Rakyat Palestina Rayakan Gencatan Senjata Israel-Hamas di Gaza, tapi Juga Berduka
Jum'at, 10 Oktober 2025 - 06:50 WIB
loading...
A
A
A
Mousa, seorang dokter di Deir al-Balah di pusat Jalur Gaza, mengatakan: "Kami telah kehilangan banyak hal selama dua tahun perang. Jalur Gaza hancur. Masa sulit masih menanti kami, tetapi yang terpenting adalah kami berharap untuk tetap aman."
Dr Muhammad Rayan dari rumah sakit al-Aqsa mengatakan kepada BBC Arabic: "Jauh di lubuk hati, kami merasa bersyukur bahwa perang telah berakhir. Namun ketika kami mengingat rintihan, luka, dan kehilangan yang sangat besar, kami tidak bisa bersukacita."
"Kebahagiaan kami bercampur dengan rasa sakit," katanya.
Ketika berita tentang kemungkinan kesepakatan gencatan senjata tersiar akhir pekan lalu, Husam Zomlot, kepala misi Palestina di Inggris, mengatakan kepada BBC: "Hal terburuk dalam dua tahun terakhir adalah ketika Anda kehilangan orang-orang terkasih, kerabat, teman, tetangga, Anda tidak mampu membiarkan diri berduka, atau merasakan kesedihan yang mendalam dan memproses perasaan kemanusiaan Anda."
"Karena fokus utama Anda adalah mencoba menghentikan apa yang sedang terjadi," paparnya.
Dia menambahkan: "Ketika rakyat dan keluarga kami terbunuh, perasaannya adalah: bagaimana Anda menghentikannya? Bagaimana Anda menguburkan korban tewas dan bagaimana Anda merawat korban luka?"
"Tetapi setelah peristiwa itu, yang saya harap akan segera terjadi, perasaan utamanya adalah duka, dukacita, dan rasa kehilangan yang sangat dalam. Karena apa yang telah kita hilangkan sangatlah besar," lanjut dia.
Dr Muhammad Rayan dari rumah sakit al-Aqsa mengatakan kepada BBC Arabic: "Jauh di lubuk hati, kami merasa bersyukur bahwa perang telah berakhir. Namun ketika kami mengingat rintihan, luka, dan kehilangan yang sangat besar, kami tidak bisa bersukacita."
"Kebahagiaan kami bercampur dengan rasa sakit," katanya.
Ketika berita tentang kemungkinan kesepakatan gencatan senjata tersiar akhir pekan lalu, Husam Zomlot, kepala misi Palestina di Inggris, mengatakan kepada BBC: "Hal terburuk dalam dua tahun terakhir adalah ketika Anda kehilangan orang-orang terkasih, kerabat, teman, tetangga, Anda tidak mampu membiarkan diri berduka, atau merasakan kesedihan yang mendalam dan memproses perasaan kemanusiaan Anda."
"Karena fokus utama Anda adalah mencoba menghentikan apa yang sedang terjadi," paparnya.
Dia menambahkan: "Ketika rakyat dan keluarga kami terbunuh, perasaannya adalah: bagaimana Anda menghentikannya? Bagaimana Anda menguburkan korban tewas dan bagaimana Anda merawat korban luka?"
"Tetapi setelah peristiwa itu, yang saya harap akan segera terjadi, perasaan utamanya adalah duka, dukacita, dan rasa kehilangan yang sangat dalam. Karena apa yang telah kita hilangkan sangatlah besar," lanjut dia.
(mas)
Lihat Juga :