Pernah Terlibat Pembunuhan Ribuan Warga Irak dan Afghanistan, Hamas Tolak Tony Blair Berperan di Gaza

Minggu, 12 Oktober 2025 - 08:15 WIB
loading...
Pernah Terlibat Pembunuhan...
Mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Tony Blair. Foto/anadolu
A A A
GAZA - Hamas memperingatkan mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Tony Blair tidak akan diterima dalam peran apa pun dalam pemerintahan Gaza setelah dimulainya gencatan senjata di wilayah kantong tersebut.

Berbicara kepada Sky News, pejabat senior Hamas, Basem Naim, mengatakan ia menyambut baik keterlibatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam mengakhiri perang dua tahun tersebut.

Namun, ia mengatakan mantan perdana menteri Inggris tersebut tidak akan memiliki peran dalam pemerintahan Gaza, meskipun Trump sebelumnya telah mengumumkan dukungannya terhadap keterlibatan Blair.

"Sayangnya, ketika menyangkut Tony Blair, kami, warga Palestina, Arab, dan Muslim, dan mungkin orang lain di seluruh dunia, memiliki kenangan buruk tentangnya," ujar Naim.

Dia menjelaskan, "Kami masih dapat mengingat perannya dalam pembunuhan, yang menyebabkan ribuan atau jutaan kematian warga sipil tak berdosa di Afghanistan dan Irak."

Sebagai utusan resmi untuk Kuartet Timur Tengah (AS, Rusia, Uni Eropa, dan PBB) antara tahun 2007 dan 2015, Blair sebelumnya juga ditugaskan untuk berupaya mencapai solusi bagi masalah Palestina-Israel, sesuatu yang tidak dapat ia capai.

Bulan lalu, berbagai media melaporkan Blair sedang berdiskusi untuk memimpin otoritas transisi di Jalur Gaza sebagai bagian dari rencana pemerintahan pascaperang yang didukung AS.

Rencana tersebut akan membentuk otoritas transisi di Gaza hingga lima tahun, dengan mengecualikan Hamas dan Otoritas Palestina.

Berdasarkan proposal yang dilaporkan, otoritas tersebut akan memegang "otoritas politik dan hukum tertinggi" atas Gaza selama periode sementara.

Hamas telah menolak keterlibatan Blair dalam pemerintahan Gaza, dengan mengutip sebagian kegagalannya sebelumnya di wilayah tersebut.

Ribuan warga Palestina mulai kembali ke Gaza utara pada hari Jumat setelah gencatan senjata berlaku, menyusul persetujuan Israel dan Hamas atas kesepakatan untuk "mengakhiri perang" dan pertukaran tahanan.

Militer Israel mengatakan gencatan senjata resmi dimulai pukul 12 siang waktu setempat (9 pagi GMT) setelah penarikan pasukan Israel ke garis yang disepakati pada fase pertama selesai. Belum ada komentar langsung dari Hamas.

Pemerintah Israel meratifikasi perjanjian tersebut pada Jumat pagi, hanya beberapa jam setelah Hamas mengumumkan kesepakatan telah tercapai.

Siaran publik Israel, Kan, pada hari Kamis menerbitkan salinan bocoran fase pertama perjanjian yang ditandatangani di Mesir, yang menyatakan perang akan "segera berakhir" setelah disetujui oleh Israel.

Trump diperkirakan akan mengunjungi Mesir pada akhir pekan untuk menghadiri upacara penandatanganan resmi, yang dilanjutkan dengan kunjungan ke Israel pada hari Senin.

Pada hari Kamis, kepala negosiator Hamas, Khalil al-Hayya, mengonfirmasi gerakan Palestina tersebut juga telah menyetujui perjanjian untuk mengakhiri perang.

Ia menambahkan Amerika Serikat dan mediator lainnya telah memberikan jaminan bahwa penandatanganan kesepakatan tersebut akan berarti perang "telah berakhir tanpa batas waktu".

Namun, serangan udara, tembakan artileri, dan tembakan senjata api Israel dilaporkan terjadi di Kota Gaza dan Khan Younis pada Jumat pagi. Tidak ada korban luka yang dilaporkan.

Pasukan Israel juga melancarkan pengeboman di Gaza pada hari Kamis, setelah para mediator mengumumkan tercapainya kesepakatan, yang menewaskan delapan warga Palestina.

Baca juga: Pertempuran Sengit Pecah antara Pakistan dan Afghanistan
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kandidat Kuat PM Inggris...
Kandidat Kuat PM Inggris Andy Burnham Dinilai Tidak Berpihak ke Palestina
Trump Kecam Pemungutan...
Trump Kecam Pemungutan Suara Senat untuk Batasi Kewenangannya dalam Perang Iran
PBB Mulai Evakuasi 11.000...
PBB Mulai Evakuasi 11.000 Pelaut yang Terdampar di Selat Hormuz
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Israel Bunuh Jurnalis...
Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera dalam Serangan Udara di Gaza, Menuduhnya Milisi Hamas
Trump Klaim Tidak Ada...
Trump Klaim Tidak Ada Batasan pada Kekuasaannya
Gunduli Irak, Prancis...
Gunduli Irak, Prancis Segel Tiket 32 Besar Piala Dunia 2026
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri
Tok! Senat AS Sahkan...
Tok! Senat AS Sahkan Resolusi Hentikan Perang Lawan Iran
Rekomendasi
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Ketat! Hanya 17 Sekolah...
Ketat! Hanya 17 Sekolah dari Depok yang Lolos ke Babak Jakarta Liga Bintang Juara GTV
Di Tengah Popularitasnya,...
Di Tengah Popularitasnya, Arcelly Idol Ternyata Masih Bergantung pada Benda Ini
Berita Terkini
Pengaruh Wali Kota Muslim...
Pengaruh Wali Kota Muslim New York Ini Makin Kuat, Siapa yang Didukungnya Menang!
Menteri Zionis: AS Akan...
Menteri Zionis: AS Akan Segera Berada di Jalur Bentrokan dengan Israel
Rusia Klaim Senjata...
Rusia Klaim Senjata Nuklir Jadi Satu-satunya Jaminan pada Perang Global, Ini 3 Alasannya
Bill Gates Ngaku Jadi...
Bill Gates Ngaku Jadi Korban Epstein, tapi Fakta Berbicara Lain
10 Tahun Brexit, Mayoritas...
10 Tahun Brexit, Mayoritas Rakyat Inggris Menyesal!
Israel Intervensi Pilpres...
Israel Intervensi Pilpres Kolombia, Ini 4 Faktanya
Infografis
2 Alasan Hamas Sudah...
2 Alasan Hamas Sudah Memiliki Kendali Penuh di Gaza
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved