika Selatan Tersingkir, Kanada Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Kunjungi Lampung Tengah,...
Kunjungi Lampung Tengah, Jokowi Jajan Es Kopi dan Keripik Pisang di Sentra UMKM
KPK Berharap Tindakan...
KPK Berharap Tindakan Medis terhadap Gus Yaqut Segera Dilakukan
Berita Terkini
Inggris Sekarang Tanpa...
Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir Aktif, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia
Pesawat Jatuh di Prancis,...
Pesawat Jatuh di Prancis, 11 Orang Tewas
Iran: Sifat Dasar AS...
Iran: Sifat Dasar AS Adalah Mengingkari Janji!
5 Fakta Kim Jong-un...
5 Fakta Kim Jong-un Enggan Berbicara tentang Ibunya, Dijuluki Anak Haram dari Seorang Selir
Ancaman Nyata Zionis...
Ancaman Nyata Zionis Bukan Iran, Industri Militer Israel Berlomba Melawan Drone Hizbullah
3 Alasan Iran Serang...
3 Alasan Iran Serang Kuwait dan Bahrain, Ada Pergerakan Membantu Militer AS
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved